Tren mengedit foto dengan bantuan kecerdasan buatan (AI) kembali ramai di media sosial. Banyak pengguna memanfaatkan filter dan layanan AI untuk mengubah foto menjadi berbagai gaya, mulai dari versi miniatur diri sendiri hingga format polaroid bersama idola.
Di balik kemudahan dan hasil visual yang menarik, tren ini juga memunculkan kekhawatiran soal privasi. Sejumlah warganet menilai foto yang diunggah ke aplikasi atau situs pengolah AI, beserta data yang menyertainya, berpotensi menjadi celah bagi kejahatan siber.
Beberapa risiko yang disebut dapat muncul antara lain pencurian identitas. Foto wajah yang diunggah bisa disalahgunakan untuk verifikasi identitas di berbagai platform atau dipakai untuk membuat akun palsu.
Risiko lain adalah pembuatan akun palsu untuk penipuan. Foto yang sudah terlanjur beredar dapat digunakan pelaku untuk membangun profil palsu di media sosial dan menipu teman atau orang terdekat dengan berbagai motif.
Selain itu, ada ancaman doxing atau perundungan siber. Informasi yang tampak di foto—misalnya latar belakang atau petunjuk lokasi—bisa digabungkan dengan data lain yang bocor untuk mengungkap identitas atau informasi pribadi seseorang di ruang daring, yang kemudian berujung pada cyberbullying.
Untuk mengurangi risiko, pengguna disarankan lebih berhati-hati sebelum mengunggah foto dan data pribadi ke layanan berbasis AI. Berikut sejumlah langkah yang dapat dilakukan untuk membantu melindungi privasi saat memakai AI untuk mengedit foto.
Pertama, pilih platform yang tepercaya. Sebelum menggunakan aplikasi atau situs tertentu, pastikan layanan tersebut memiliki reputasi baik dan kebijakan privasi yang jelas. Pengguna dapat membaca ulasan serta menelusuri kredibilitas pengembangnya.
Kedua, waspadai izin aplikasi. Saat memasang aplikasi, perhatikan izin yang diminta. Jika ada permintaan akses yang tidak relevan, sebaiknya ditolak atau pengguna mempertimbangkan untuk tidak melanjutkan.
Ketiga, hindari berbagi berlebihan. Sebelum mengunggah foto pribadi, pertimbangkan apakah foto itu menampilkan detail yang sangat personal. Setiap unggahan berpotensi menjadi jejak digital yang bertahan lama.
Keempat, jangan membagikan data sensitif. Selain layanan edit foto, penggunaan chatbot seperti ChatGPT, Gemini, atau Claude juga kian populer. Pengguna disarankan tidak memasukkan informasi pribadi seperti keluhan kesehatan, masalah keuangan, maupun kata sandi, karena data tersebut dapat tersimpan dan berpotensi digunakan untuk melatih model di masa depan.
Kelima, batasi informasi yang dibagikan di internet. Manfaatkan fitur privasi di media sosial, hindari unggahan yang mengungkap lokasi atau aktivitas rutin, serta cek kembali izin aplikasi yang meminta akses ke galeri, mikrofon, atau lokasi.
Keenam, jaga reputasi digital dan aktivitas online. Hindari komentar atau unggahan yang dapat menimbulkan kesalahpahaman, gunakan bahasa yang sopan dan profesional, serta lakukan pembersihan digital secara berkala dengan menghapus konten yang tidak relevan.
Ketujuh, gunakan identitas anonim saat online. Pengguna dapat mempertimbangkan browser yang berfokus pada privasi seperti Tor atau Brave, memakai Virtual Private Network (VPN) untuk menyembunyikan alamat IP, menggunakan email sekali pakai untuk pendaftaran di layanan yang tidak terlalu penting, serta memakai nama pengguna berbeda di tiap platform guna mengurangi pelacakan lintas situs.
VPN atau Virtual Private Network disebut berfungsi mengenkripsi koneksi internet dan menyembunyikan alamat IP. Dengan begitu, aktivitas online menjadi lebih sulit dilacak oleh penyedia layanan internet, pemerintah, maupun pihak ketiga.

