BERITA TERKINI
Tren Diet 2026 Bergeser ke Pola yang Lebih Berkelanjutan, dari Metabolic Eating hingga Fiber Maxing

Tren Diet 2026 Bergeser ke Pola yang Lebih Berkelanjutan, dari Metabolic Eating hingga Fiber Maxing

Awal tahun kerap menjadi momentum bagi banyak orang untuk memulai gaya hidup yang lebih sehat, termasuk mengatur pola makan demi mencapai target kebugaran yang lebih realistis. Memasuki 2026, tren diet disebut mengalami pergeseran: fokusnya tidak lagi pada menahan lapar atau memangkas kalori secara ekstrem, melainkan pada ritme makan, kualitas nutrisi, serta kebiasaan yang dapat dijalankan dalam jangka panjang.

Berbagai laporan dan pendapat ahli gizi menyoroti sejumlah pendekatan yang diperkirakan menguat sepanjang 2026. Berikut rangkuman tren diet yang banyak dibicarakan.

1. Metabolic eating mulai naik daun

Intermittent fasting dan diet tinggi protein disebut mulai kehilangan pamor. Sejumlah ahli memprediksi pendekatan metabolic eating akan semakin populer. Konsep ini bukan diet ketat, melainkan cara makan yang menyesuaikan dengan ritme metabolisme tubuh.

Melanie Murphy Richter, registered dietitian nutritionist dari L-Nutra, Inc., menyebut konsumen kini semakin memahami bahwa makan sehat tidak hanya soal makronutrien. “Konsumen semakin memahami bahwa ini bukan hanya tentang makronutrien – tetapi juga tentang waktu konsumsi, kualitas nutrisi, dan hasil metabolisme,” ujarnya.

Pendekatan ini mendorong konsumsi makanan padat nutrisi, memperhatikan waktu makan sesuai jam biologis, serta mendukung kesehatan metabolisme jangka panjang. Ukurannya pun bukan semata angka timbangan, melainkan energi, usia biologis, dan performa tubuh sehari-hari. Tren ini juga didorong pemanfaatan teknologi, seperti continuous glucose monitoring dan tes biomarker, yang membuat orang lebih ingin memahami respons tubuh terhadap makanan tertentu.

2. “Fiber maxing” atau memaksimalkan asupan serat

Jika beberapa tahun terakhir protein menjadi sorotan, 2026 diprediksi menjadi “tahunnya serat”. Tren fiber maxing menganjurkan penambahan sumber serat di setiap waktu makan, seperti sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian, dan legumes.

The American Society for Nutrition mencatat hanya 7% orang dewasa di Amerika yang memenuhi kebutuhan serat harian. Padahal, serat berperan penting bagi kesehatan pencernaan, metabolisme, dan kontrol gula darah.

Priya Tew, dietitian dari Dietitian UK, menyebut serat sebagai “nutrisi yang selama ini diremehkan”. Ia menekankan peran serat sebagai prebiotik untuk bakteri baik usus, membantu menurunkan kolesterol jahat, serta menjaga kestabilan gula darah. Target ideal disebut sekitar 30 gram per hari, namun peningkatannya disarankan dilakukan bertahap agar tubuh dapat beradaptasi.

3. Pola makan terinspirasi obat GLP-1

Penggunaan obat penurun berat badan berbasis GLP-1 turut memengaruhi tren diet. GLP-1 (Glucagon-Like Peptide-1) merupakan hormon alami yang diproduksi di usus saat makan dan berfungsi mengatur gula darah, menekan nafsu makan, serta memperlambat pengosongan lambung sehingga rasa kenyang bertahan lebih lama.

Menurut Circana, 23% rumah tangga di Amerika sudah menggunakan obat GLP-1 dan angkanya diperkirakan meningkat. Dampaknya, muncul pola makan yang meniru efek tersebut secara alami: porsi lebih kecil, protein cukup, serta meminimalkan makanan ultra-proses.

Barbara Pires dari Henri’s Bakery and Deli menyebut restoran mulai menyesuaikan menu dengan porsi yang lebih kecil namun tetap kaya rasa dan nutrisi. Pola ini dinilai lebih realistis dan tidak terasa menyiksa.

4. Mini portions dan “snackification”

Masih terkait perubahan cara makan, tren mini portions dan snackification juga diperkirakan menguat. Banyak orang mengganti makan besar dengan porsi kecil atau camilan bergizi. Selain praktis, porsi mini disebut membantu orang lebih peka terhadap rasa kenyang.

Waitrose mencatat 57% pelanggannya kadang mengganti makan utama dengan snack. Namun, yang dicari bukan camilan sembarang, melainkan snack bernutrisi, tinggi serat, dan tetap mengenyangkan—terutama bagi mereka yang kesulitan makan dalam porsi besar tetapi ingin menjaga asupan tetap terkontrol.

5. Functional food dan minuman sehat

Tren berikutnya adalah meningkatnya minat pada functional food and drink, yakni makanan dan minuman yang dikaitkan dengan manfaat tambahan bagi tubuh. Contohnya snack tinggi serat, minuman probiotik, electrolyte powder, hingga mushroom coffee yang ramai dibicarakan di TikTok.

Ocado melaporkan pencarian “fibre snacks” naik lebih dari 2.500% dalam setahun. Ini dinilai mencerminkan meningkatnya perhatian terhadap fungsi makanan bagi tubuh, bukan hanya rasa. Minuman pun ikut berkembang, mulai dari soda probiotik hingga water kefir yang disebut berkaitan dengan pencernaan dan suasana hati.

6. Kembali ke sayur sederhana dan legum

Bahan makanan sederhana seperti kentang jaket, kol, dan kacang-kacangan disebut kembali diminati. Kentang dinilai sebagai sumber serat yang terjangkau dan mudah diolah, termasuk dengan bantuan air fryer. Sementara kol dan sayuran cruciferous lain dipuji karena dikaitkan dengan kesehatan usus dan pencegahan penyakit.

Lucy Jones dari Oviva bahkan menyebut 2026 sebagai “year of the bean”. Kacang-kacangan dinilai unggul karena tinggi serat, mengandung protein nabati, ramah lingkungan, dan relatif terjangkau. Konsumsi rutin juga disebut dapat menekan risiko penyakit kronis.

7. Low-lift nutrition: sehat tanpa ribet

Tren lain yang menguat adalah low-lift nutrition, yaitu pola makan sehat yang mudah diterapkan tanpa banyak aturan rumit. Pendekatan ini tidak menuntut superfood mahal atau pantangan ketat, melainkan menekankan makanan alami, seimbang, dan sesuai kebutuhan tubuh.

Jennifer Low, seorang dietitian, menekankan pentingnya kembali mendengarkan sinyal lapar dan kenyang tubuh, alih-alih terus bergantung pada aplikasi penghitung kalori. Ia menilai kebiasaan tersebut dapat mengurangi stres dan membangun hubungan yang lebih sehat dengan makanan.

8. Plant-based yang lebih alami

Pola makan berbasis nabati tetap diminati, namun dengan pendekatan yang lebih natural. Fokusnya bergeser dari produk tiruan daging yang ultra-proses menuju sumber protein nabati seperti kacang, lentil, biji-bijian, tahu, dan tempe. Penekanannya adalah kualitas nutrisi, bukan sekadar label “plant-based”.

Juliette Kellow, registered dietitian, menyarankan agar konsumen tetap membaca label dan menilai kandungan gizi, bukan serta-merta menghindari semua makanan olahan. Intinya, menjaga keseimbangan dan kesadaran dalam memilih.

Secara umum, tren diet 2026 menunjukkan pergeseran ke pola makan yang lebih berkelanjutan dan realistis. Berbagai pendekatan—mulai dari metabolic eating, fiber maxing, hingga low-lift nutrition—menekankan kualitas makanan, kesesuaian dengan ritme tubuh, serta kebiasaan yang dapat dipertahankan dalam jangka panjang.