Belanja bahan pokok dengan anggaran Rp 100.000 kini dirasakan semakin sulit mencukupi kebutuhan makan sehari-hari. Kenaikan harga sejumlah komoditas pangan membuat pengeluaran rumah tangga membengkak, terutama bagi keluarga dengan jumlah anggota lebih banyak dan kebutuhan konsumsi yang tinggi.
Maslah (51), warga yang ditemui di Pasar Bukit, Pamulang, Tangerang Selatan, menuturkan uang Rp 100.000 tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan makan keluarganya dalam sehari. Ia tinggal bersama empat anggota keluarga, termasuk dua anak laki-laki yang sudah dewasa dengan porsi makan yang besar.
Menurut Maslah, pengeluaran untuk beras saja sudah menyedot porsi besar. Ia menyebut konsumsi beras keluarganya sekitar 2 liter per hari yang bila dihitung dengan harga Rp 15.000 per liter menjadi sekitar Rp 30.000. Di luar itu, ia juga kerap membeli ayam karena menjadi lauk favorit anak-anaknya.
“Misalnya Rp 100.000 sehari, itu paling dapat beras 2 liter, Rp 30.000, ayam karena anak sukanya ayam, jadi belinya pun utuh Rp 45.000, belum bumbu-bumbunya. Jadi ya bisa lebih Rp 100.000, saya masak biasanya sehari dua kali,” ujarnya.
Maslah menambahkan, fluktuasi harga bahan pokok membuat pengeluaran makin tidak menentu. Ketika harga ayam atau telur naik, biaya belanja otomatis ikut terdorong karena kedua bahan tersebut sering menjadi menu utama di rumahnya.
Ia memperkirakan belanja kebutuhan makan keluarganya dalam sepekan bisa mencapai Rp 800.000 hingga Rp 1 juta, belum termasuk bila sesekali membeli makanan siap santap di luar rumah.
Keluhan serupa disampaikan Lia (29), ibu rumah tangga lainnya. Ia mengatakan Rp 100.000 bisa cukup untuk satu hari makan, namun dengan catatan beberapa kebutuhan utama sudah tersedia di rumah, seperti beras, minyak goreng, dan bumbu dapur.
Menurut Lia, belanja untuk beberapa hari bisa lebih hemat jika stok bahan dasar sudah ada. Namun, pengeluaran dapat melonjak bila harus membeli bumbu-bumbuan, bawang, dan cabai.
“Kalau Rp 100.000 itu bisa aja buat makan 2 hari tetapi nggak beli bawang-bawangan, itu mungkin bisa aja, tapi kalau harus beli bumbu atau bawang-bawang cabai cabaian itu belanja sehari aja Rp 100.000 atau lebih,” kata Lia.
Lia juga menyoroti komoditas cabai rawit yang sering mengalami kenaikan harga signifikan. Karena keluarganya menyukai makanan pedas, cabai tetap harus dibeli meski jumlah yang didapat berkurang saat harga naik.
Kenaikan biaya belanja rumah tangga ini sejalan dengan dinamika inflasi dalam beberapa bulan terakhir. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia pada April 2025 sebesar 1,17% secara bulanan (month-to-month), yang dipengaruhi antara lain oleh normalisasi tarif listrik, penurunan produksi cabai dan bawang merah, serta kenaikan harga emas dunia.
Pada Mei 2025, BPS mencatat deflasi 0,37% secara bulanan yang didorong penurunan harga komoditas hortikultura seperti cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah. Namun pada Juni 2025, inflasi kembali terjadi sebesar 0,19% secara bulanan, dengan indeks harga konsumen naik dari 108,07 pada Mei menjadi 108,27 pada Juni.
Dalam laporan BPS, beras menjadi komoditas dominan pendorong inflasi Juni 2025 dengan andil 0,04%. Komoditas lain yang turut memberi andil inflasi antara lain tarif angkutan udara (0,04%), cabai rawit (0,03%), serta bawang merah, tomat, dan emas perhiasan yang masing-masing menyumbang 0,02%.

