TikTok berkembang menjadi mesin tren global dengan lebih dari dua miliar pengguna di seluruh dunia. Platform ini tidak hanya memengaruhi budaya populer—mulai dari fesyen, kuliner, musik, hingga gaya hidup—tetapi juga menjadi kanal yang kian diperhitungkan pelaku ecommerce untuk meningkatkan visibilitas, engagement, dan penjualan. Namun, tidak semua tren relevan untuk setiap merek. Tantangan terbesarnya adalah memilih tren yang tepat, memahami siklusnya, lalu menyesuaikannya dengan karakter audiens dan suara merek.
Di TikTok, tren dapat berupa suara, tarian, tagar, challenge, topik, atau format video yang mendadak viral dan kemudian ditiru dalam berbagai versi. Sebagian tren berumur pendek, tetapi sebagian lain bertahan lama dan menjadi format “evergreen” yang terus dipakai kreator. Berbeda dengan platform sosial yang cenderung bertumpu pada jumlah pengikut, algoritma TikTok mendorong konten berdasarkan momentum, sehingga siapa pun berpeluang memulai tren maupun ikut menungganginya.
Umumnya, sebuah tren berawal dari unggahan kreator yang cerdas atau tak terduga, lalu ditiru pengguna lain hingga konsep atau audionya meledak. Setelah itu, merek besar ikut bergabung, tren mencapai puncak, lalu meredup—atau berubah menjadi bahan meme. Bagi merek, timing menjadi penentu: terlalu cepat berisiko tidak terlihat, terlalu lambat bisa dianggap ketinggalan.
Sejumlah pendekatan yang disebut menonjol di TikTok antara lain kolaborasi dengan komunitas niche, penekanan pada inklusivitas, serta pemanfaatan alat bantu berbasis AI untuk mempercepat produksi konten. Kolaborasi niche terlihat dalam kemitraan merek dengan subkultur seperti #booktok atau #skintok. Contohnya, CeraVe bekerja sama dengan dermatolog dan kreator “skintok” untuk masuk dalam percakapan soal rutinitas perawatan kulit; Scrub Daddy merangkul humor absurd; sementara Gucci bermitra dengan kreator #fashiontok untuk mengemas high fashion secara lebih ringan dan dekat.
Dari sisi inklusivitas, TikTok dipandang sebagai ruang ekspresi identitas. Merek yang menampilkan representasi yang lebih nyata—mencakup budaya, tipe tubuh, ekspresi gender, neurodiversitas, dan pengalaman hidup—dinilai dapat membangun engagement dan loyalitas yang lebih kuat. Contoh yang disebut antara lain Fenty Beauty yang menyoroti kreator dengan beragam warna kulit dan Aerie yang merayakan body positivity melalui konten tanpa retouch.
Sementara itu, percepatan produksi konten juga didorong oleh penggunaan alat bantu seperti CapCut, Runway, dan Descript untuk pengeditan video, serta alat bantu penulisan untuk ide cerita, caption, dan storyboard. TikTok juga kerap memunculkan mikro-tren melalui filter AI di aplikasinya. Bagi penjual, pemanfaatan AI tidak harus berarti membuat “juru bicara virtual”, melainkan bisa berupa brainstorming hook, mengedit klip produk secara batch, menambahkan overlay teks, atau meremix konten buatan pengguna (UGC).
Berikut 18 tren dan format konten TikTok yang disebut dapat menginspirasi kampanye, terutama untuk kebutuhan ecommerce. Sebagian bersifat evergreen, sebagian lain sedang trending pada 2025.
1. Get ready with me (GRWM) (evergreen)
Format “Get ready with me” menampilkan rutinitas persiapan, misalnya sebelum berangkat atau menghadiri acara. Tren ini kerap dipakai kreator kecantikan dan fesyen, dan dinilai cocok untuk merek beauty maupun wellness, terutama lewat kolaborasi dengan influencer agar produk tampil natural di rutinitas.
2. #tiktokmademebuyit (evergreen)
Tagar ini berisi unggahan kreator yang menunjukkan produk yang mereka temukan dari TikTok. Testimoni dan ulasan yang terasa autentik dapat mendorong visibilitas dan penjualan, sekaligus menjadi sumber UGC bagi merek.
3. Girlhood (trending)
Konsep “girlhood” di TikTok pada 2025 digambarkan meluas dari sekadar estetika menjadi pengalaman hidup yang beragam, termasuk topik transparansi gaji, penganggaran, wellness, hingga pertumbuhan karier. TikTok juga menyebut 72% perempuan di aplikasi merasa mudah terhubung dan menjalin ikatan di ruang ini.
4. Tantangan makanan dan #foodtok (evergreen)
Challenge makanan datang dan pergi, tetapi #foodtok disebut tetap hidup sebagai subkultur. Merek makanan dan minuman dapat memanfaatkan tagar yang lebih spesifik sesuai produk, seperti #drinktok untuk resep minuman.
5. Suara trending (evergreen)
Audio—mulai dari potongan lagu, cuplikan film, hingga stitch dari video lain—menjadi pendorong utama tren. TikTok juga menyediakan cara menyimpan dan memakai audio dari video yang sedang populer melalui fitur “Add to Favorites” atau “Use this sound”.
6. Pertumbuhan diri, kecantikan batin, dan #hopecore (evergreen)
Konten bertema wellness, penyembuhan, dan transformasi diri diprediksi menguat, dengan tagar seperti #hopecore, #affirmations, dan #SelfCare. Fokusnya lebih pada “glow up” spiritual daripada perubahan fisik.
7. Subkultur dan komunitas niche (evergreen)
TikTok memiliki banyak komunitas minat seperti #booktok, #filmtok, #anime, dan #foodtok. Format ini memungkinkan merek masuk ke percakapan yang lebih spesifik dan memiliki bahasa komunitas tersendiri.
8. Sinyal tren delulu (trending)
“Delulu” (slang Gen Z untuk “delusional” atau khayalan) disebut TikTok sebagai sorotan tren 2025. Kontennya menampilkan optimisme berlebihan pada skenario yang tidak mungkin, sering disertai frasa “delulu is the solulu”.
9. Tantangan TikTok (evergreen)
Challenge tetap menjadi format yang sering muncul di TikTok, dari yang ringan hingga berisiko. Merek disarankan menilai kesesuaian dengan nilai dan audiens sebelum ikut serta.
10. Tren tarian (evergreen)
Tarian, lip-sync, dan koreografi merupakan elemen klasik TikTok. Format ini dinilai mudah diikuti dan dapat diadaptasi merek dengan pendekatan kreatif, termasuk lewat kemitraan dengan grup tari.
11. Meme dan tren budaya pop (evergreen)
Percakapan budaya pop kerap memunculkan meme dan tren turunan. Bagi merek, mengikuti tren budaya pop dapat menjaga relevansi, dengan catatan tetap selaras dengan nada merek dan tidak terlambat ikut.
12. Fit check (evergreen)
Format “fit check” atau #OOTD memamerkan outfit dan gaya. Ini sering dipakai untuk menonjolkan koleksi baru atau inspirasi styling, serta dapat memicu tren fesyen lain.
13. ASMR (evergreen)
ASMR tetap populer sebagai konten hiburan sekaligus relaksasi. Merek dapat mengadaptasi dengan menonjolkan suara yang “memuaskan”, misalnya proses memasak atau aktivitas produk.
14. Nostalgia dan tren retro (trending)
Nostalgia disebut besar di TikTok, dari estetika ’90-an hingga gerakan tari ’80-an. Tren ini juga mencakup gaya spesifik dekade seperti Y2K atau makeup terinspirasi era tertentu.
15. POV (point of view) (evergreen)
Video POV diceritakan dari sudut pandang karakter atau situasi tertentu, sering bernuansa humor. Karena fleksibel, format ini bisa diadaptasi untuk menampilkan kepribadian merek.
16. Pack an order with me (evergreen)
Video “kemas pesanan denganku” menampilkan proses pemenuhan pesanan dan kerap memadukan unsur estetika, ASMR, serta sisi manusiawi bisnis kecil. Format ini juga dapat menonjolkan detail desain dan perhatian pada kemasan.
17. Ritual setelah kerja 5–9 (trending)
Tren “5–9” menyoroti rutinitas setelah jam kerja, dari relaksasi, self-care, hingga hobi. Dari kacamata merek, format ini dinilai relevan untuk kategori barang rumah tangga, perawatan kulit, dan wellness.
18. 30 sebelum 30 (trending)
Tren “30 before 30” menampilkan daftar tujuan sebelum usia 30 tahun, mencakup karier, tantangan personal, hingga pengalaman pertama. Tren ini dikaitkan dengan pergeseran “In OUR Era”, ketika pengguna mendefinisikan ulang tonggak hidup sesuai nilai dan aspirasi mereka.
Untuk mengukur efektivitas konten berbasis tren, ada empat metrik yang disorot. Pertama, tayangan yang sering terdorong algoritma karena viralitas format atau audio. Kedua, engagement rate yang dihitung dari (suka + komentar + bagi) dibagi tayangan; rata-rata platform disebut 4,86%, sementara konten berbasis tren dapat mencapai 8%–10% atau lebih. Ketiga, pertumbuhan pengikut untuk melihat apakah tren membantu menarik audiens baru. Keempat, konversi, termasuk klik profil, kunjungan situs, dan pembelian melalui TikTok Shop.
Soal menemukan tren baru, pengguna disarankan memantau halaman For You (FYP), mengecek halaman Discover untuk tagar yang sedang naik, serta memanfaatkan Creative Center TikTok yang menyediakan data tren berdasarkan negara, periode waktu, hingga kategori seperti hashtag, lagu, kreator, dan video. Pelacakan lagu dan hashtag disebut penting karena suara merupakan elemen kunci pengalaman TikTok—88% pengguna menyatakan audio menjadi bagian penting dari pengalaman mereka.
Adapun menciptakan tren sendiri dinilai bukan hal yang mustahil. Contoh yang disebut adalah fenomena “cokelat Dubai” pada 2024 yang bermula dari video sederhana dan kemudian menyebar luas. TikTok menyebut setiap tren terdiri dari empat elemen: pesan tren, hashtag terkait, identitas sonik, dan narasi visual. Sejumlah kiat yang ditekankan antara lain membuat tantangan yang mudah diikuti, bekerja sama dengan influencer yang audiensnya relevan, menyisipkan humor, memanfaatkan momen budaya pop, menghindari konten yang terlalu terasa jualan, serta menjaga video tetap ringkas dengan bantuan overlay teks dan pengeditan yang rapi.
Pada akhirnya, tren di TikTok memang cepat berubah. Karena itu, merek disarankan memberi perhatian pada tema berulang dan format evergreen yang konsisten berkinerja baik, sambil tetap memantau respons audiens dan perkembangan tren di industri masing-masing.

