Media sosial diramaikan tren masyarakat yang menuang larutan eco enzyme ke jalan saat hujan turun. Aksi tersebut banyak beredar di berbagai platform, termasuk Instagram, dan kerap disebut sebagai bentuk “sedekah untuk bumi.”
Salah satu unggahan yang viral berasal dari akun @m*oy, menampilkan seorang perempuan menuang cairan keruh dari galon ke jalan di depan rumah ketika hujan deras. Dalam keterangan video, ia menulis, “Yuk, sedekah ke bumi, sedekah bukan cuma uang. Semoga bermanfaat untuk Bumi.”
Unggahan serupa juga dibagikan akun @vay**. Dalam videonya, terlihat seseorang menuangkan cairan dari wadah besar ke jalan, disertai tulisan, “Hujan deras turun saatnya berdonasi untuk bumi. 1 galon eco enzim untuk bumi yang besar.”
Tren ini memicu beragam respons warganet. Sebagian menilai aksi tersebut sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Namun, tidak sedikit yang mempertanyakan efektivitas dan keamanan praktik tersebut, terutama jika dilakukan tanpa pemahaman yang benar mengenai komposisi dan takaran.
Sejumlah komentar juga menyoroti kekhawatiran bahwa penggunaan eco enzyme yang tidak tepat justru berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan.
Merujuk keterangan di laman Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, eco enzyme merupakan cairan alami hasil fermentasi sampah organik, seperti sisa buah dan sayuran, yang dicampur gula dan air. Proses fermentasi umumnya berlangsung sekitar tiga bulan hingga menghasilkan cairan berwarna cokelat dengan aroma khas asam manis.

