Tren viral di media sosial kini menjadi penentu utama penjualan pedagang mainan di Pasar Asemka, Tamansari, Jakarta Barat. Di tengah kondisi pembeli yang kian sepi dan daya beli masyarakat yang menurun, pedagang dituntut bergerak cepat mengikuti mainan yang sedang ramai diperbincangkan.
Sahidi (48), pedagang mainan grosir yang berjualan di Asemka sejak 2018, mengatakan pola berdagangnya berubah drastis seiring pengaruh media sosial. Jika sebelumnya ia berani menyetok beragam jenis mainan dalam jumlah besar, kini ia lebih memilih menampung barang yang sedang viral.
“Biasanya mah tergantung trennya, viralnya apa. Kalau enggak viral, susah,” kata Sahidi saat ditemui di lapaknya, Selasa (30/12/2025).
Ia mencontohkan tren boneka Labubu yang sempat meledak dan banyak dicari beberapa waktu lalu. Melihat peluang, Sahidi ikut menyetok versi ekonomis dari boneka tersebut karena permintaan meningkat.
“Kemarin tuh sempat rame yang boneka-boneka Labubu tuh, kami kan jual versi murah itu kan, nah itu lumayan tuh (penjualannya). Tapi Labubunya abis, sebulan lah, ilang lagi (pelanggannya),” ujarnya.
Setelah tren boneka mereda, Sahidi beralih ke mainan lain yang sedang diminati, terutama di kalangan anak laki-laki, yakni gasing modern. Menurutnya, gasing yang diminati saat ini berbeda dari gasing tradisional karena tampilannya lebih menarik dan sebagian dilengkapi arena permainan.
“Anak sekarang lagi pada doyan main gasing. Tapi gasingnya beda enggak kayak kita dulu, lebih cakep dia. Ada yang ada arenanya. Lagi banyak sih (yang cari), gasing,” kata Sahidi.
Selain mengikuti tren mainan, momen pergantian tahun juga dimanfaatkan Sahidi untuk menjual terompet dan petasan. Namun, ia mengaku tidak berani menyetok terlalu banyak karena persaingan antarpedagang yang ketat.
Sahidi menilai, jika hanya mengandalkan penjualan mainan standar seperti mobil-mobilan atau robot yang biasa dibeli untuk hadiah ulang tahun, pemasukan yang didapat tidak cukup untuk menutup biaya sewa lapak.
“Kalau ngarepin pembeli yang beli kado (ulang tahun) atau orang lewat mah, wah enggak bisa nutup sewa lapak. Beneran,” keluhnya.
Ia juga merasakan penurunan daya beli masyarakat yang disebutnya cukup signifikan jika dibandingkan dengan masa sebelum pandemi Covid-19.

