Lombok Barat—Pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lelede merespons keluhan wali murid terkait menu dan kualitas program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Lombok Barat yang ramai diperbincangkan di media sosial. Aduan tersebut umumnya menyoroti dugaan ketidaksesuaian menu dengan anggaran yang diturunkan pemerintah.
Kepala SPPG Lelede, Dadang Murdiman, membenarkan adanya komplain dalam beberapa hari terakhir. Ia mengatakan persoalan itu telah menjadi perhatian serius pimpinan pusat.
Menurut Dadang, pimpinan pusat menginstruksikan seluruh SPPG untuk memperkuat akuntabilitas harga dan pemenuhan gizi melalui sistem transparansi menu. Salah satu langkah yang dilakukan adalah penyusunan template menu harian.
Template tersebut berisi foto menu, Angka Kecukupan Gizi (AKG), serta harga per item. Dadang menyebutkan ada pula instruksi untuk menempelkan harga pada item yang akan didistribusikan.
Ia menegaskan, sebagian konten yang beredar di media sosial dinilai tidak menggambarkan menu yang sebenarnya disalurkan. Salah satu contoh yang banyak dipersoalkan adalah menu yang disebut hanya berisi apel dan susu.
“Kalau hanya apel dan susu itu sebenarnya sudah salah. Tidak bisa dibilang cukup karena tidak ada protein, hanya serat saja,” ujar Dadang.
Sebagai respons atas keluhan, SPPG Lelede kini rutin membagikan template menu harian melalui media sosial resmi. Informasi yang disertakan meliputi foto menu, rincian gizi, serta harga tiap komponen makanan. Dadang menilai masukan yang muncul di kolom percakapan media sosial dapat menjadi bahan evaluasi.
Selain melalui media sosial, ia menyatakan pihaknya sejak awal penyaluran MBG lebih mengutamakan komunikasi langsung dengan sekolah melalui guru atau penanggung jawab penerima MBG di masing-masing satuan pendidikan. SPPG, kata dia, tetap membuka ruang komunikasi dan melakukan evaluasi atas keluhan di lapangan.
Terkait kualitas, SPPG Lelede menyatakan seluruh bahan makanan menggunakan standar terbaik, dengan proses pengolahan hingga distribusi yang diawasi ketat. Dadang menyebutkan pengolahan dilakukan tepat waktu, suhu makanan dijaga, dan pemasok diwajibkan memiliki sertifikat yang masih berlaku.
SPPG juga berupaya menyesuaikan menu dengan preferensi siswa, guru, dan wali murid tanpa mengabaikan batas anggaran serta standar kecukupan gizi.
Memasuki bulan Ramadan, Dadang memastikan penyaluran MBG tetap berjalan setiap hari tanpa sistem rapel hingga Idulfitri, dengan variasi menu yang berbeda setiap harinya.

