BERITA TERKINI
Bahan Dapur yang Disebut Dapat Membantu Menurunkan Kolesterol, dari Bawang Putih hingga Kunyit

Bahan Dapur yang Disebut Dapat Membantu Menurunkan Kolesterol, dari Bawang Putih hingga Kunyit

Kolesterol tinggi kerap dikaitkan dengan meningkatnya risiko gangguan kesehatan serius, termasuk penyakit jantung dan stroke. Kondisi ini sering dipengaruhi gaya hidup, seperti konsumsi makanan tinggi lemak jenuh, kurang asupan serat, serta minim aktivitas fisik. Di tengah upaya menjaga kesehatan, sejumlah bahan dapur disebut memiliki senyawa aktif yang berpotensi membantu menurunkan kolesterol, terutama kolesterol jahat (LDL), sekaligus menjaga keseimbangan lipid darah.

Sejumlah bumbu dan rempah yang umum digunakan untuk memasak dilaporkan mengandung antioksidan, antiinflamasi, dan fitokimia yang mendukung kesehatan jantung. Beberapa di antaranya juga telah lama digunakan dalam praktik pengobatan tradisional. Berikut rangkuman bahan-bahan dapur yang disebut memiliki efek terkait kolesterol, beserta cara pemanfaatannya dalam konsumsi harian.

Bawang putih disebut sebagai salah satu bahan alami yang kerap dikaitkan dengan upaya menurunkan LDL. Dalam artikel ini, bawang putih disebut sebagai “senjata alami penurun LDL” yang diklaim memiliki dukungan ilmiah.

Jahe dikenal sebagai rempah dengan efek farmakologis yang telah lama digunakan. Selain memberi sensasi hangat, jahe mengandung senyawa antioksidan dan antiinflamasi yang disebut berperan dalam membantu menurunkan kolesterol total dan trigliserida. Disebutkan pula sebuah studi pada 2018 terhadap 60 penderita hiperlipidemia yang melaporkan konsumsi 5 gram bubuk jahe per hari selama tiga bulan dapat menurunkan LDL sebesar 17,4 persen. Jahe dapat dikonsumsi sebagai teh maupun ditambahkan ke menu harian seperti sup, tumisan, hingga smoothie.

Kayu manis, yang berasal dari kulit dalam pohon Cinnamomum, disebut memiliki sifat antioksidan dan antimikroba. Dalam artikel rujukan, kayu manis dikaitkan dengan upaya mengurangi sumbatan pada sistem pembuluh darah sehingga membantu memperlancar aliran darah. Kayu manis juga disebut berpotensi membantu menurunkan gula darah dan meningkatkan sensitivitas insulin. Disebutkan pula temuan dari Journal of Clinical Lipidology bahwa konsumsi suplemen kayu manis secara rutin dapat menurunkan trigliserida dan kolesterol total secara signifikan tanpa mengganggu keseimbangan HDL dan LDL.

Kunyit mengandung kurkumin, senyawa aktif dengan sifat antiinflamasi dan antioksidan. Kurkumin disebut bekerja dengan cara mencegah oksidasi LDL, proses yang dapat memicu penumpukan plak di arteri dan meningkatkan risiko aterosklerosis. Rujukan artikel menyebut studi yang dimuat dalam jurnal Cleveland Clinic, yakni konsumsi kunyit 2,4 gram per hari selama empat minggu dilaporkan efektif menurunkan LDL dan protein C-reaktif sebagai penanda inflamasi. Kunyit dapat ditambahkan ke makanan seperti kari dan sup, atau dikonsumsi dalam minuman seperti golden milk. Kurkumin juga tersedia dalam bentuk suplemen.

Fenugreek (biji klabet) dan cabai rawit juga disebut berpotensi mendukung kesehatan jantung melalui mekanisme yang berbeda. Fenugreek dilaporkan tinggi serat dan dapat mengikat kolesterol di usus sehingga membantu mencegah penyerapannya ke dalam darah. Biji ini dapat digunakan sebagai bahan masak maupun diseduh menjadi teh herbal. Sementara itu, cabai rawit mengandung capsaicin yang disebut membantu meningkatkan sirkulasi darah dan berpotensi menurunkan LDL, meski dalam artikel rujukan disebut belum banyak studi yang secara langsung meneliti efek cabai rawit terhadap kolesterol. Kombinasi keduanya dalam pola makan disebut dapat memberikan manfaat penunjang, termasuk dukungan terhadap metabolisme dan sistem imun.

Meski sejumlah bahan dapur disebut memiliki potensi membantu menjaga profil lipid, penerapannya tetap perlu disertai pola makan seimbang dan gaya hidup aktif. Bagi orang dengan kondisi kesehatan tertentu atau yang sedang menjalani pengobatan, konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat dipertimbangkan sebelum mengonsumsi suplemen atau membuat perubahan signifikan pada pola konsumsi.