Jajanan kaki lima atau street food kerap menjadi cerminan budaya kuliner suatu negara. Makanan yang dijajakan di pinggir jalan biasanya menawarkan cita rasa khas daerah dengan harga yang relatif terjangkau, sehingga menarik perhatian warga lokal maupun wisatawan.
Dalam daftar “100 Street Food Terbaik di Dunia” tahun 2025 yang dirilis Taste Atlas, siomay—jajanan khas Indonesia—berhasil masuk tiga besar. Selain siomay, ada empat hidangan lain yang masuk lima teratas versi Taste Atlas, masing-masing berasal dari Aljazair/Maroko, China, Meksiko, serta India Selatan.
Karantika (Aljazair) / Calienté (Maroko)
Karantika dikenal sebagai hidangan tradisional di Aljazair, sementara di Maroko disebut calienté. Makanan ini disebut berakar dari masa kolonial, dengan nama yang berasal dari kata Spanyol calentita yang berarti “hangat”. Awalnya, karantika dikenal sebagai makanan mengenyangkan bagi kelas pekerja, namun kini populer sebagai jajanan kaki lima yang dinikmati berbagai usia di Aljazair dan Maroko.
Menurut Taste Atlas, karantika dibuat dari adonan tepung kacang arab, minyak, air, garam, merica, dan telur. Adonan kemudian dipanggang hingga permukaannya berwarna keemasan, bertekstur sedikit renyah di luar namun tetap lembut di bagian dalam.
Kuotie (China)
Kuotie merupakan varian pangsit jiaozi dari China Utara. Isinya umumnya berupa daging babi cincang, kubis China, daun bawang, jahe, anggur beras, serta minyak biji wijen. Kuotie dikenal memiliki perpaduan tekstur renyah dan lembut.
Bentuknya lazim menyerupai bulan sabit dengan kulit pangsit yang tebal. Kuotie dapat disajikan dengan cara dikukus maupun digoreng, dan kerap menjadi hidangan pembuka saat perayaan Imlek.
Siomay (Indonesia)
Siomay merupakan jajanan khas Indonesia yang umumnya berbahan dasar ikan dan dibentuk menyerupai dimsum. Dalam penyajiannya, siomay biasanya dilengkapi kentang, kubis, tahu, pare, dan telur, lalu dikukus. Hidangan ini disajikan dengan saus kacang pedas, serta pelengkap berupa kecap manis dan perasan jeruk nipis.
Taste Atlas menyebut siomay berasal dari shumai China. Siomay diyakini dibawa oleh imigran China yang datang ke Indonesia pada masa penjajahan Belanda. Hingga kini, siomay mudah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia.
Quesabirria (Meksiko)
Quesabirria merupakan makanan kaki lima populer dari Meksiko. Hidangan ini memadukan birria—semur daging tradisional Meksiko—dengan quesadilla. Quesabirria umumnya menggunakan tortilla berukuran besar yang diisi daging sapi dan keju leleh dalam jumlah banyak.
Tortilla kemudian dipanggang hingga renyah, sementara kejunya meleleh. Quesabirria biasanya disajikan bersama kaldu atau consomé sebagai cocolan untuk memperkaya rasa.
Parotta (India Selatan)
Parotta adalah roti pipih yang berasal dari India Selatan dan juga populer di Malaysia serta Sri Lanka. Roti ini dibuat dari ghee atau minyak, air, tepung gandum, dan telur.
Proses memasaknya dilakukan dengan menggoreng adonan di wajan, lalu disajikan bersama berbagai kari, sayuran, atau daging. Parotta juga dapat diolah menjadi hidangan lain, seperti kothu parotta, yakni parotta yang diparut dan dipadukan dengan daging, telur, serta saus saalna pedas.
Daftar lima besar ini menegaskan keragaman street food dunia, sekaligus menempatkan siomay sebagai salah satu jajanan Indonesia yang mendapat perhatian dalam pemeringkatan Taste Atlas tahun 2025.

