Di era media sosial yang serba cepat, banyak anak muda merasa semakin mudah membandingkan diri dengan orang lain. Beragam hal yang muncul setiap hari di layar ponsel—mulai dari pencapaian, penampilan, hingga gaya hidup—kerap menjadi pemicu rasa tidak percaya diri atau insecure.
Dalam situasi tersebut, muncul istilah “seni hidup bodo amat” yang kerap dipahami sebagai upaya untuk tidak terlalu larut dalam penilaian maupun standar yang terlihat di media sosial. Bagi sebagian anak muda, sikap ini dipandang sebagai cara untuk melepaskan diri dari tekanan perbandingan yang terus-menerus.
Meski demikian, fenomena ini berangkat dari realitas bahwa paparan konten yang konstan dapat memengaruhi cara seseorang menilai dirinya sendiri. Apa yang tampak di media sosial sering kali menjadi tolok ukur, sehingga tanpa disadari memicu rasa kurang, tertinggal, atau tidak cukup baik.
Dengan latar tersebut, “bodo amat” diposisikan sebagai respons terhadap situasi yang membuat sebagian anak muda merasa terbebani. Intinya, mereka berusaha menjaga jarak dari dorongan untuk selalu menyamai apa yang dilihat, serta mengurangi dampak perbandingan yang memicu insecure.