BERITA TERKINI
Anak Cemburu Saat Orangtua Berduaan: Ini Penjelasan Psikolog dan Cara Menyikapinya

Anak Cemburu Saat Orangtua Berduaan: Ini Penjelasan Psikolog dan Cara Menyikapinya

Rasa cemburu yang ditunjukkan anak kepada orangtuanya merupakan kondisi yang kerap terjadi. Situasi ini juga dialami Isthianti, ibu dua anak, yang menceritakan perilaku putra sulungnya saat melihat ia dan suami sedang berduaan.

Menurut Isthianti, anak pertamanya, Ario, kerap protes ketika ia dekat dengan suaminya. Mulai dari menolak saat orangtuanya tidur bersama, hingga marah ketika melihat keduanya bergandengan atau berpelukan. Ia pun mempertanyakan apakah kondisi tersebut termasuk wajar.

Psikolog pendidikan dan anak dari Rumah Dandelion, Agstried Elisabeth Piether, menjelaskan bahwa pada umumnya anak cemburu terhadap orangtua adalah hal yang wajar, terutama pada usia sekitar 2 hingga 3 tahun.

Agstried menerangkan, pada usia batita anak masih bersifat egosentris dan cenderung belum mampu berbagi. Hal ini terlihat juga dalam keseharian, misalnya saat anak sulit berbagi mainan ketika bermain. Dalam konteks keluarga, anak pun belum mudah memahami bahwa orangtuanya memiliki peran yang berbeda, seperti ibu yang sekaligus menjadi pasangan ayah.

Ia memberi contoh bahwa anak juga bisa cemburu ketika melihat ibunya dekat dengan orang lain di lingkungan kerja, seperti murid di sekolah. Menurutnya, ini merupakan hal yang biasa terjadi pada tahap perkembangan tersebut.

Seiring bertambahnya usia dan berkembangnya kemampuan kognitif, pemahaman anak tentang situasi sosial dan peran orang di sekitarnya akan semakin kompleks. Karena itu, perilaku cemburu biasanya berangsur berkurang dengan sendirinya.

Namun, Agstried mengingatkan bahwa perilaku ini perlu menjadi perhatian jika masih terjadi ketika anak memasuki usia lebih besar. Ia menilai kondisi menjadi tidak wajar ketika anak berusia sekitar 10 tahun masih menunjukkan kecemburuan yang kuat kepada salah satu orangtua, terlebih bila perilakunya mengarah pada tindakan destruktif.

Agstried membedakan kecemburuan yang perlu diwaspadai dengan favoritisme yang masih umum terjadi. Jika anak hanya merasa lebih nyaman bercerita kepada ibu atau ayah, hal itu masih tergolong wajar. Tetapi apabila anak sampai melarang ayah mendekati ibu, marah ketika orangtua berdekatan, atau tidak mengizinkan salah satu orangtua menyentuh pasangannya, situasinya dinilai bisa berisiko karena dapat mengganggu relasi keluarga secara keseluruhan.

Untuk menyikapi tanda-tanda kecemburuan, Agstried menyarankan orangtua menjelaskan sejak dini bahwa kasih sayang dalam keluarga terbagi untuk semua anggota. Orangtua dapat menegaskan bahwa ibu menyayangi ayah, anak, serta kakak dan adik, sambil menekankan bahwa mereka adalah satu keluarga.

Ia juga mengingatkan agar orangtua tidak merasa bangga ketika anak hanya memilih salah satu pihak. Menurutnya, yang perlu dibangun adalah rasa kebersamaan sebagai keluarga, sehingga semua anggota dapat menikmati hubungan yang utuh. Orangtua dapat memberi contoh cara berpikir yang lebih luas, misalnya dengan mengajak anak memahami bahwa seseorang bisa menyayangi lebih dari satu hal sekaligus.

Terkait anak usia sekolah yang masih menunjukkan kecemburuan serupa, Agstried mengatakan penyebabnya bisa beragam. Salah satunya dapat menjadi bentuk protes karena kebutuhan emosional anak tidak terpenuhi dengan baik. Faktor lain bisa berasal dari relasi dalam keluarga yang kurang sehat, misalnya ketika ibu tanpa sadar sering mencurahkan keluh kesah tentang ayah kepada anak, sehingga membentuk persepsi negatif anak terhadap ayah.

Agstried menekankan perilaku cemburu perlu diwaspadai ketika ikatan keluarga sudah tidak baik. Idealnya, hubungan anak dengan kedua orangtua sama-sama dekat. Karena itu, orangtua perlu melihat bagaimana kedekatan anak dengan ayah maupun ibu, serta memastikan bonding keluarga tetap terjaga.