Transformasi industri kuliner lokal di Samarinda mulai mengarah pada penguatan hilirisasi produk perikanan, seiring meningkatnya mobilitas tamu luar daerah dan pertumbuhan kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN). Pelaku usaha rumah makan berbasis hasil laut memanfaatkan momentum ini untuk mengolah bahan baku perikanan menjadi menu siap konsumsi dengan nilai tambah lebih tinggi.
Owner Rumah Makan Torani Samarinda, Qintamani Istighfarin Qadr, mengatakan perubahan pasar mulai terasa dalam beberapa tahun terakhir. Ia menyebut kunjungan tamu dari luar daerah meningkat, terutama dari kalangan pekerja proyek, instansi, dan mitra usaha yang berkaitan dengan pengembangan IKN.
“Sekarang tamu kami tidak hanya warga lokal. Banyak yang datang dari luar Kalimantan Timur dan ingin mencicipi olahan ikan khas daerah. Ini menjadi peluang besar bagi pelaku kuliner,” ujarnya, Selasa (24/2/2026).
Menurut Qintamani, hilirisasi produk laut terlihat dari cara bahan baku segar diolah menjadi menu bernilai tambah. Ia mencontohkan ikan bandeng tanpa duri, kepiting dengan saus khas, hingga aneka olahan seafood, yang menunjukkan hasil perikanan tidak lagi dijual dalam bentuk mentah, melainkan disajikan siap konsumsi dengan kualitas terjaga.
Ia menuturkan, menjaga kualitas bahan baku menjadi prioritas utama. Pasokan ikan diperoleh dari pembudidaya dan nelayan lokal untuk memastikan kesegaran. Selain itu, pola kemitraan dengan pemasok dijalankan agar ketersediaan bahan tidak terganggu.
“Kami sangat bergantung pada kualitas bahan baku. Kalau ikan segar dan proses pengolahannya baik, pelanggan pasti kembali lagi,” katanya.
Selain kualitas, standar kebersihan dapur dan pengemasan juga menjadi perhatian. Qintamani menilai konsumen dari luar daerah umumnya lebih kritis terhadap aspek higienitas dan pelayanan. Karena itu, manajemen rumah makan terus melakukan pembenahan internal agar mampu bersaing dengan restoran di kota besar.
Pertumbuhan kawasan IKN dinilai memberi dampak tidak langsung terhadap sektor kuliner di Samarinda. Mobilitas tamu dan kegiatan pertemuan skala regional mendorong permintaan menu khas berbasis hasil laut. Kondisi ini sekaligus membuka ruang bagi pelaku UMKM perikanan untuk ikut memasok kebutuhan restoran.
Qintamani melihat perkembangan tersebut sebagai kesempatan memperkuat identitas kuliner daerah. Ia berharap produk perikanan Kalimantan Timur dapat semakin dikenal luas melalui sajian restoran yang konsisten menjaga cita rasa dan mutu.
“Kami ingin ketika orang datang ke Samarinda, mereka ingat dengan olahan ikan khas Kaltim. Itu bagian dari promosi daerah juga,” ucapnya.
Ia menambahkan, kolaborasi antara pembudidaya, pemasok, dan pelaku usaha kuliner perlu diperkuat agar rantai pasok berjalan stabil. Dengan sistem yang terintegrasi, industri makanan berbasis hasil laut diyakini dapat menjadi salah satu penopang ekonomi pesisir.
Momentum pertumbuhan IKN dinilai bukan hanya peluang jangka pendek, tetapi juga investasi jangka panjang bagi sektor kuliner dan perikanan daerah. Transformasi ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah produk laut sekaligus memperluas pasar bagi pelaku usaha lokal.

