BERITA TERKINI
Tren Kesehatan Viral Sepanjang 2025: Dari Japanese Walking hingga Peringatan soal Protein Berlebihan

Tren Kesehatan Viral Sepanjang 2025: Dari Japanese Walking hingga Peringatan soal Protein Berlebihan

Sepanjang 2025, beragam tren kesehatan ramai diperbincangkan di media sosial. Sebagian dinilai membantu mendorong kebiasaan hidup yang lebih sehat, namun ada pula yang berisiko bila diikuti tanpa pemahaman medis yang memadai. Laporan dari Everyday Health merangkum sejumlah tren yang paling menonjol dan banyak memengaruhi percakapan publik tahun ini.

Salah satu yang kembali digemari adalah Japanese walking, metode olahraga ringan dengan pola bergantian: berjalan cepat selama tiga menit lalu diperlambat tiga menit, diulang sekitar 30 menit. Teknik yang disebut berasal dari riset ilmiah ini dinilai efektif membantu menjaga tekanan darah, kekuatan otot, dan kesehatan jantung tanpa memerlukan alat khusus.

Tren lain yang ikut menyita perhatian adalah mulai lebih terjangkaunya obat penurun berat badan berbasis hormon GLP-1 untuk obesitas dan diabetes di beberapa negara. Meski demikian, penggunaannya tetap ditekankan harus berada dalam pengawasan dokter. Penurunan harga dipandang membuka akses lebih luas bagi pasien yang membutuhkan terapi medis untuk mengontrol berat badan.

Dari sisi kesehatan perempuan, 2025 juga disebut menjadi momentum ketika perimenopause lebih banyak dibicarakan secara terbuka. Keluhan seperti perubahan suasana hati, gangguan tidur, hingga kelelahan tidak lagi dianggap tabu, sehingga lebih banyak perempuan terdorong mencari bantuan medis.

Kesadaran terhadap dampak alkohol terhadap kesehatan mental dan kualitas tidur turut mendorong meningkatnya gaya hidup minim alkohol, terutama di kalangan generasi muda. Variasi minuman non-alkohol yang makin beragam ikut mendukung perubahan kebiasaan ini.

Di saat yang sama, kesehatan mental menjadi prioritas yang semakin sering diangkat. Diskusi tentang hubungan toksik disebut makin terbuka, dengan lebih banyak orang berani meninggalkan relasi yang dinilai merusak kondisi psikologis demi kualitas hidup jangka panjang.

Namun, tidak semua tren yang viral dinilai aman. Salah satu yang diwaspadai adalah fenomena scromiting, istilah populer untuk muntah hebat disertai nyeri perut akibat penggunaan ganja jangka panjang. Dokter menegaskan kondisi ini serius dan pemulihan hanya dapat terjadi jika konsumsi ganja dihentikan.

Tren lain yang dianggap berisiko adalah konsumsi protein berlebihan. Obsesi asupan protein ekstrem hingga ratusan gram per hari dinilai dapat mengganggu keseimbangan nutrisi dan berpotensi membebani organ tubuh.

Di ranah kesehatan publik, perubahan kebijakan vaksin di beberapa negara dilaporkan memicu kebingungan serta penurunan kepercayaan masyarakat. Dampaknya, angka imunisasi menurun dan membuka peluang kembalinya penyakit menular.

Penurunan cakupan imunisasi juga dikaitkan dengan kemunculan kembali campak. Penyakit ini sangat menular dan berbahaya, terutama bagi anak-anak serta kelompok rentan.

Selain itu, 2025 juga diwarnai meningkatnya kasus sindrom alpha-gal, yaitu alergi terhadap daging merah yang dikaitkan dengan gigitan kutu. Gejalanya sering muncul terlambat sehingga dapat menyulitkan pengenalan sejak awal.

Sejumlah tren kesehatan dapat menjadi inspirasi untuk hidup lebih baik, tetapi tidak semuanya layak diikuti begitu saja. Para ahli mengingatkan pentingnya memilah informasi, memahami risiko, dan tidak menjadikan tren viral sebagai pengganti saran medis profesional.