Tren olahraga padel kian menguat di Kota Makassar dan berkembang menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat urban. Sejumlah lapangan padel yang bermunculan di berbagai kawasan kota nyaris selalu dipadati pemain dari beragam latar belakang profesi, mulai dari dokter, dosen, pegawai bank, hingga pengusaha muda.
Di tengah geliat tersebut, hadir komunitas padel To Be Loved (TBL) Makassar. Komunitas ini bermula dari pertemanan para pemain tenis yang kemudian beralih dan menekuni padel, olahraga yang belakangan viral di media sosial.
Anggota komunitas TBL Makassar, Mila Lukman, menyebut popularitas padel di Makassar turut dipengaruhi maraknya artis dan figur publik di Jakarta yang memainkan olahraga ini. Ia mengatakan lapangan padel pertama di Makassar berada di kawasan Tanjung Bunga dan langsung menarik perhatian masyarakat.
“Awalnya yang main memang orang-orang yang sudah biasa olahraga raket, seperti tenis dan badminton. Tapi ternyata padel ini mudah dipelajari semua kalangan,” ujar Mila.
Menurut Mila, padel cepat digemari karena dinilai lebih ringan dibanding tenis, namun tetap kompetitif dan menyenangkan. Lapangan yang nyaman serta konsep permainan yang dinamis membuat banyak orang tertarik mencoba. “Orang-orang awalnya FOMO karena viral. Tapi setelah coba ternyata seru, ada unsur games dan strategi juga,” katanya.
Komunitas TBL saat ini beranggotakan sekitar 25 orang dengan profesi yang beragam. Mereka rutin bermain bersama hampir setiap pekan. Bagi Mila, padel tidak hanya menjadi aktivitas olahraga, tetapi juga ruang memperluas relasi sosial dan bisnis. “Padel itu social sport. Kita datang bukan cuma olahraga, tapi juga ketemu orang baru, tambah relasi, bahkan kadang ada kerja sama bisnis yang terjadi di lapangan,” ujarnya.
Pengalaman serupa disampaikan dokter umum dr. Nugraga Rauf atau dr Nunu. Ia mengaku kini hampir setiap hari bermain padel setelah sebelumnya aktif bermain tenis dan lari. “Kalau tenis lapangan itu lebih berat karena outdoor dan lapangannya luas. Padel lebih ringan, lapangannya kecil dan kebanyakan indoor jadi lebih nyaman,” kata dr Nunu.
Ia juga menilai fasilitas lapangan padel di Makassar menjadi daya tarik tersendiri. Sejumlah venue dilengkapi ruang santai hingga pendingin ruangan. “Sekarang fasilitasnya bagus-bagus. Ada tempat nongkrong, ruang bersih-bersih, bahkan ada lapangan yang ber-AC,” ujarnya.
Dosen Universitas Negeri Makassar, Isma Aziz Riu, mengaku awalnya hanya penasaran untuk mencoba. Namun setelah bermain, ia merasakan padel lebih santai dibanding tenis, meski tetap menantang. “Ternyata seru dan tidak secapek tenis. Ada teamwork juga karena mainnya berpasangan,” katanya.
Menurut Isma, padel juga menjadi ruang silaturahmi lintas generasi dan profesi. Ia mengaku pernah bertemu kembali dengan mahasiswa lamanya di lapangan. “Kadang kita ketemu teman lama, komunitas baru, sampai jadi tempat reuni juga,” ujarnya.
Di sisi lain, padel dikenal sebagai olahraga yang relatif mahal. Harga sewa lapangan di Makassar berkisar Rp225 ribu hingga Rp400 ribu per jam, sementara harga raket dapat mencapai jutaan rupiah. Karena itu, sejumlah pemain memilih sistem “open play” dengan membuka slot permainan bersama pemain lain agar biaya sewa dapat ditanggung bersama.
Tren ini juga memunculkan banyak turnamen komunitas dengan hadiah besar. Sejumlah pemain mulai berlatih lebih serius dengan pelatih untuk mengikuti kompetisi resmi di bawah Perkumpulan Padel Indonesia (PPPI).
Meski ada anggapan tren padel bisa saja mereda seperti olahraga viral lainnya, saat ini padel masih menjadi magnet baru olahraga urban di Makassar. Di balik pantulan bola di lapangan kaca, padel berkembang bukan semata olahraga, melainkan ruang pertemanan, relasi, dan bagian dari gaya hidup baru masyarakat kota.

