Cuaca buruk yang melanda Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, dalam sepekan terakhir mengganggu aktivitas warga. Angin kencang disertai hujan dan gelombang tinggi membuat perjalanan laut terasa berisiko, meski kapal penumpang masih tetap beroperasi.
Di tengah kondisi tersebut, kekhawatiran warga bergeser tidak hanya pada ancaman bencana alam, tetapi juga pada potensi terganggunya pasokan bahan pangan yang dapat memicu kenaikan harga di pasar tradisional.
Ahmad, pedagang sembako, mengatakan ketersediaan stok sejauh ini masih aman selama cuaca mendukung pelayaran. Ia biasanya membawa barang dari Manado menggunakan kapal penumpang yang berlayar setiap hari, dengan pasokan dibeli langsung di Kota Manado.
Namun, Ahmad mengaku cemas bila cuaca memburuk dan kapal tidak dapat berlayar. Menurutnya, kondisi itu berisiko menahan distribusi barang sehingga harga berpotensi naik. “Biasanya begitu,” ujarnya.
Kekhawatiran serupa disampaikan Ruslan Abas, penjual bumbu dapur. Ia menilai harga bumbu berpeluang naik apabila cuaca buruk terus berlanjut. Ruslan menyebut stok bumbu yang ada di para penjual di Siau umumnya hanya cukup untuk sekitar satu minggu.
Ia menjelaskan, keterbatasan tempat penyimpanan dan modal membuat pedagang harus bergantung pada pasokan dari luar daerah secara rutin setiap pekan. Ketika cuaca buruk menghambat distribusi, stok akan cepat menipis.
“Harga akan naik jika stok kurang. Dan jika cuaca buruk terjadi secara menyeluruh di Sulut, dan berpengaruh hingga ke tingkat petani, maka harga beli di Kota Manado juga akan naik,” kata Ruslan.
Hingga kini, aktivitas ekonomi dan ketersediaan sembako di Sitaro masih sangat bergantung pada pasokan dari daerah lain. Ketergantungan ini membuat harga kebutuhan pokok rentan bergejolak, terutama ketika distribusi terganggu akibat cuaca buruk yang dapat membuat kapal pengangkut tidak berlayar.
Untuk menekan biaya operasional pedagang sekaligus menjaga stabilitas harga, Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Sitaro melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) meluncurkan program subsidi transportasi. Kepala Disperindag Sitaro, Budianto Mukau, mengatakan program ini difokuskan pada pengurangan biaya distribusi barang dari pelabuhan ke toko-toko.
“Saat ini pemerintah daerah sudah memiliki program subsidi transportasi yang bekerja sama dengan Perum DAMRI. Disiapkan dua unit truk untuk mengangkut barang dagangan dari atas kapal langsung ke toko-toko yang sebelumnya telah disurvei dan dinilai layak menerima bantuan,” ujar Budianto.
Ia menambahkan, selain dukungan transportasi darat, biaya buruh bagasi juga akan ditanggung Balai Pengelola Transportasi Darat Kelas II Sulawesi Utara di bawah Kementerian Perhubungan. Menurutnya, langkah ini diharapkan dapat memangkas biaya distribusi yang selama ini kerap menjadi salah satu pemicu kenaikan harga di tingkat konsumen.
Meski demikian, Rafles, warga Kecamatan Siau Barat, menilai kenaikan harga tetap sulit dihindari jika cuaca buruk membuat kapal tidak berlayar. Ia mendorong pemerintah daerah terus mencari terobosan agar persoalan utama, yaitu ketergantungan pasokan pangan dari luar daerah, dapat diatasi.
“Selama tidak ada solusi di akar masalah maka akan selamanya seperti ini,” ujarnya.
Dengan cuaca yang belum bersahabat, warga Sitaro kini menghadapi situasi yang menekan dari dua sisi: risiko cuaca ekstrem dan ancaman terganggunya pasokan pangan yang dapat berdampak langsung pada dapur rumah tangga.

