PACITAN – SMPN 4 Nawangan, Kabupaten Pacitan, menjalankan program Madrasah Diniyah (Madin) setiap Rabu siang sebagai upaya menjaga akhlak dan moral siswa di tengah tantangan era digital. Kegiatan ini digelar setelah jam pelajaran formal berakhir, sehingga siswa tidak langsung pulang, melainkan mengikuti pembelajaran agama selama dua jam di lingkungan sekolah.
Program Madin disebut telah berjalan secara konsisten sejak awal semester ganjil tahun ajaran 2025/2026. Kepala SMPN 4 Nawangan, Mamik Hardiyono, menegaskan kegiatan tersebut merupakan bagian dari visi sekolah dalam memperkuat pendidikan karakter.
“Sekolah tidak cukup hanya mencetak anak yang pintar secara akademik. Karakter dan akhlak juga harus dibangun. Jam pelajaran agama di kurikulum sangat terbatas, karena itu kami menghadirkan Madin sebagai ikhtiar menghadirkan ruh pesantren di sekolah negeri,” ujar Mamik, Senin (5/1/2026).
Setiap Rabu pukul 13.30 WIB, suasana sekolah berubah. Koridor yang biasanya riuh diisi lantunan ayat suci Al-Qur’an. Para siswa mengikuti pembelajaran tauhid, fikih ibadah, serta bimbingan membaca Al-Qur’an secara intensif di kelas masing-masing.
Pelaksanaan Madin dikoordinasikan oleh guru agama SMPN 4 Nawangan, Agung Santoso, dengan melibatkan ustadz dan ustadzah dari lingkungan masyarakat sekitar. Pelibatan pengajar dari luar dilakukan untuk mengatasi keterbatasan tenaga pengajar agama di internal sekolah, sekaligus mendekatkan siswa dengan tradisi mengaji di masyarakat.
“Kami ingin anak-anak merasa seperti mengaji di lingkungan mereka sendiri, tetapi tetap dalam sistem sekolah. Fokus kami sederhana: pemahaman agama yang aplikatif dan kemampuan membaca Al-Qur’an dengan benar,” kata Agung.
Meski materi disampaikan oleh ustadz dan ustadzah dari luar, guru mata pelajaran umum tetap mendampingi siswa di kelas selama kegiatan berlangsung. Kehadiran guru Matematika, IPA, hingga Bahasa Inggris dinilai menjadi penegasan bahwa pendidikan karakter merupakan tanggung jawab bersama.
Program ini juga mendapat dukungan dari wali murid. Letak sekolah di Desa Mujing, Kecamatan Nawangan, dengan kultur masyarakat yang religius, membuat Madin diterima sebagai kebutuhan. Menurut Mamik, orang tua merasa terbantu karena anak tetap berada di sekolah untuk kegiatan positif, sehingga kekhawatiran terkait pengawasan dan pembiasaan ibadah dapat berkurang.
Dukungan wali murid turut terlihat melalui pemantauan rutin memakai buku kendali mengaji yang disediakan sekolah. Kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan tokoh agama disebut membentuk ekosistem pendidikan yang saling menguatkan.
Kegiatan Madin pada Rabu (10/12/2025) lalu menjadi penutup semester ganjil. Menjelang libur panjang, siswa mendapatkan penguatan agar tetap menjaga ibadah di rumah. Sekolah berharap program rutin tersebut dapat menjadi ruang bagi sekolah negeri untuk membangun karakter religius melalui praktik yang sederhana dan konsisten.

