BERITA TERKINI
Lima Cerpen Haruki Murakami yang Menggambarkan Rasa Kehilangan dan Cara Menjalani Hidup Dengannya

Lima Cerpen Haruki Murakami yang Menggambarkan Rasa Kehilangan dan Cara Menjalani Hidup Dengannya

Haruki Murakami kerap menempatkan rasa kehilangan sebagai pusat cerita: kehilangan orang yang dicintai, kehilangan kebebasan, hingga kehilangan bagian dari diri sendiri. Sejumlah cerpennya menampilkan tokoh-tokoh yang berusaha bertahan dengan cara masing-masing—mulai dari berpegang pada kenangan, memikul duka yang tak kunjung usai, sampai belajar menerima kenyataan.

Berikut lima cerpen Murakami yang menyoroti tema kehilangan dan respons para tokohnya dalam menghadapinya.

1. Confessions of a Shinagawa Monkey (2020)
Cerita pendek ini merupakan sekuel dari A Shinagawa Monkey yang terbit di majalah The New Yorker pada 2006. Tokohnya adalah seekor monyet seukuran tubuh anak kecil yang dapat berbahasa manusia dan gemar mencuri nama perempuan. Dalam kelanjutannya, asal-usul monyet Shinagawa diungkap, termasuk bagaimana ia memperoleh kemampuan berbahasa, kisahnya yang tersingkir dari kawanan, serta caranya menjalani hidup tanpa perempuan yang dikasihinya.
Di tengah hidup yang dibayangi kehilangan, monyet Shinagawa digambarkan tetap mampu menanggung derita. Ia memandang cinta dapat pergi kapan saja, namun kenangan dan memori tentang perempuan yang dicintainya dianggap cukup untuk menopang gairah dan semangatnya untuk terus hidup.

2. The Wind Cave (2018)
Cerpen ini mengikuti upaya seorang anak muda mengatasi rasa bersalah atas kematian adik perempuannya. Meski tidak berkaitan langsung, ia meyakini sebuah insiden yang dialami sang adik di gua dekat Gunung Fuji turut berperan terhadap kematian itu di kemudian hari.
Cerita ini juga menyinggung ragam luka batin: ada yang cepat pulih, ada yang memerlukan waktu lama. Namun kehilangan yang dialami tokoh utama digambarkan akan terus menetap di relung hati—derita yang hidup bersamanya dan memaksanya tetap menjalani hidup dengan rasa pilu tersebut.

3. Kino (2015)
Tokoh utama adalah pemilik bar yang menyimpan kisah pilu di masa lalu dan baru saja berpisah dari istrinya. Ia kemudian berhadapan dengan peristiwa-peristiwa spiritual dan magis, termasuk kedatangan tamu misterius yang menjadi pelindungnya dari ancaman ular serta tamu pembuat onar.
Seiring cerita berjalan, pembaca dibawa melihat pengalaman kehilangan besar yang pernah dialami sang protagonis. Karena terus menahan perasaan itu dan menghindarinya, ia menjadi pribadi yang kosong dan berhati beku. Dalam pelariannya dari sebuah ancaman, ia mengalami semacam perjalanan spiritual yang mengantarkannya pada sikap menerima kehilangan dan menjalani hidup dengan perasaan tersebut.

4. Scheherazade (2014)
Cerita ini berkisah tentang seorang laki-laki yang kehilangan kehendak bebas karena hidup terkurung di sebuah kamar. Meski demikian, kebutuhan sandang, pangan, hingga kebutuhan seksualnya dipenuhi oleh seorang perempuan bernama Habara. Bagi tokoh laki-laki itu, kehadiran Habara selalu dinantikan, bukan hanya karena pemenuhan kebutuhan harian, melainkan juga karena cerita-cerita Habara yang menarik. Hingga pada suatu saat, Habara menghilang dan tak pernah datang lagi.
Dalam situasi serba kehilangan tersebut, cerpen ini memuat pesan agar manusia bersiap kehilangan sesuatu yang penting—sesuatu yang bisa begitu menarik hingga seseorang rela mengorbankan segalanya. Dengan berpegang pada gagasan itu, seseorang dinilai tak semestinya larut dalam kekecewaan berlebihan.

5. U.F.O. in Kushiro (2001)
Cerpen ini berfokus pada seorang laki-laki yang harus menjalani hidup setelah istrinya pergi begitu saja. Sang istri meninggalkan rumah usai menyaksikan berita gempa bumi besar di salah satu wilayah Jepang, dan hanya meninggalkan surat bahwa ia akan tinggal sementara di rumah ibunya.
Merasa kehilangan, tokoh laki-laki itu memutuskan rehat dari pekerjaannya dan melakukan perjalanan ke suatu daerah. Perjalanan tersebut memperlihatkan besarnya kehilangan yang ia rasakan. Dalam konteks peristiwa gempa bumi dahsyat yang pernah melanda Jepang, cerita ini juga dapat dibaca sebagai pesan bahwa manusia tidak bisa lari dari kenyataan atau menghindari kehilangan. Karena perasaan itu selalu mengikuti, yang dapat dilakukan adalah menerima dan hidup bersamanya.

Kelima cerpen tersebut memperlihatkan spektrum kehilangan—dari duka personal hingga keterasingan—serta cara tokoh-tokohnya bertahan: menyimpan kenangan, memikul luka yang menetap, atau belajar menerima hal yang tak bisa dikendalikan.