BERITA TERKINI
Tren Viral di X: Pertanyaan “Hapus Satu Hal dari Bumi” Jadi Cermin Suasana Hati Menjelang Akhir 2025

Tren Viral di X: Pertanyaan “Hapus Satu Hal dari Bumi” Jadi Cermin Suasana Hati Menjelang Akhir 2025

Sebuah pertanyaan sederhana di platform X mendadak memicu diskusi luas: “Kalau kamu bisa hapus satu hal dari Bumi, apa itu?” Pertanyaan yang diunggah akun @Shreyy itu menjadi viral dan dalam tiga hari memunculkan lebih dari 1.400 interaksi, memperlihatkan ragam respons warganet—mulai dari yang serius hingga absurd.

Ramainya thread ini juga menonjolkan karakter percakapan di X yang dinilai relatif bebas, sehingga pengguna merasa lebih leluasa menyampaikan opini secara blak-blakan. Dari berbagai balasan yang beredar, respons warganet tampak bergerak di dua kutub: kritik sosial yang gelap dan humor yang defensif.

Sejumlah jawaban paling banyak mendapat perhatian berkaitan dengan isu-isu sosial seperti “pedofilia”, “rasisme”, hingga “kebencian”. Salah satu balasan yang menyinggung “kebencian” disebut meraih lebih dari 200 likes, menandakan adanya perhatian terhadap persoalan yang dianggap sistemik.

Selain itu, kritik terhadap ranah politik dan ekonomi juga muncul, misalnya usulan menghapus “miliarder” atau “politisi”. Respons kategori ini memantik perdebatan, dengan salah satu balasan disebut mengumpulkan sekitar 150 likes disertai quote tweet yang menuai kontroversi.

Di sisi lain, jawaban yang bersifat “absurd & relatable” justru menjadi yang paling menonjol dari sisi engagement. Contohnya, usulan menghapus “nyamuk” dan “hangover”. Balasan anti-nyamuk disebut mengantongi lebih dari 300 likes dan menjadi salah satu respons yang paling ramai dibicarakan, bahkan disertai pernyataan ekstrem tentang “genosida nyamuk” tanpa memedulikan dampak lingkungan.

Kategori lain yang juga muncul adalah humor gelap bernuansa self-deprecating, misalnya usulan “hapus manusia”. Balasan semacam ini disebut mendapat lebih dari 100 likes, dengan respons campuran berupa dukungan dan emoji tertawa.

Beragam respons tersebut menggambarkan bagaimana humor kerap dipakai sebagai mekanisme pertahanan di tengah rasa frustrasi atau keputusasaan. Dalam konteks ini, tren “hapus satu hal dari Bumi” dinilai bukan sekadar hiburan, melainkan ruang katarsis kolektif bagi pengguna untuk menumpahkan keluh kesah sekaligus menyuarakan harapan.

Sejumlah jawaban bernada pesimistis juga muncul, termasuk usulan ekstrem seperti “nuke the world” yang disebut mencerminkan suasana pasca-pandemi dan bayang-bayang konflik global. Di saat yang sama, jawaban yang lebih dekat dengan keseharian—seperti “macet Jakarta”—membuat thread tersebut terasa seperti ruang curhat bersama.

Menjelang penghujung 2025, tren semacam ini kerap dibaca sebagai bentuk “resolusi kolektif” digital. Dinamika komunitas X yang kompetitif ikut mendorong pengguna berlomba memberikan jawaban yang dianggap paling “ngena”, baik melalui kritik tajam maupun humor yang mudah dipahami banyak orang.

Fenomena ini, yang disebut menjadi cermin suasana hati di akhir 2025, memperlihatkan dua hal sekaligus: meningkatnya kesadaran terhadap isu-isu fundamental kemanusiaan, dan keinginan untuk menghapus gangguan-gangguan kecil yang dianggap menggerus kualitas hidup sehari-hari. Di balik kelucuan percakapan viral, terselip refleksi sosial dan psikologis yang lebih dalam tentang cara warganet memandang dunia dan menghadapi tekanan hidup modern.