Sejumlah warga memanfaatkan platform digital untuk menyiasati potensi lonjakan harga bahan pokok, termasuk bumbu dapur, menjelang Lebaran. Strategi ini dinilai membantu masyarakat memenuhi kebutuhan harian sekaligus mengelola pengeluaran rumah tangga.
Dalam program interaktif BEGAYA di RRI Pro 4 Sungailiat, pendengar membagikan pengalaman mereka menggunakan literasi digital untuk berbelanja lebih efisien. Selain pertimbangan harga, belanja daring juga disebut dapat memutus rantai distribusi yang panjang, terutama menjelang hari raya.
Sinta, pendengar dari Desa Beruas, mengaku memilih membeli bumbu langsung dari petani melalui aplikasi daring. Menurutnya, cara tersebut memungkinkan mendapatkan harga yang lebih kompetitif dibandingkan harga pasar ketika mendekati Lebaran.
“Dengan belanja online, bumbu dibeli tanpa banyak perantara, sehingga harganya jauh lebih murah. Triknya kita harus memesan dari jauh-jauh hari sebelum Lebaran agar sampai tepat waktu,” ujar Sinta, Kamis (26/2/2026).
Tren belanja bumbu secara daring turut dirasakan pelaku usaha di pasar konvensional. Herman, pedagang bumbu di pasar tradisional Sungailiat, mengakui adanya perubahan pola belanja konsumen, meski ia tetap optimistis pasar tradisional memiliki keunggulan tersendiri.
“Memang sekarang banyak yang lari ke online, tapi kami di pasar tradisional tetap menjaga kualitas. Kami pun sekarang mulai melayani pesanan lewat WhatsApp untuk memudahkan pelanggan tetap,” kata Herman.
Herman berharap masyarakat dapat berbelanja secara bijak, baik melalui platform daring maupun di pasar tradisional, agar perputaran ekonomi tetap berjalan sehat.

