Dessert bernama Dubai chewy cookies, yang di Korea Selatan populer dengan sebutan dujjong-ku, tengah menjadi sensasi baru. Fenomena ini tidak hanya memunculkan tren makanan viral, tetapi juga memengaruhi pola jualan pelaku usaha kecil, strategi pemasaran restoran, hingga pergerakan harga bahan baku di pasar.
Dubai chewy cookies disebut terinspirasi dari tren cokelat Dubai yang sempat booming pada 2024. Namun, versi yang berkembang di Korea Selatan hadir sebagai sajian yang berbeda. Kudapan ini berisi krim pistachio dan serpihan pastry khas Timur Tengah, kataifi, lalu dibungkus marshmallow leleh dan dilapisi taburan cokelat bubuk. Teksturnya kenyal dan lengket, bahkan dinilai lebih mirip kue beras mochi dari Jepang ketimbang cookies pada umumnya.
Popularitasnya melesat di media sosial. Lebih dari 30.000 unggahan bertagar dujjong-ku ikut memicu antrean panjang, sistem pembelian terbatas, hingga praktik “open run” di pagi hari yang menjadi pemandangan biasa di toko dessert populer.
Menurut laporan The Korea Herald, sejumlah usaha kecil seperti kafe dan toko kue mengaku mampu menjual ratusan unit per hari. Stok 200 hingga 300 buah dilaporkan bisa habis hanya dalam menit pertama setelah toko buka.
Tren ini juga merambah restoran yang menu utamanya bukan dessert, seperti jokbal, sushi, hingga ayam pedas. Sejumlah pelaku usaha menjual Dubai chewy cookies sebagai menu tambahan bukan semata untuk mengejar keuntungan langsung, melainkan agar nama toko mereka muncul di hasil pencarian aplikasi pesan-antar makanan. Di platform pengantaran, kata kunci “Dubai chewy cookie” kini menjadi magnet, bahkan ada toko yang mencantumkan nama tersebut pada menu yang tidak berkaitan untuk menarik perhatian konsumen.
Data Baedal Minjok, layanan pengantaran terbesar di Korea Selatan, menunjukkan pesanan pick-up untuk dujjong-ku melonjak 300% pada minggu pertama Januari dibandingkan bulan sebelumnya.
Di balik tingginya permintaan, tren ini memunculkan dampak lanjutan. Pistachio sebagai bahan utama dilaporkan mengalami kenaikan harga sekitar 20% dalam setahun terakhir di Korea Selatan, dipicu oleh permintaan global yang tinggi dan melemahnya nilai tukar won. Kenaikan biaya produksi membuat sebagian penjual menaikkan harga, sementara yang lain memilih menghentikan penjualan karena margin keuntungan menipis.
Saat ini, satu buah Dubai chewy cookie di beberapa lokasi dapat dijual lebih dari 10.000 won, atau hampir Rp 115.000. Di saat bersamaan, muncul pula produk tiruan yang memicu keluhan konsumen terkait kualitas yang dinilai rendah.
Pengamat kuliner menilai daya tarik utama Dubai chewy cookies terletak pada tampilannya yang “berlebihan”: ukuran tebal, isian melimpah, dan visual mencolok saat difoto atau direkam video. Pola serupa pernah terlihat pada macaron versi lokal di Korea Selatan yang diubah menjadi lebih besar dan penuh isian, jauh dari versi aslinya yang tipis dan ringan.
Media sosial kemudian mempercepat penyebaran tren. Makanan yang tampak ekstrem, mudah dikenali, dan memancing rasa penasaran cenderung lebih cepat viral. Kritikus kuliner Yi Yong-jae menilai kecenderungan itu berakar pada cara pandang budaya yang lebih dalam. Menurutnya, budaya kuliner Korea cenderung lebih menghargai tampilan mencolok dan kesan sajian yang melimpah dibandingkan kehalusan rasa atau keseimbangan sederhana.
“Kurang lebih seperti orang yang lebih suka meja makan penuh dengan banyak hidangan, meski rasanya biasa saja, dibandingkan sedikit hidangan tapi disiapkan dengan sangat matang,” ujar Yi Yong-jae seperti dikutip koreaherald.com.

