BERITA TERKINI
ST Wijaya Kusuma Angkat Kisah Prabu Dewata Cengkar, Manfaatkan 10 Kg Kulit Telur untuk Ogoh-ogoh Badung 2026

ST Wijaya Kusuma Angkat Kisah Prabu Dewata Cengkar, Manfaatkan 10 Kg Kulit Telur untuk Ogoh-ogoh Badung 2026

MANGUPURA—ST Wijaya Kusuma dari Banjar Dlodpasar, Desa Blahkiuh, Kecamatan Abiansemal, Badung, tampil dalam penilaian lomba ogoh-ogoh tingkat Kabupaten Badung 2026 yang digelar Rabu (18/2/2026). Mengusung tema “Prabu Dewata Cengkar”, karya mereka menarik perhatian karena mengeksplorasi bahan-bahan alami yang tidak lazim.

Perancang ogoh-ogoh, I Gede Sukarmayasa yang akrab disapa Gun, mengatakan dirinya sudah delapan tahun dipercaya merancang ogoh-ogoh di Banjar Dlodpasar. Ia menyebut pengerjaan tahun ini dimulai pada akhir November 2025 dan rampung pada 12 Februari 2026, lebih awal dari jadwal penilaian.

“Astungkara selesai tepat waktu. Jadi kami bisa lebih tenang mempersiapkan penilaian,” ujar Gun.

Sejak 2023 (Caka 1945), ST Wijaya Kusuma konsisten menggunakan bahan alami sebagai ciri khas. Jika pada tahun-tahun sebelumnya mereka memanfaatkan cabai kering, bunga jepun (kamboja) kering, dan daun kering, pada garapan 2026 ini mereka menambahkan kulit telur serta beragam biji-bijian dan bumbu dapur.

Gun menjelaskan, sekitar 10 kilogram kulit telur digunakan untuk melapisi karakter raksasa sebagai visualisasi sifat angkara Prabu Dewata Cengkar. Sementara payasan atau ornamen tokoh dibuat dari biji jagung, kacang merah, ketumbar, serta aneka bumbu dapur.

“Bagian terumit adalah penempelan kulit telur dan bagaimana membuatnya menyatu secara estetis dengan anatomi tokoh. Itu memakan waktu dan kesabaran ekstra,” katanya.

Kisah yang diangkat mengisahkan Prabu Dewata Cengkar, raja raksasa yang gemar memakan daging manusia untuk menambah kesaktian. Ambisi itu membuatnya melupakan kewajiban sebagai raja untuk menyejahterakan rakyat, bahkan menjadikan rakyatnya sebagai santapan demi kekuatan pribadi.

Dalam visual ogoh-ogoh, sosok Dewata Cengkar ditampilkan dominan di bagian atas. Lapisan kulit telur pada tubuh raksasa dimaknai sebagai simbol sifat angkara sang raja. Di bagian bawah, digambarkan rakyat yang tertindas serta kehadiran Aji Saka yang melilitkan sorban ke tubuh Dewata Cengkar hingga menyeretnya ke pantai selatan. Pada akhir kisah, Dewata Cengkar diceritakan tenggelam dan berubah menjadi buaya putih.

Di tengah tren ogoh-ogoh yang cenderung mengarah pada gaya realis, ST Wijaya Kusuma memilih jalur berbeda dengan menonjolkan eksplorasi bahan alami sebagai identitas karya.

“Kami ingin menggali karakter dan ciri khas sendiri. Tidak selalu harus realistis, tapi punya identitas,” tegas Gun.

Dari sisi pembiayaan, Gun menyebut anggaran pembuatan ogoh-ogoh berkisar Rp 30–38 juta, di luar dukungan dana Rp 40 juta dari Pemerintah Kabupaten Badung. Bahan-bahan alami diperoleh dari warga banjar, termasuk kulit telur yang berasal dari usaha roti dan bolu, serta cabai tak layak jual dari pedagang sayur.

“Kami manfaatkan apa yang ada di sekitar. Selain unik, ini juga bentuk kebersamaan warga,” tambahnya.

ST Wijaya Kusuma sebelumnya pernah menembus nominasi tingkat kabupaten dan Provinsi Bali pada 2020, serta kembali berprestasi pada 2023. Pada 2026 ini, mereka menjadikan lomba sebagai motivasi untuk kembali menembus nominasi dan tampil di Puspem Badung.

Gun menilai persaingan tahun ini cukup berat karena seluruh sekaa teruna menampilkan karya yang megah dan maksimal. “Semua luar biasa. Ini jadi pengalaman berharga untuk bisa lebih baik lagi di 2027,” pungkasnya.