BERITA TERKINI
Tren Diet Tanpa Nasi Ramai di Media Sosial, Pakar Ingatkan Risiko Jika Karbohidrat Dihilangkan Total

Tren Diet Tanpa Nasi Ramai di Media Sosial, Pakar Ingatkan Risiko Jika Karbohidrat Dihilangkan Total

Media sosial belakangan diramaikan tantangan no rice diet atau diet tanpa nasi. Sejumlah orang mengklaim penurunan berat badan terjadi setelah menghentikan konsumsi nasi putih.

Namun, pakar gizi mengingatkan tren tersebut tidak selalu aman, terutama bila dilakukan tanpa pemahaman nutrisi yang memadai. Peneliti dari Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan Universitas Gadjah Mada (UGM) menjelaskan bahwa nasi merupakan salah satu sumber utama karbohidrat sederhana yang dapat dengan cepat meningkatkan kadar gula darah.

Menurut peneliti tersebut, mengurangi asupan nasi dapat membantu menurunkan total kalori harian. Meski demikian, penghapusan karbohidrat secara total dinilai berisiko mengganggu metabolisme dan fungsi otak yang bergantung pada glukosa.

Ahli gizi klinis dari Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) juga menekankan bahwa tubuh tetap membutuhkan karbohidrat kompleks sebagai sumber energi. Karena itu, mengganti nasi dengan pilihan lain seperti quinoa, oat, kentang rebus, atau nasi merah dinilai lebih baik dibanding menghilangkannya sepenuhnya.

Para pakar turut mengingatkan bahwa hasil cepat yang tampak dari diet tanpa nasi dapat menimbulkan risiko bila diterapkan dalam jangka panjang. Studi di Journal of Nutrition and Metabolism tahun 2024 menemukan individu yang menjalani diet sangat rendah karbohidrat selama lebih dari enam bulan berisiko mengalami kelelahan kronis, gangguan hormon, dan penurunan massa otot.

Secara umum, pakar menegaskan pola makan sehat seharusnya menyeimbangkan karbohidrat, protein, dan lemak sesuai kebutuhan tubuh, bukan sekadar menghilangkan satu kelompok zat gizi.