BERITA TERKINI
Ali Maulana Rintis Brand Ayam Geprek “Gepreken” dengan Identitas Lokal di Madiun

Ali Maulana Rintis Brand Ayam Geprek “Gepreken” dengan Identitas Lokal di Madiun

Peluang usaha kuliner masih menjadi daya tarik bagi banyak pelaku bisnis. Di Kota Madiun, Ali Maulana mencoba peruntungan lewat brand ayam geprek bernama Gepreken. Meski baru berjalan kurang dari satu bulan, usaha tersebut mulai mendapat perhatian masyarakat.

Ali menceritakan, ide membuka usaha kuliner muncul dari keinginannya mencari tantangan baru. Sebelumnya, ia telah lebih dulu menjalankan usaha di bidang fashion. “Awalnya saya memang di bisnis fashion. Tapi saya ingin mencoba usaha baru supaya ada semangat lagi,” ujarnya.

Menurut Ali, ayam geprek dipilih karena dinilai memiliki pasar yang luas. Menu ini digemari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga mahasiswa. Ia juga menilai usaha ayam geprek relatif mudah dijalankan dan tidak membutuhkan modal besar. “Pasarnya luas. Anak-anak sampai orang dewasa semuanya suka ayam geprek, apalagi dengan sambal bawang. Kalau lewat online bahkan dengan modal sekitar satu juta rupiah sebenarnya sudah bisa mulai usaha ini,” katanya.

Nama Gepreken dipilih karena dianggap sederhana dan mudah diingat. Ali menilai nama tersebut dekat dengan bahasa sehari-hari masyarakat Jawa. Usaha ini juga mengusung slogan “Wani pedes, kene tak geprek atimu,” yang menggambarkan karakter brand yang berani dan penuh semangat. “Kalau nama yang mudah diingat itu lebih gampang untuk promosi. Kata ‘geprek’ juga sudah familiar bagi banyak orang,” ujarnya.

Di balik kesan sederhana, Ali mengaku proses merintis usaha tidak mudah. Ia bersama istrinya melakukan berbagai percobaan bumbu untuk menemukan resep yang tepat, bahkan menghabiskan puluhan kilogram ayam untuk uji coba rasa. Teman dan tetangga turut dilibatkan sebagai tester untuk memberi masukan. “Kita benar-benar mulai dari nol. Hampir 10 kilo ayam bahkan lebih habis hanya untuk eksperimen sampai menemukan rasa yang pas. Saya justru butuh kritik, bukan pujian. Kalau ada yang kurang ya diperbaiki lagi,” katanya.

Untuk penjualan, Ali menyebut kebutuhan bahan per hari kini mulai terbaca. Ia memperkirakan dalam sehari bisa menghabiskan sekitar 50 kilogram ayam dengan kebutuhan beras sekitar 20 kilogram. “Awalnya kita masih bingung harus menyiapkan berapa banyak. Tapi sekarang sudah mulai tahu kira-kira kebutuhan per hari,” ujarnya.

Saat ini Gepreken memiliki dua lokasi di Kota Madiun. Lokasi pertama berada di kawasan Jalan Pahlawan dan melayani pembelian untuk dibawa pulang. Lokasi kedua berada di Jalan Panglima Sudirman, tepatnya di sebelah timur Bank BCA, yang menyediakan tempat makan bagi pelanggan. Ali menekankan pemilihan lokasi sebagai faktor penting dalam usaha kuliner. “Kalau tempatnya strategis, promosi juga lebih mudah. Ibarat tanah yang subur, ditanam apa saja bisa tumbuh,” katanya.

Menu utama Gepreken adalah ayam geprek dengan harga mulai sekitar Rp10.000 per porsi, sudah termasuk nasi dan ayam. Selain itu, tersedia menu lain seperti ayam bakar, ayam saus, stik ayam, tahu crispy, serta jamur crispy. Ali menyebut harga yang terjangkau menjadi salah satu strategi agar menu dapat dijangkau berbagai kalangan, termasuk pelajar dan mahasiswa.

Ali juga mengakui tantangan usaha kuliner, terutama dalam mengatur stok bahan agar tidak terbuang. Pada awal beroperasi, ia sempat keliru memperkirakan jumlah produksi sehingga ada bahan yang tidak terpakai. Namun seiring waktu, ia mulai memahami pola permintaan pelanggan. “Di awal memang masih meraba-raba pasar. Tapi dari situ kita belajar memperkirakan kebutuhan harian,” ujarnya.

Ke depan, Ali berharap usahanya dapat berkembang lebih besar. Meski demikian, untuk saat ini ia memilih fokus memperkuat kualitas rasa dan pelayanan sebelum mempertimbangkan ekspansi. “Kita fokus dulu di rasa dan pelayanan. Kalau semuanya sudah benar-benar siap, baru mungkin ke depannya bisa membuka kemitraan. Semoga ke depan bisa membuka cabang lebih banyak, bahkan kalau memungkinkan bisa dikenal di seluruh Indonesia,” pungkasnya.