BERITA TERKINI
Suku Dayak Desa di Sintang Manfaatkan Tumbuhan Hutan sebagai Bumbu Masakan, Budayawan Ingatkan Ancaman Kelestarian

Suku Dayak Desa di Sintang Manfaatkan Tumbuhan Hutan sebagai Bumbu Masakan, Budayawan Ingatkan Ancaman Kelestarian

Masyarakat suku Dayak Desa di Kalimantan, khususnya di Kabupaten Sintang, masih menjalani kehidupan yang erat dengan alam sekitar. Kedekatan itu tercermin dalam kebiasaan memanfaatkan beragam tumbuhan sebagai bumbu dan rempah untuk berbagai masakan tradisional.

Budayawan Dayak Desa, Hendrikus Julung, mengatakan praktik tersebut merupakan bagian dari budaya yang diwariskan turun-temurun dan berkembang menjadi kearifan lokal yang tetap dijaga hingga kini. Hal itu ia sampaikan saat mengisi program Ragam Budaya Dayak Desa pada Minggu (15/3/2026) di Studio Pro 1 RRI Sintang.

Namun, Hendrikus menilai keberadaan sejumlah tumbuhan yang selama ini dimanfaatkan sebagai bumbu semakin berkurang dari waktu ke waktu. Ia mengaitkan kondisi tersebut dengan pembukaan hutan secara berlebihan untuk kegiatan perkebunan yang tidak memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

Selain faktor lingkungan, ia juga menyoroti menurunnya minat masyarakat untuk mempelajari jenis-jenis tumbuhan lokal yang dapat dimanfaatkan sebagai bumbu dan rempah. Menurutnya, situasi ini diperparah oleh meningkatnya sifat konsumtif, ketika sebagian masyarakat lebih memilih bumbu instan karena dianggap lebih praktis.

Hendrikus menjelaskan, keanekaragaman tumbuhan yang digunakan sebagai bumbu masakan sebenarnya sangat tinggi dan dinilai memiliki prospek ekonomi untuk dikembangkan. Karena itu, pengetahuan mengenai pemanfaatan tumbuhan lokal perlu terus diwariskan dari generasi ke generasi agar tetap lestari, antara lain melalui edukasi dan pengembangan potensi lokal yang berkelanjutan.

Ia memaparkan sejumlah tumbuhan yang kerap dimanfaatkan sebagai bumbu, di antaranya kelompok rimpang seperti liak bumbu (jahe bumbu), liak padi, liak jerenang (jahe merah), cekur, dan kunyit. Selain itu, terdapat pula tumbuhan pemberi rasa asam seperti kecalak (kecombrang), kandis, kacam pelanuk, riang akar, riang pohon, pucuk jengger, asam empelam, tempaling atau manyam putat, belimbing tunjuk (belimbing wuluh), rampang beram atau tuak, nasi untuk pembuatan jukut, rusit, dan pekasam, terong asam, terung bulu, serta lima.

Beragam tumbuhan lain juga digunakan sebagai bumbu masakan, seperti lekau, tepus, rangki, upak pisang, daun simpur, kucai, daun ilung, sengkubak, mengkudu, sang atau sahang (lada), serta kulat putih atau jamur. Hendrikus menyebut masih banyak jenis tumbuhan lain yang dapat dimanfaatkan sebagai bumbu dan rempah dalam masakan tradisional.

Di akhir acara, Hendrikus mengingatkan pentingnya keberadaan tumbuhan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama sebagai bahan bumbu dan rempah. Ia menekankan bahwa menjaga kelestarian lingkungan menjadi kunci agar ketersediaan tumbuhan tersebut tetap terjaga.

Menurutnya, menjaga, memelihara, dan melestarikan budaya pemanfaatan tumbuhan merupakan tanggung jawab bersama. Upaya itu, kata dia, perlu didukung melalui edukasi berkelanjutan di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat luas.