Ramadan identik dengan tradisi berburu takjil dan agenda buka puasa bersama (bukber). Di Indonesia, angkringan kerap menjadi pilihan untuk menikmati hidangan sederhana dalam suasana santai. Menariknya, Jepang juga memiliki konsep kuliner kaki lima yang dinilai serupa, yakni yatai.
Informasi mengenai kesamaan budaya kuliner tersebut disampaikan melalui unggahan Facebook Serat Pangan yang membahas kemiripan angkringan di Indonesia dengan yatai di Jepang.
Di Indonesia, angkringan dikenal sebagai tempat singgah favorit saat berbuka puasa. Menu yang ditawarkan umumnya sederhana, seperti nasi kucing, sate usus, aneka gorengan, hingga wedang hangat. Suasananya akrab dan tidak formal, sehingga cocok untuk berkumpul bersama teman atau keluarga.
Sementara itu, di Jepang terdapat yatai, warung kaki lima tradisional berbentuk gerobak kayu beroda yang biasanya beroperasi pada malam hari. Konsep ini disebut telah ada sejak zaman Edo dan bertahan sebagai bagian dari budaya kuliner setempat.
Menu di yatai umumnya berupa makanan hangat, seperti ramen, oden, gyoza, dan yakitori. Sajian berkuah dan hangat membuatnya banyak dinikmati pada malam hari, termasuk pada suasana Ramadan bagi komunitas Muslim di Jepang.
Yatai juga dikenal bukan sekadar tempat makan, melainkan ruang untuk berkumpul. Pengunjung bisa duduk berjejer sambil berbincang santai dengan teman maupun pemilik gerobak. Nuansa kebersamaan ini dinilai mirip dengan tradisi bukber di angkringan.
Meski jumlah yatai tradisional sempat menurun akibat regulasi yang ketat, beberapa kota tetap mempertahankannya sebagai daya tarik wisata kuliner malam. Salah satu kawasan yang dikenal luas adalah yatai di Fukuoka, yang hingga kini menjadi ikon wisata malam dan ramai dikunjungi.
Keberadaan yatai menunjukkan tradisi kuliner kaki lima tidak hanya ada di Indonesia. Setiap negara memiliki caranya sendiri dalam menghadirkan ruang kebersamaan melalui makanan sederhana.

