BERITA TERKINI
Selain Seafood, 5 Hidangan Autentik Pangandaran yang Membuat Orang Kembali: Dari Pindang Gunung hingga Noga Kelapa

Selain Seafood, 5 Hidangan Autentik Pangandaran yang Membuat Orang Kembali: Dari Pindang Gunung hingga Noga Kelapa

Mengapa Topik Ini Mendadak Jadi Tren

Pangandaran kembali ramai dibicarakan karena orang mencari sesuatu yang lebih dari pantai.

Judul tentang “selain seafood” memantik rasa ingin tahu, seolah menantang stereotip bahwa pesisir hanya soal ikan bakar.

Di ruang digital, kuliner bekerja seperti peta emosi.

Ia memandu orang pada ingatan, rencana mudik, dan bayangan libur Lebaran 2026 yang ingin dibuat lebih bermakna.

-000-

Ada tiga alasan mengapa isu kuliner autentik Pangandaran menjadi tren.

Pertama, wisatawan jenuh pada rekomendasi yang seragam.

Ketika semua orang memotret menu yang sama, keaslian menjadi mata uang baru.

Kedua, momen Lebaran mendorong pencarian destinasi yang “ramah keluarga”.

Daftar hidangan lokal memberi rasa aman, karena orang bisa merencanakan makan bersama, bukan sekadar singgah.

Ketiga, ada kebanggaan identitas daerah.

Penyebutan Warisan Budaya Takbenda pada pindang gunung menambah bobot, seakan menegaskan bahwa makanan adalah warisan, bukan komoditas semata.

-000-

Di balik tren ini, ada gejala yang lebih luas.

Indonesia sedang menyaksikan pergeseran wisata dari “melihat” menjadi “mengalami”.

Orang tidak cukup mengunggah foto ombak.

Mereka ingin pulang membawa cerita rasa, nama bumbu, dan asal-usul yang bisa diceritakan ulang di meja rumah.

Pangandaran dan Daya Tarik yang Tak Selesai di Pantai

Pangandaran selalu punya magnet: pantai, keramaian, dan debur ombak yang membuat waktu terasa melambat.

Namun, magnet kedua sering lebih kuat.

Ia hadir dari dapur, dari wajan, dari panci rebusan, dan dari tangan yang mengingat takaran tanpa timbangan.

-000-

Berita ini menempatkan kuliner sebagai pintu masuk memahami Pangandaran.

Bukan sekadar daftar menu, melainkan potret perjumpaan pesisir dan kebun.

Di sana ada hasil laut, bahan pangan pekarangan, dan rempah khas Sunda.

Perpaduan itu membuat kuliner Pangandaran lebih luas daripada label “seafood”.

Ia menyimpan jejak migrasi, kebiasaan botram, dan cara masyarakat menjaga bahan agar tetap sedap.

1. Pindang Gunung: Aroma Honje dan Ingatan Pesisir

Pindang Gunung lahir dari kearifan masyarakat pesisir yang memanfaatkan ikan segar dan bumbu alami dari kebun sekitar.

Ia dikenal berasal dari wilayah Parigi.

Hidangan ini telah ada sejak lama, bahkan sebelum Pangandaran menjadi kabupaten tersendiri.

-000-

Ciri paling kuatnya adalah honje atau kecombrang.

Aromanya harum, sekaligus membantu mengurangi bau amis pada ikan.

Di dalamnya ada daun ruku-ruku, beraroma mirip kemangi.

Rasa pindang ini tidak tunggal.

Ia menyeimbangkan gurih, pedas, dan asam segar dalam kuah kuning.

-000-

Bahan ikannya bisa kakap, tongkol, atau caruang.

Ia direbus bersama bumbu halus seperti kunyit, jahe, kemiri, cabai, dan terasi.

Di meja makan, kuahnya terasa seperti penjelasan.

Bahwa tradisi tidak selalu disimpan di museum.

Ia hidup dalam panci yang terus dipanaskan, diulang, dan diwariskan lewat lidah.

-000-

Pindang Gunung tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda.

Di sini, status itu penting bukan untuk kebanggaan kosong.

Ia menjadi pengingat bahwa kuliner bisa rapuh jika tidak dirawat.

Berita menyebut hidangan ini dapat ditemukan di rumah makan sekitar Pangandaran, termasuk kawasan Pantai Batu Hiu.

Estimasi harga per porsi berkisar Rp40.000 hingga Rp65.000.

2. Sate Galunggung: Nama Gunung, Jejak Perantau

Sate Galunggung justru menjadi ikon Pangandaran, meski namanya merujuk pada Galunggung di Tasikmalaya.

Ia dikenal sejak 1970-an.

Warungnya digagas keluarga perantau yang menetap dan membuka usaha di Pangandaran.

-000-

Kisah Deni, generasi ketiga, memberi lapisan manusiawi.

Ia menyebut kakeknya merantau dari Tasikmalaya ke Pangandaran untuk berjualan sate.

Di Indonesia, kuliner sering bertahan karena migrasi.

Resep ikut pindah bersama orang yang mencari hidup.

-000-

Sate ini dikenal dengan potongan daging besar dan empuk.

Ada pilihan ayam dan sapi, dimarinasi dengan bumbu rempah sebelum dibakar di atas arang kayu.

Bumbu kacangnya dihaluskan tradisional hingga kental dan gurih.

Saat disajikan, kecap manis memperkuat rasa.

-000-

Lokasinya disebut berada di Jalan Kidang Pananjung, kawasan wisata Pantai Barat Pangandaran.

Harga satu porsi 10 tusuk berkisar Rp40.000 hingga Rp60.000.

Di balik angka itu, ada pelajaran sederhana.

Kuliner legendaris bertahan karena konsistensi, bukan karena ramai sesaat.

3. Soto Pangandaran: Kerupuk Merah sebagai Identitas

Soto Pangandaran punya karakter yang berbeda dari soto lain di Jawa Barat.

Yang paling mencolok adalah kerupuk merah khas Pangandaran.

Ia bukan hiasan, melainkan penanda.

Kerupuk diremas, ditaburkan, lalu melunak saat menyerap kuah panas.

-000-

Kuahnya berasal dari kaldu sapi atau ayam.

Bumbunya mencakup serai, daun salam, dan lengkuas.

Isinya bihun, tauge, potongan daging, dan kacang tanah goreng.

Komposisi itu membuat soto terasa akrab, namun tetap punya aksen lokal.

-000-

Berita menyebut salah satu tempatnya adalah Soto Jarkomi Ayam Kampung di sekitar Bundaran Marlin Pangandaran.

Menurut arsip, usaha ini melayani pembeli sejak 1980-an.

Awalnya dipikul keliling desa, lalu berkembang menjadi lima gerai.

Harga per porsi sekitar Rp15.000 hingga Rp25.000.

-000-

Ada sesuatu yang kontemplatif pada kisah soto yang dulu dipikul.

Ia mengingatkan bahwa ekonomi lokal tumbuh dari langkah-langkah kecil.

Di era aplikasi, kisah seperti ini membuat orang percaya pada kerja yang pelan, tapi tekun.

4. Nasi Liwet Jolem: Botram, Gotong Royong, dan Cara Makan Bersama

Nasi Liwet Jolem berasal dari wilayah Cijulang dan Selasari.

Nama “jolem” merujuk pada teknik mencampur nasi dengan olahan ikan saat memasak hampir selesai.

Hidangan ini dahulu sering hadir dalam kegiatan gotong royong petani dan nelayan.

Tradisi botram masih melekat saat menikmatinya.

-000-

Merujuk pada laman jadesta.kemenpar.go.id, Nasi Jolem menampilkan ikan melimpah di atas nasi.

Nasinya dimasak dengan bawang merah, serai, daun salam, dan cabai rawit.

Ketika air menyusut, ikan asin jambal roti atau ikan nila goreng dimasukkan.

Aroma ikan lalu meresap ke setiap butiran.

-000-

Asal-usul nama jolem disebut berasal dari gabungan “kejo” yang berarti nasi dan “nilem” yang merujuk ikan mujair nilem.

Wisatawan dapat menikmatinya di Desa Wisata Selasari, Kecamatan Parigi.

Biasanya disajikan dalam porsi besar untuk dinikmati bersama.

Harga satu paket berkisar Rp75.000 hingga Rp120.000 untuk 4 hingga 5 orang.

-000-

Di tengah budaya serba individual, nasi liwet jolem terasa seperti kritik halus.

Ia menuntut kebersamaan.

Ia mengajarkan bahwa makan bukan hanya mengisi perut, melainkan merawat relasi.

5. Noga Kelapa: Manis yang Menyimpan Jejak Kebun

Pangandaran memiliki perkebunan kelapa yang luas.

Dari situ lahir beragam penganan tradisional, salah satunya noga kelapa.

Ia populer sebagai buah tangan.

-000-

Noga dibuat dari kelapa parut kasar yang disangrai hingga harum.

Kelapa lalu dicampur cairan gula merah atau gula kelapa kental, serta jahe.

Adonan dicetak saat masih panas sebelum mengeras.

Hasilnya renyah, manis legit, dengan hangat jahe yang menutup rasa.

-000-

Noga kelapa dijual di berbagai toko oleh-oleh di kawasan Pangandaran.

Harga berkisar Rp10.000 hingga Rp25.000 per bungkus.

Di sini, oleh-oleh bukan sekadar barang.

Ia cara membawa pulang sepotong lanskap, agar perjalanan terasa tinggal lebih lama.

Isu Besar di Balik Daftar Menu: Identitas, Ekonomi Lokal, dan Ketahanan Budaya

Daftar hidangan ini sebenarnya berbicara tentang isu besar Indonesia.

Yakni bagaimana daerah menjaga identitas, sambil tetap hidup dari arus wisata.

Ketika destinasi naik daun, risiko homogenisasi ikut datang.

Menu bisa diseragamkan demi selera pasar.

-000-

Di titik ini, kuliner autentik menjadi semacam pagar.

Ia menjaga agar Pangandaran tidak hanya menjadi latar foto.

Ia menegaskan bahwa tempat punya cerita, dan cerita punya rasa.

Pengakuan Warisan Budaya Takbenda pada pindang gunung memberi sinyal penting.

Negara melihat kuliner sebagai bagian dari kebudayaan yang perlu dicatat.

-000-

Isu lain yang mengintai adalah keberlanjutan.

Berita ini menekankan perpaduan hasil laut dan bahan kebun.

Itu mengingatkan pada prinsip diversifikasi pangan.

Ketika pasokan satu komoditas terganggu, masyarakat yang punya ragam bahan cenderung lebih tangguh.

-000-

Riset yang relevan datang dari kerangka “warisan budaya takbenda” UNESCO.

Dalam kerangka itu, makanan dipahami sebagai praktik sosial.

Ia mencakup pengetahuan, ritual, dan keterampilan, bukan hanya produk akhir.

Sudut pandang ini membantu kita melihat pindang gunung atau botram bukan sekadar menu.

Ia adalah sistem nilai yang hidup.

-000-

Riset lain yang sering dipakai dalam kajian pariwisata adalah konsep “place branding”.

Destinasi membangun citra lewat simbol yang mudah diingat.

Kuliner menjadi simbol yang efektif karena bisa dialami langsung.

Namun, place branding yang sehat membutuhkan partisipasi warga.

Jika tidak, citra hanya menjadi kemasan.

-000-

Dalam konteks ekonomi, banyak studi pengembangan destinasi menekankan efek berantai.

Satu warung laris dapat menghidupkan pemasok bumbu, nelayan, petani, hingga pedagang oleh-oleh.

Berita ini memberi contoh nyata.

Ada soto yang tumbuh dari pikulan, ada sate yang bertahan lintas generasi.

Ekonomi lokal bekerja lewat ketekunan yang panjang.

Cermin dari Luar Negeri: Ketika Kuliner Menjadi Bahasa Identitas

Fenomena “mencari yang autentik” bukan hanya terjadi di Indonesia.

Di berbagai negara, kuliner lokal sering menjadi jangkar identitas ketika pariwisata membesar.

-000-

Jepang, misalnya, dikenal dengan budaya regional food yang kuat.

Banyak kota kecil mempromosikan hidangan khas sebagai alasan orang berhenti, bukan sekadar lewat.

Prinsipnya mirip dengan Pangandaran.

Destinasi tidak ingin hanya menjadi transit pantai.

Ia ingin menjadi pengalaman yang diingat.

-000-

Spanyol juga sering dijadikan rujukan dalam wisata kuliner.

Di beberapa wilayah, makanan tradisional dipertahankan sebagai kebanggaan komunitas.

Ketika wisata meningkat, tantangannya sama.

Bagaimana menjaga kualitas dan cerita, tanpa mengusir warga dari ruangnya sendiri.

-000-

Perbandingan ini bukan untuk menyamakan persis.

Namun, ia menegaskan bahwa kuliner adalah bahasa global.

Di manapun, makanan bisa menjadi cara paling cepat untuk memahami sebuah tempat.

Dan karena itulah, topik seperti ini mudah sekali menjadi tren.

Bagaimana Sebaiknya Isu Ini Ditanggapi

Tren kuliner Pangandaran sebaiknya ditanggapi dengan kepala dingin.

Antusiasme bagus, tetapi perlu diarahkan agar tidak merusak yang ingin dirayakan.

-000-

Pertama, wisatawan bisa memulai dari sikap hormat.

Cobalah bertanya asal-usul menu, cara makan yang tepat, dan kebiasaan setempat.

Menghormati tradisi botram, misalnya, berarti tidak memaksakan gaya sendiri pada ruang bersama.

-000-

Kedua, pelaku usaha kuliner perlu menjaga konsistensi rasa dan kebersihan.

Ketika sebuah hidangan viral, godaan menurunkan kualitas demi mengejar volume sering muncul.

Padahal, yang dicari orang dari “autentik” adalah kejujuran rasa.

-000-

Ketiga, pemerintah daerah dan pengelola destinasi dapat memperkuat narasi edukatif.

Informasi sederhana tentang bahan, sejarah, dan etika makan membantu wisatawan menghargai.

Pencatatan WBTB pada pindang gunung dapat diterjemahkan menjadi materi interpretasi di ruang publik.

-000-

Keempat, media dan kreator konten sebaiknya tidak berhenti pada daftar.

Daftar memang memudahkan, tetapi sering memiskinkan konteks.

Yang lebih penting adalah cerita orang di baliknya.

Kisah perantau sate, pikulan soto, dan botram nasi jolem adalah inti yang membuat Pangandaran berbeda.

-000-

Pada akhirnya, tren ini mengingatkan satu hal.

Indonesia tidak kekurangan keindahan.

Yang sering kurang adalah kesediaan untuk menyimak pelan-pelan, agar tempat tidak berubah menjadi sekadar latar.

Di Pangandaran, laut memang memanggil.

Namun dapur, dengan segala aromanya, mengajak kita tinggal lebih lama dalam makna.

-000-

Jika ada penutup yang layak dibawa pulang, mungkin ini.

“Kita tidak benar-benar mengenal sebuah tempat sebelum kita menghormati cerita yang dimasak di dalamnya.”