BERITA TERKINI
Warung Mama Kos Tawarkan Masakan Rumahan Terjangkau bagi Mahasiswa di Kupang

Warung Mama Kos Tawarkan Masakan Rumahan Terjangkau bagi Mahasiswa di Kupang

Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kuliner terus bertumbuh dan ikut mewarnai dinamika perekonomian Kota Kupang. Salah satu yang menarik perhatian mahasiswa adalah Warung Mama Kos, usaha kuliner rumahan yang didirikan Wikan Seda dan dikenal dengan menu ramah di kantong.

Dalam Obrolan Teras UMKM di RRI Pro 4 Kupang pada Rabu, 2 September 2026, Wikan menceritakan awal mula konsep Warung Mama Kos. Ia menyebut ide tersebut berangkat dari pengalamannya sebagai anak rantau yang merindukan masakan rumah. Lokasi usaha yang dekat kawasan kampus juga menjadi pertimbangan dalam menentukan nama dan konsep.

“Konsep yang mau dihadirkan itu makanan rumahan yang murah meriah tapi bikin kangen. Karena lokasinya di area kos-kosan dekat kampus, jadinya tercetus nama Warung Mama Kos supaya terasa lebih akrab dan dekat dengan mahasiswa,” ujar Wikan.

Usaha yang dirintis sejak 2024 itu kini memiliki dua cabang utama di Kota Kupang. Cabang Penfui berada di depan Pegadaian Pasar Penfui, dekat kampus STAKN dan STIKES. Sementara cabang Kayu Putih berlokasi di depan UCB, di pusat kawasan kos mahasiswa.

Wikan menjelaskan, Warung Mama Kos berawal dari menu sederhana seperti salome dan ayam geprek. Seiring waktu, pilihan menu berkembang menjadi variasi masakan rumahan yang disesuaikan dengan permintaan pelanggan. Tiga menu utama yang tersedia setiap hari adalah ayam, telur, dan ikan.

Untuk menjaga agar pelanggan tidak bosan, ia rutin memperbarui menu pelengkap, seperti olahan mi, kering tempe, serta aneka sayuran segar yang dibeli langsung dari pasar lokal. Warung Mama Kos juga menerapkan sistem masak segar untuk menjaga kualitas dan mengurangi potensi pemborosan makanan.

“Makanan selalu dibuat fresh setiap hari. Kalau di warung, kita masak secukupnya. Kalau mau habis, baru kita refill dan masak lagi supaya kualitas masakan tetap terjaga dan patut di harganya,” kata Wikan.

Dari sisi harga, Wikan menyebut menu standar dipatok di bawah Rp15.000 per porsi, sehingga menyasar kebutuhan makan mahasiswa. Namun, berjualan di sekitar kampus juga memiliki tantangan, terutama saat libur semester perkuliahan yang bisa berlangsung hingga 3–4 bulan.

Untuk menghadapi periode sepi, Wikan menerapkan strategi subsidi silang dan efisiensi pengelolaan keuangan. Keuntungan pada masa ramai disisihkan untuk menutup biaya operasional saat low season. Ia juga memfokuskan layanan pada pesanan katering serta penjualan daring.

Tantangan lain datang dari fluktuasi harga bahan pokok seperti cabai dan beras, serta kelangkaan gas dan minyak tanah. Wikan menyebut ia berupaya tetap fleksibel dalam operasional tanpa terburu-buru menaikkan harga jual.

Wikan juga mengungkapkan pernah mengelola hingga empat cabang, namun kemudian merampingkannya menjadi dua cabang agar kontrol kualitas dan pelayanan tetap optimal. Saat ini, ia memilih memaksimalkan peluang pesanan katering untuk acara kampus maupun kelompok masyarakat, yang kerap mencapai ratusan porsi.

Di akhir perbincangan, Wikan berpesan kepada pelaku UMKM dan generasi muda yang ingin memulai usaha agar tidak takut gagal dan terus belajar.

“Kadang kita takut gagal, tapi kalau belum mulai kita tidak akan pernah tahu kalau kita bisa berhasil. Terus semangat berinovasi, banyak belajar dari internet maupun sesama pelaku usaha, dan selalu optimis,” tutupnya.