Buku Toko Jajanan Ajaib Zenitendo 3 karya Reiko Hiroshima melanjutkan kisah toko jajanan ajaib Zenitendo yang dikenal lewat suguhan cerita fantasi ringan dengan pesan kehidupan. Dalam ulasan ini, buku tersebut mendapat rating 4 dari 5.
Seri Toko Jajanan Ajaib Zenitendo disebut sebagai best seller di Jepang dan Korea, serta telah diadaptasi menjadi anime dan drama Korea. Di Indonesia, seri pertama dan kedua diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia, sehingga pembaca dapat mengaksesnya dengan mudah.
Pada volume ketiga, cerita menghadirkan dinamika baru lewat kemunculan toko pesaing bernama Tatarimedo. Toko ini digambarkan menjual “jajanan jahat” dan berupaya merebut pelanggan Zenitendo. Meski demikian, Nyonya Beniko—pemilik Zenitendo—diceritakan tidak menganggap Tatarimedo sebagai saingan. Persaingan keduanya kemudian menjadi salah satu benang merah yang mewarnai volume ini.
Tatarimedo menarik orang-orang yang tengah berada dalam kesulitan dan keputusasaan. Namun, jajanan yang dijual tidak hanya memberi pertolongan, melainkan juga membawa dampak buruk. Pemilik Tatarimedo digambarkan menyerupai anak perempuan cantik berusia sekitar tujuh tahun yang mengenakan kimono hitam, dengan kesan aura gelap dan menakutkan, seolah menyimpan wujud lain di balik penampilannya.
Volume ketiga memuat enam cerita. Sejumlah jajanan yang muncul antara lain Wafer Pelahap Mimpi, Acar Plum Anti Keriput, Soda Mumi, Sticker Penjawab Telepon, Kerupuk Beras Permohonan, serta Onde-Onde Kakak Adik. Setiap cerita membawa pesan yang berbeda, yang ditujukan sebagai pelajaran bagi pembaca.
Reiko Hiroshima, penulis seri ini, merupakan novelis asal Jepang yang lahir pada 18 Januari 1981. Ia menulis empat volume Toko Jajanan Ajaib Zenitendo, dengan masing-masing volume disebut memiliki keunikan tersendiri. Karyanya dikenal luas, sejalan dengan popularitas seri yang berkembang di berbagai negara dan adaptasinya ke format lain.
Sejumlah kelebihan yang disorot dari Toko Jajanan Ajaib Zenitendo 3 antara lain alur yang sederhana dan mudah dinikmati, bahasa yang mudah dipahami, serta keberadaan ilustrasi yang membantu pembaca membayangkan toko, jajanan, dan tokoh-tokohnya. Keragaman latar belakang karakter dan penamaan jajanan yang unik juga dinilai menambah kesan magis dan misterius.
Ulasan ini juga menilai buku tersebut memuat nilai-nilai kehidupan yang dapat direnungkan. Misalnya, kisah Sticker Penjawab Telepon disebut mengingatkan bahwa melepaskan diri dari pergaulan yang buruk bisa terasa melegakan. Sementara cerita Acar Plum Anti Keriput dan Soda Mumi menekankan pesan agar tidak serakah dan tidak terjebak obsesi pada penampilan luar semata.
Adapun kekurangan yang dicatat adalah porsi pembahasan mengenai Tatarimedo yang dinilai masih terbatas. Tokoh dan latar belakang pesaing Zenitendo itu hanya disinggung sekilas, sehingga pembaca yang penasaran pada konflik baru tersebut berpotensi merasa kurang mendapatkan penjelasan.
Dari sisi pesan moral, volume ini menekankan bahwa hasil dari terkabulnya keinginan tidak selalu berakhir baik. Dampaknya bergantung pada niat dan cara pengguna memanfaatkan “keajaiban” yang diterima. Cerita juga menyoroti perbedaan cara kerja Zenitendo dan Tatarimedo: Zenitendo dikaitkan dengan keberuntungan, sedangkan Tatarimedo digambarkan beroperasi dengan keinginan jahat dan “bayaran” berupa hasrat jahat serta penyesalan. Pada akhirnya, pilihan pengguna menjadi penentu apakah sesuatu yang diterima berujung baik atau buruk.

