BERITA TERKINI
Tren Makanan Plant-Based Menguat, Didorong Alasan Kesehatan hingga Lingkungan

Tren Makanan Plant-Based Menguat, Didorong Alasan Kesehatan hingga Lingkungan

Tren makanan berbasis nabati atau plant-based kian menguat di berbagai negara. Meningkatnya perhatian terhadap kesehatan, keberlanjutan lingkungan, dan kesejahteraan hewan mendorong sebagian masyarakat mengurangi konsumsi daging dan beralih ke sumber pangan berbasis tumbuhan.

Laporan World Economic Forum (2024) mencatat jumlah konsumen yang beralih ke pola makan plant-based meningkat hingga 35 persen dalam tiga tahun terakhir. Pergeseran ini didorong oleh kesadaran akan dampak konsumsi daging terhadap kesehatan dan lingkungan. Dalam laporan tersebut disebutkan, daging merah diketahui dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan kolesterol tinggi, sementara pola makan berbasis nabati dinilai membantu menjaga tekanan darah, berat badan, dan metabolisme tubuh.

Seiring perubahan preferensi makan, berbagai bahan pangan seperti kacang-kacangan, tempe, tahu, sayuran hijau, dan biji-bijian semakin sering dipilih sebagai sumber protein. Bahan-bahan ini disebut mampu menyaingi produk hewani dari sisi kandungan nutrisi.

Dari sisi lingkungan, tren plant-based juga dinilai memberi dampak positif. Data University of Oxford (2024) menunjukkan diet berbasis tumbuhan dapat menurunkan jejak karbon individu hingga 73 persen. Pola makan ini juga dikaitkan dengan penghematan penggunaan air dan lahan pertanian yang selama ini banyak dialokasikan untuk kebutuhan pakan ternak.

Perkembangan inovasi pangan turut memperluas penerimaan masyarakat. Produk seperti plant-based meat atau daging nabati dikembangkan agar memiliki rasa dan tekstur yang menyerupai daging, namun diklaim lebih ramah lingkungan. Industri makanan global pun mulai menyesuaikan diri, dengan sejumlah perusahaan seperti Nestlé, Beyond Meat, dan Impossible Foods mengembangkan produk berbasis nabati yang lebih mudah diolah dan ditujukan agar semakin terjangkau.

Menurut Statista (2024), nilai pasar global makanan plant-based diperkirakan melampaui 100 miliar dolar AS pada 2030. Inovasi tidak hanya hadir pada daging nabati, tetapi juga produk olahan lain seperti susu, keju, dan yogurt berbasis almond, oat, atau kedelai. Kemajuan teknologi pangan modern disebut membuat produk-produk tersebut semakin diterima oleh konsumen luas, termasuk mereka yang tidak menjalani pola makan vegetarian.

Aspek kesehatan juga menjadi alasan lain yang menguatkan tren ini. Sejumlah atlet dan figur publik mengadopsi pola makan plant-based karena dinilai dapat mendukung energi dan pemulihan tubuh. Penelitian Harvard T.H. Chan School of Public Health (2024) menyebut pola makan tinggi serat dan rendah lemak jenuh membantu menjaga kebugaran dan mengurangi risiko peradangan otot. Pola makan ini juga dikaitkan dengan manfaat bagi sistem pencernaan karena kaya antioksidan, vitamin, dan mineral alami yang mendukung daya tahan tubuh.

Meski demikian, penerapannya masih menghadapi tantangan di masyarakat. Sebagian orang menilai makanan plant-based kurang mengenyangkan atau mahal. Namun, dalam laporan tersebut disebutkan banyak bahan lokal seperti tahu, tempe, dan sayuran justru relatif lebih terjangkau. Edukasi mengenai manfaat gizi serta variasi resep dipandang penting agar masyarakat dapat menikmati menu nabati tanpa merasa terbatas. Pemerintah dan pelaku industri pangan juga mulai mendorong kampanye konsumsi protein nabati untuk memperluas kesadaran publik.

Dengan meningkatnya dukungan industri, inovasi teknologi pangan, serta kesadaran kesehatan dan lingkungan, makanan plant-based dinilai tidak lagi sekadar tren diet, melainkan bagian dari pergeseran gaya hidup menuju pola konsumsi yang lebih sehat dan berkelanjutan.