Bagi banyak anak laki-laki, sunat kerap menjadi momen yang memicu kecemasan. Bayangan jarum suntik, alat bedah, hingga ruang tindakan yang terasa asing membuat sebagian anak takut dan membutuhkan dukungan orang tua. Situasi seperti tangis dan ketegangan di ruang tunggu pun bukan hal yang jarang terjadi, sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi tenaga medis untuk menghadirkan pengalaman yang lebih tenang bagi anak.
Pengalaman masa kecil dr. Daphine Satria turut membentuk pendekatannya terhadap layanan sunat. Ia pernah mengalami rasa takut dan trauma akibat perdarahan hebat setelah disunat. Dari pengalaman tersebut, dr. Daphine menilai tindakan medis perlu disertai empati agar tidak meninggalkan dampak psikologis, sekaligus mendorongnya menghadirkan layanan sunat yang aman dan nyaman bagi anak maupun orang tua.
Tekad itu kemudian diwujudkan melalui Rusunda, singkatan dari Rumah Sunat dr. Daphine. Rusunda pertama kali berdiri di Karawang pada 2022 dan menjadi pusat pengembangan layanan. Seiring meningkatnya kepercayaan masyarakat, Rusunda memperluas jaringan ke sejumlah kota besar.
Pertengahan Desember lalu, Rusunda meresmikan cabang ke-18 di Pondok Indah. Cabang ini melengkapi jaringan Rusunda yang telah hadir di Jabodetabek, Bandung, hingga Surabaya.
“Kehadiran cabang baru ini menegaskan komitmen Rusunda untuk menghadirkan layanan sunat modern yang lebih dekat dengan keluarga Indonesia,” kata dr. Daphine Satria, CEO sekaligus Dokter Penanggung Jawab Rusunda, dalam siaran pers yang diterima SWA.co.id, Sabtu (27/12/2025).
Menurut dr. Daphine, setiap anak memiliki cara berbeda dalam menghadapi tindakan medis. Karena itu, Rusunda merancang layanan dengan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada aspek medis, tetapi juga psikologis.
Salah satu inovasi yang ditawarkan adalah metode “Pin Sealer”, yang disebut memungkinkan proses sunat tanpa suntikan bius. Setelah bius bekerja, digunakan cetakan khusus (moulding) yang presisi dan disesuaikan dengan anatomi anak untuk membantu menghasilkan hasil sunat yang rapi dan terkontrol. Pemotongan dilakukan menggunakan radiofrekuensi bersuhu rendah yang dapat memotong jaringan sekaligus menghentikan perdarahan dalam satu langkah. Tahap akhir dilakukan tanpa jahitan dengan lem medis khusus agar luka cepat kering dan pemulihan lebih nyaman.
Dengan metode tersebut, anak disebut tetap dapat beraktivitas ringan seperti sekolah, mandi, atau berjalan bersama keluarga, dengan catatan menghindari aktivitas berat.
Untuk pasien dengan kebutuhan khusus, Rusunda juga menghadirkan metode “Pin Laser BlueLight” yang menggunakan Laser Dioda 450 Nm. Teknologi ini diklaim menghasilkan luka sayatan yang sangat minimal sehingga pemulihan lebih cepat, risiko perdarahan lebih kecil, dan pengalaman sunat lebih nyaman. Pendekatan ini disebut ditujukan untuk memberi ketenangan bagi orang tua dan membantu anak menjalani sunat tanpa rasa takut berlebihan.
Dengan ekspansi jaringan dan pengembangan layanan, Rusunda menyatakan membawa visi “Pray and Prosperity”, ibadah dan kesejahteraan. Pembukaan cabang ke-18 di Pondok Indah menjadi salah satu tonggak dalam perjalanan Rusunda yang berangkat dari kepedulian, lalu berkembang melalui inovasi layanan.

