BERITA TERKINI
Warga Jepara Resah Isu Beras Premium Oplosan, Sejumlah Pembeli Mengaku Kualitas Nasi Berubah

Warga Jepara Resah Isu Beras Premium Oplosan, Sejumlah Pembeli Mengaku Kualitas Nasi Berubah

Warga Kabupaten Jepara mulai resah menyusul kabar maraknya peredaran beras merek premium oplosan yang disebut banyak ditemukan pemerintah. Isu tersebut menyebar luas melalui media sosial dan grup WhatsApp, memicu kekhawatiran terkait kualitas, keamanan pangan, serta kejujuran pedagang.

Endang Sugiarti, warga Desa Bawu, Kecamatan Batealit, mengaku merasakan perubahan pada beras yang biasa ia beli. Selama ini ia membeli beras merek Wilmar ukuran 25 kilogram seharga sekitar Rp 340 ribu. Namun, ia menilai rasa nasi dari beras tersebut kini menurun dibanding sebelumnya.

Endang mengatakan, ia terbiasa membeli beras dalam kemasan karung sehingga bisa merasakan perbedaan dari satu pembelian ke pembelian berikutnya. Menurutnya, pada pembelian awal nasi terasa pulen dan enak, tetapi pada pembelian berikutnya warna beras terlihat lebih pucat dan rasa nasi tidak seperti biasanya. Ia kemudian beralih ke merek lain, Raja Lele, dengan harga sekitar Rp 355 ribu per 25 kilogram, yang menurutnya lebih sesuai dengan rasa yang diinginkan.

Keluhan serupa disampaikan Ayu, warga Desa Ngasem, Kecamatan Batealit. Ia mengaku pernah rutin membeli beras premium produksi Wilmar seharga sekitar Rp 76 ribu per 5 kilogram. Meski nasi yang dihasilkan tetap pulen, ia menilai nasi menjadi cepat berair meskipun menggunakan rice cooker yang normal.

Merasa kurang puas, Ayu juga memutuskan berganti merek. Ia menyebut pergantian itu dilakukan sebelum kabar beras oplosan ramai diberitakan. Ayu menambahkan, ia memilih beras premium karena menilai beras dengan harga di bawah Rp 13 ribu per kilogram cenderung kurang enak.

Di sisi lain, pedagang beras di Pasar Jepara 1, Nura, mengaku belum mengetahui kabar beras oplosan. Ia mengatakan isu tersebut sejauh ini belum memengaruhi penjualan di kiosnya. Menurutnya, penjualan beras, baik jenis biasa maupun premium, masih berjalan normal dan harga juga relatif tetap.

Nura menyebut kisaran harga beras di kiosnya masih seperti biasa, sekitar Rp 73 ribu–Rp 76 ribu untuk kemasan 5 kilogram, serta Rp 345 ribu–Rp 376 ribu untuk kemasan 25 kilogram. Ia juga menyatakan penjualan beras hasil selepan atau penggilingan padi desa tetap stabil dengan harga yang lebih terjangkau.

Pedagang warung di Pasar Jepara 1, Meli, juga menyampaikan hal serupa. Ia mengatakan masih menjual beras premium merek Wilmar karena menilai kualitasnya masih baik, dengan tampilan beras putih dan bulir panjang. Meli mengaku mampu menjual sekitar 10–12 kilogram per hari dengan harga Rp 75 ribu–Rp 76 ribu per 5 kilogram.

Meli menambahkan, ia memilih menjual beras premium karena selisih harganya dengan beras biasa tidak terlalu jauh, sekitar Rp 3 ribu.