Pelaku usaha kuliner Atika Musyafa membagikan pengalamannya membangun dan mempertahankan bisnis di tengah perubahan tren pasar. Hal itu ia sampaikan dalam Dialog UMKM yang digelar pada Sabtu, 19 September 2026.
Atika menuturkan, ia mulai menekuni bidang makanan dan minuman (Food and Beverage/F&B) sejak 2018. Sebelum mengembangkan usaha bakso dengan konsep prasmanan, ia sempat menjalankan sejumlah usaha kuliner lain, salah satunya seblak yang mampu bertahan hingga sekitar delapan tahun.
Menurut Atika, perubahan selera konsumen, terutama generasi muda, ikut memengaruhi arah pengembangan usahanya. Ia menilai, seiring waktu, minat generasi muda bergeser dari jajanan seperti seblak ke arah kafe. Kondisi itu mendorongnya mencari peluang kuliner yang dapat diterima berbagai kalangan dan memiliki keberlanjutan.
Ia kemudian memilih bakso sebagai produk utama karena dinilai sudah akrab dalam keseharian masyarakat. Produk tersebut dipadukan dengan sistem prasmanan dan mulai beroperasi pada Mei 2026. Atika menyebut, konsep itu menjadi upaya menghadirkan makanan yang dikenal luas dengan pola penyajian yang berbeda.
Dalam menjalankan usaha bakso, Atika mengungkapkan tantangan utama terletak pada konsistensi rasa dan tekstur. Ia menjelaskan, proses pengolahan daging, pemilihan bahan, hingga penggunaan es batu saat penggilingan berpengaruh terhadap hasil akhir produk.
Saat ini, usahanya memiliki outlet utama di kawasan Food Boulevard Royal Plaza Surabaya dan membuka lokasi kedua di BG Junction pada Agustus 2026. Selain penjualan di lokasi, usaha tersebut juga melayani kebutuhan kegiatan, seperti katering maupun booth mini, sebagai bagian dari pengembangan layanan.
Atika menjelaskan, produknya mencakup berbagai jenis bakso dan gorengan dengan kuah yang memiliki karakter gurih dan kental. Melalui sistem prasmanan, konsumen dapat memilih jenis makanan sesuai kebutuhan, dengan harga setiap item disesuaikan berdasarkan pilihan makanan.
Di tengah kenaikan biaya bahan baku, Atika mengingatkan pelaku UMKM pentingnya memiliki perencanaan usaha yang jelas, terutama ketika kenaikan harga jual tidak mudah dilakukan. Ia menekankan bahwa perencanaan diperlukan agar usaha tidak hanya berorientasi bertahan dalam jangka pendek, melainkan benar-benar dibangun sebagai bisnis yang berkelanjutan. Menurutnya, pengelolaan yang berkesinambungan juga berpotensi menciptakan lapangan kerja dan menjaga keberlangsungan usaha dalam jangka panjang.