Buku Toko Jajanan Ajaib Zenitendo 5 melanjutkan kisah toko jajanan milik Nyonya Beniko, tokoh sentral dalam seri karya novelis Jepang Reiko Hiroshima. Seri ini kini telah mencapai lima volume dan mempertahankan tema utama tentang jajanan ajaib yang hanya bisa ditemukan oleh orang-orang “beruntung”. Dalam ulasan ini, buku tersebut mendapat rating 4,0.
Seri Toko Jajanan Ajaib Zenitendo disebut telah menjadi best seller di Jepang dan Korea. Kisahnya juga telah diadaptasi ke bentuk anime serta drama Korea. Pada volume kelima, pembaca diajak mengenal lebih banyak jenis jajanan Zenitendo, sekaligus menghadapi persoalan baru yang dinilai lebih serius dibanding volume sebelumnya.
Sinopsis volume ini berpusat pada kekacauan ketika jajanan Zenitendo tersebar secara misterius kepada orang-orang secara acak. Padahal, tidak semua orang seharusnya bisa menemukan Zenitendo. Kejadian itu menimbulkan pertanyaan besar: bagaimana ada pihak yang mampu mematahkan mantra Nyonya Beniko? Dalam upaya mencari penyebabnya, Nyonya Beniko turun tangan langsung, bahkan menutup Zenitendo sementara waktu demi menangkap pelaku. Cerita kemudian bergerak mengikuti upayanya mengungkap dalang di balik kekacauan tersebut.
Sejumlah jajanan yang muncul dalam buku ini antara lain Bros Baru, Masker Tampan, Jus Pidato, Cokelat Putri, Lencana Virtual, dan Pria Kegelapan. Kehadiran jajanan-jajanan itu menjadi pintu masuk bagi rangkaian cerita per bab, dengan konflik yang berbeda-beda.
Dari sisi penulis, Reiko Hiroshima dikenal sebagai novelis asal Jepang. Informasi mengenai sosoknya disebut masih terbatas, namun karyanya berhasil menarik perhatian pembaca di berbagai negara. Dalam data yang disertakan, Reiko Hiroshima lahir pada 18 Januari 1981 dan disebut telah menulis seri ini hingga lima volume.
Ulasan menyoroti beberapa kelebihan volume kelima. Di antaranya, hadirnya konflik baru yang memberi “kesegaran” pada seri, alur yang sederhana dan mudah dipahami, serta pembagian cerita per bab yang membantu pembaca mengikuti kisah tanpa kebingungan. Buku ini juga dinilai ringan untuk dibaca berbagai kalangan usia, dengan penggunaan bahasa sehari-hari yang tidak rumit.
Ilustrasi hitam-putih bergaya khas Jepang turut disebut sebagai nilai tambah. Gambar jajanan dan beberapa adegan dinilai membantu pembaca membayangkan cerita secara visual. Selain itu, buku ini disebut memuat nilai kehidupan dalam setiap cerita, sehingga tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga bahan renungan.
Adapun kekurangan yang dicatat dalam ulasan adalah minimnya elemen plot twist yang menegangkan. Menurut penilaian tersebut, kejutan yang lebih kuat berpotensi membuat dinamika cerita terasa lebih tajam dan sulit ditebak, sekaligus memberi pembeda dari volume-volume sebelumnya.
Volume kelima juga menekankan pesan moral tertentu. Salah satu contoh yang diangkat adalah kisah terkait jajanan “Jus Pidato”, ketika seorang anak berniat menjatuhkan temannya agar tidak bisa masuk sekolah dan tidak ikut lomba pidato, namun justru salah membeli jajanan sehingga temannya menjadi lancar berpidato. Dari situ, cerita menyampaikan pelajaran tentang kecenderungan fokus pada orang lain karena rasa iri atau takut tersaingi, padahal orang yang dituju belum tentu berniat buruk. Pesan yang ditekankan adalah pentingnya mengembangkan diri dan tidak terjebak pada kecemasan terhadap kelebihan orang lain.
Secara keseluruhan, Toko Jajanan Ajaib Zenitendo 5 digambarkan sebagai bacaan fantasi ringan dengan konflik baru yang mengusik ketenangan Nyonya Beniko, dilengkapi ilustrasi dan bahasa yang mudah diikuti. Meski tidak menonjolkan kejutan besar, buku ini tetap menawarkan rangkaian cerita yang membawa nilai kehidupan di balik jajanan-jajanan ajaib Zenitendo.

