Tren prank berbasis kecerdasan buatan (AI) yang menampilkan sosok orang tak dikenal seolah-olah muncul di dalam rumah tengah viral di media sosial, terutama TikTok. Sejumlah pengguna membagikan foto dan video yang memperlihatkan figur asing tiba-tiba berada di ruangan rumah mereka.
Salah satu figur publik yang ikut meramaikan tren ini adalah selebgram dan YouTuber Fadil Jaidi. Dalam kontennya, ia memperlihatkan foto hasil editan AI yang menampilkan seorang pria berpakaian ala Timur Tengah seakan berdiri di rumah keluarganya. Foto itu kemudian dikirim kepada ayahnya, yang bereaksi kebingungan dan marah karena merasa tidak mengenal sosok tersebut.
Viralnya konten serupa memunculkan pertanyaan warganet tentang bagaimana AI bisa menghasilkan gambar yang terlihat menyatu dengan latar ruangan. Berdasarkan penjelasan yang beredar, kuncinya terletak pada penggunaan prompt atau perintah teks yang ditulis secara rinci agar sistem AI memahami detail sosok yang ingin ditambahkan, termasuk pakaian, posisi, ekspresi, hingga kondisi pencahayaan.
Bagi pengguna yang ingin mencoba tren ini, langkah dasar yang disebutkan adalah memilih ruangan dengan pencahayaan alami seperti ruang tamu, dapur, atau kamar tidur. Konsistensi sudut pengambilan gambar dan arah cahaya juga ditekankan agar hasil edit tampak lebih menyatu dengan latar belakang.
Selanjutnya, pengguna dapat masuk ke situs Gemini AI dan login menggunakan akun Google, lalu mengunggah foto ruangan sebagai latar. Setelah itu, prompt ditulis sedetail mungkin, misalnya menjelaskan siapa yang ingin ditambahkan, seperti apa pakaiannya, posisi berdiri, ekspresi wajah, serta suasana cahaya di ruangan. Penggunaan kata seperti “realistic” atau “photo-realistic” juga disebut dapat membantu hasil terlihat lebih menyerupai foto asli. Setelah diproses, gambar dapat disimpan ke galeri.
Meski dianggap menghibur, tren prank AI ini diingatkan untuk dilakukan secara bijak agar tidak menimbulkan kesalahpahaman atau melanggar privasi. Salah satu panduan yang disorot adalah menggunakan foto dengan izin, yakni memastikan ada persetujuan dari siapa pun yang berada dalam foto. Pengguna juga diingatkan untuk tidak mengedit wajah atau properti orang lain tanpa sepengetahuan mereka.
Selain itu, disarankan pula untuk menciptakan karakter fiktif dalam hasil edit agar tidak menyerupai orang sungguhan dan menghindari potensi masalah terkait identitas maupun privasi.

