Secangkir teh hangat kerap menjadi pilihan banyak orang di pagi hari atau saat bersantai. Namun, sejumlah penelitian mengingatkan adanya potensi paparan mikroplastik dari beberapa jenis teh celup, terutama yang menggunakan kantong berbahan plastik atau mengandung komponen plastik tertentu.
Mikroplastik dapat muncul dalam seduhan teh karena bahan kantong teh yang dipakai sebagian produsen. Beberapa kantong teh dibuat dari plastik seperti nilon, polyethylene terephthalate (PET), atau polyvinylidene chloride (PVDC). Selain itu, pada kantong teh berbahan kertas, plastik juga dapat digunakan sebagai perekat untuk menyegel kantong. Ketika kantong tersebut terkena air panas, ikatan polimer pada plastik berpotensi terurai dan melepaskan partikel kecil berupa mikroplastik, bahkan nanoplastik yang ukurannya lebih kecil dari 100 nanometer.
Temuan ini antara lain disorot dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Environmental Science & Technology Letters pada 2019 oleh peneliti dari McGill University, Kanada. Dalam penelitian tersebut, satu kantong teh plastik yang diseduh pada suhu 95°C dilaporkan dapat melepaskan sekitar 11,6 miliar partikel mikroplastik serta miliaran partikel nanoplastik ke dalam satu cangkir teh.
Partikel-partikel ini tidak terlihat oleh mata telanjang dan berpotensi tertelan bersama minuman. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan tentang keamanan konsumsi teh celup yang menggunakan material plastik.
Adapun penelitian mengenai dampak mikroplastik pada kesehatan manusia masih terus berkembang. Sejumlah studi awal mengindikasikan beberapa kemungkinan risiko, antara lain peradangan pada saluran pencernaan, potensi mikroplastik sebagai pembawa bahan kimia berbahaya, gangguan pada sistem pencernaan karena partikel berukuran sangat kecil berpotensi menembus jaringan, serta kemungkinan dampak terhadap sistem kekebalan tubuh berdasarkan temuan pada penelitian hewan. Meski demikian, diperlukan riset lebih lanjut untuk memahami dampak jangka panjangnya pada manusia.
Bagi konsumen yang ingin mengurangi potensi paparan, terdapat beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan. Pertama, memilih teh celup dengan kantong kertas atau bahan biodegradable yang tidak menggunakan plastik sebagai perekat, dengan memperhatikan label bahan pada kemasan. Kedua, menggunakan teh tubruk atau daun teh lepas (loose leaf) yang diseduh dengan teko atau saringan, sehingga tidak melibatkan kantong teh. Ketiga, memperhatikan karakter kantong teh—kantong yang tampak mengilap atau terasa seperti plastik dapat dihindari dan diganti dengan yang berbahan serat alami. Keempat, menyeduh dengan suhu sedikit lebih rendah bila memungkinkan, meski temuan studi yang dirujuk dilakukan pada 95°C dan diperlukan penelitian lanjutan untuk memastikan pengaruh penurunan suhu terhadap pelepasan partikel.
Temuan terkait mikroplastik dari kantong teh menjadi pengingat untuk lebih mencermati bahan kemasan produk sehari-hari. Memilih jenis kantong teh yang lebih aman atau beralih ke daun teh lepas dapat menjadi opsi untuk menekan potensi paparan.

