BERITA TERKINI
Street Food Couture, Tren Jajanan Kaki Lima Naik Kelas dalam Future Menu 2025

Street Food Couture, Tren Jajanan Kaki Lima Naik Kelas dalam Future Menu 2025

Laporan Unilever Food Solutions (UFS) mencatat, 79 persen masyarakat Indonesia menyukai jajanan kaki lima atau street food. Popularitas street food dinilai tak lepas dari harga yang terjangkau, ragam pilihan, serta cita rasa yang digemari banyak orang.

Seiring waktu, variasi jajanan kaki lima juga semakin beragam. Kondisi ini dipandang sebagai peluang bagi pelaku usaha untuk mengembangkan bisnis makanan yang tetap populer, namun menawarkan kualitas yang lebih tinggi. Atas dasar itu, UFS memasukkan konsep “street food couture” sebagai salah satu tren dalam Future Menu 2025.

Future Menu 2025 turut menyoroti Generasi Z sebagai kelompok yang dinilai paling berpengaruh dalam tren kuliner. Berdasarkan riset, Gen Z cenderung menyukai personalisasi, cita rasa global, serta pengalaman makan yang imersif. Mereka juga memprioritaskan nilai uang dari makanan yang dibeli, sehingga street food dianggap relevan untuk menyesuaikan selera pasar dan arah tren.

Salah satu koki UFS, Nadya Risdiana, menjelaskan bahwa tren street food couture menawarkan peningkatan kualitas jajanan kaki lima, mulai dari pemilihan bahan hingga teknik pengolahan. Dengan pendekatan ini, street food dinilai siap “naik kelas” tanpa kehilangan ciri rasa khasnya.

Menurut UFS, street food couture tidak serta-merta berarti harga jajanan kaki lima menjadi lebih mahal. Selain penggunaan bahan dan teknik yang lebih premium, aspek penyajian juga dapat dibuat lebih inovatif dan menarik.

Brandon Collins, koki eksekutif di UFS, menekankan bahwa upaya menaikkan kelas jajanan kaki lima tidak boleh meninggalkan akarnya. Ia menyebut, pelaku usaha bukan hanya menawarkan bahan dan teknik premium dengan harga lebih tinggi, melainkan perlu menghadirkan “visi” dari makanan yang disajikan.

Pelaku bisnis kuliner juga dapat mempertahankan kekhasan street food melalui pengalaman yang interaktif. Street food identik dengan suasana “jalanan” di mana konsumen dapat melihat proses memasak. Karena itu, restoran dapat menghadirkan demonstrasi live cooking atau bahkan workshop pembuatan street food yang menjadi favorit pelanggan.

Selain pengalaman interaktif, personalisasi menu juga dapat menjadi ciri yang diadopsi dalam street food couture. Misalnya, pelanggan diberi pilihan untuk menghilangkan bahan tertentu atau menyesuaikan tingkat kepedasan sesuai selera.

Personalisasi juga dapat diterapkan dalam pemasaran, seperti mendorong pengunjung membagikan pengalaman mereka di media sosial. Pendekatan ini dinilai dapat memperkuat daya tarik karena rekomendasi personal cenderung lebih dipercaya.

UFS juga mencatat, berdasarkan survei mereka, 60 persen Gen Z menunjukkan minat pada restoran yang menyediakan makanan dari berbagai budaya. Karena itu, bisnis yang mengadopsi street food couture dapat mempertimbangkan rotasi menu untuk mengeksplorasi sajian baru, sekaligus menawarkan kesempatan bagi konsumen untuk mencobanya melalui promosi di media sosial. Perhatian pada menu minuman pendamping juga disebut perlu menjadi bagian dari pengembangan konsep.