BONDOWOSO — Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Grujugan Kidul 02, Kecamatan Grujugan, Bondowoso, memaparkan rincian Angka Kecukupan Gizi (AKG) beserta biaya per item pada paket menu kering program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadhan. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk transparansi pelayanan dan untuk menjawab perbincangan masyarakat terkait besaran anggaran paket.
Kepala SPPG Grujugan Kidul 02, Rizqi Fitri Rafika Masriah, menjelaskan bahwa pihaknya mendapat arahan untuk menyampaikan secara terbuka detail AKG dan harga per item dalam setiap paket menu. Informasi tersebut dicantumkan pada materi menu harian yang dibagikan kepada penerima manfaat.
Pada menu MBG yang dibagikan hari itu, SPPG Grujugan Kidul 02 menampilkan paket porsi besar dan porsi kecil. Keduanya berisi roti Oreo, kacang polong, telur bebek, dan stroberi. Pada gambar menu juga dicantumkan rincian harga per item sebagai bentuk transparansi anggaran.
Rizqi turut memberikan klarifikasi atas informasi yang beredar di masyarakat mengenai biaya paket yang disebut mencapai Rp15 ribu per porsi. Menurutnya, angka tersebut tidak sepenuhnya tepat karena besaran anggaran berbeda sesuai kategori peserta didik.
Ia menyebutkan, untuk anak PAUD, TK, balita, serta siswa SD kelas 1 hingga 3, anggaran berada di kisaran Rp8 ribu per paket. Sementara untuk siswa SD kelas 4 hingga 6, SMP, dan SMA, anggaran berkisar Rp10 ribu per paket.
Ke depan, SPPG Grujugan Kidul 02 menyatakan akan rutin memperbarui informasi menu harian yang disertai keterangan nilai AKG serta rincian harga per item agar masyarakat dapat melakukan pengawasan. Pihaknya juga membuka ruang saran, kritik, dan masukan dari wali murid maupun masyarakat untuk disampaikan langsung ke SPPG.
Selain itu, Rizqi meminta dukungan pihak sekolah untuk membantu menyampaikan informasi kepada wali murid. Sosialisasi dinilai penting agar tidak terjadi kesalahpahaman terkait anggaran pelayanan paket MBG bagi penerima manfaat. Ia menyebut SPPG sebelumnya telah turun langsung ke sekolah dan menggelar rapat koordinasi, namun penyampaian ulang tetap akan dilakukan di masyarakat dan sekolah.

