Ritual perawatan kulit dari ribuan tahun lalu kembali menarik perhatian. Metode yang diwariskan lintas peradaban ini dinilai membantu orang merawat diri sekaligus merespons meningkatnya kepedulian terhadap dampak lingkungan dari industri kecantikan.
Gambaran populer tentang kemewahan perawatan kulit Mesir Kuno kerap dilekatkan pada Cleopatra. Dalam film Cleopatra (1963), sang ratu digambarkan berendam di bak berisi bunga dan air susu. Ikonografi semacam itu mengingatkan pada kisah ritual kecantikan kalangan kaya di Mesir Kuno yang disebut panjang dan rumit, termasuk mandi susu yang dicampur minyak safron.
Dalam praktik tersebut, susu dikaitkan dengan kandungan asam laktat yang membantu pengelupasan kulit. Sementara safron telah digunakan selama ribuan tahun untuk mengobati berbagai kondisi. Rempah ini dipanen dari putik oranye bunga Crocus sativus yang tumbuh di sabuk tanah kering panas dari Spanyol hingga Kashmir. Karena intensitas proses panennya—bunga dipetik saat fajar dan putiknya dikikis hati-hati, dengan hampir 5.000 bunga dibutuhkan untuk menghasilkan satu ons—safron dikenal sebagai “emas merah”. Perubahan iklim yang mengancam pertanian juga disebut dapat mendorong harganya naik.
Di tengah maraknya produk perawatan kulit modern, perhatian terhadap asal-usul bahan justru menguat. Laporan NPD Group pada 2021 menyebut 68% konsumen menginginkan perawatan kulit dengan bahan “bersih”, yang secara umum berarti tanpa PFA, paraben, dan ftalat. Sejumlah merek besar juga meluncurkan Konsorsium EcoBeautyScore untuk membangun transparansi melalui sistem penilaian dampak lingkungan global. Inisiatif lain, B Beauty Coalition, bertujuan menyatukan sertifikasi individu untuk menanggapi dampak besar industri.
Minat terhadap bahan alami dan organik pun dilaporkan terus meningkat. Firma riset Ecovia Intelligence mencatat nilainya mencapai US$11,9 miliar pada 2020, naik 2,9% dari tahun sebelumnya. Dalam konteks ini, ramuan tradisional dan ritual lama kembali dipandang sebagai sumber inspirasi.
Guru kecantikan alami Imelda Burke, dalam bukunya The Nature of Beauty (2016), menulis bahwa orang diajari untuk mengabaikan tradisi dan mencari “hasil lab”. Namun, ia menilai masih banyak hal yang dapat dipelajari dari leluhur.
Sejumlah bahan yang berakar dari tradisi panjang kini hadir dalam kemasan modern. Minyak mawar, misalnya, memiliki sejarah panjang di Timur Tengah. Turki disebut masih menjadi salah satu produsen terbesar, dengan kecintaan pada air mawar murni yang sudah ada sejak 2.000 tahun lalu. Mawar digambarkan kaya vitamin, mineral, dan antioksidan yang melembapkan, memiliki sifat anti-inflamasi, serta dapat membantu menenangkan kulit yang iritasi, sekaligus dikenal dengan aromanya.
Kunyit juga menjadi contoh lain. Rempah berwarna kuning ini telah menjadi inti praktik Ayurveda selama lebih dari 4.500 tahun dan belakangan populer di dunia Barat, termasuk untuk minuman seperti latte. Shabir Daya, apoteker di Victoria Health, mengatakan kepada Vogue bahwa kunyit merupakan penambah kekebalan yang baik dan memiliki sifat antioksidan kuat, sekitar lima hingga delapan kali lebih kuat daripada vitamin C dan E. Di India, pengantin mengoleskan kunyit ke tangan dan wajah sebelum pernikahan sebagai simbol penyucian dan berkah. Namun, bahan aktifnya, kurkumin, disebut dapat memiliki efek samping.
Di Maroko, perempuan Berber masih memanen minyak argan dari cabang-cabang pohon berduri. Minyak argan kaya omega tiga dan enam, dan telah diperdagangkan sebagai agen kecantikan di sekitar Mediterania selama ribuan tahun. Sementara di Polinesia, minyak monoi—yang berasal dari 2.000 tahun lalu oleh penduduk asli Maohi—dibuat dengan merendam kelopak gardenia Tahiti dalam minyak kelapa, dan dipuja sebagai pelembut kulit dan rambut. Di Kosta Rika, orang Bribri dan Cabécares menggunakan teh hijau untuk memperbaiki warna kulit, membantu menyembuhkan noda, dan mengurangi peradangan.
Masuknya bahan-bahan tersebut ke perawatan kulit Barat kini juga dibaca dalam lanskap yang berubah. Ceritanya, sebagaimana digambarkan, tidak semata tentang merek Barat yang mengangkat rempah dan ramuan sebagai “tren besar” berikutnya yang mengingatkan pada kolonialisme. Industri kecantikan disebut menyaksikan semakin banyak perempuan kulit hitam dan pribumi yang mengambil kepemilikan atas warisan budaya mereka melalui kebangkitan ritual dan ramuan leluhur, dengan cara yang merayakan—bukan mengapropriasi—budaya mereka dan sesuai kebutuhan komunitas.
Sejumlah label disebut membangun produk dengan bahan herbal alami yang telah digunakan komunitas mereka selama beberapa dekade. Di antaranya Cheekbone Beauty oleh Jennifer Harper (Kanada-Anishinaabe) dan Prados Beauty oleh Cece Meadows (Arizona-Xicana), yang menggunakan bahan seperti sage dan lavender. Banyak pendiri juga memanfaatkan merek untuk menciptakan lapangan kerja bagi komunitas, mulai dari mengumpulkan bahan di alam hingga menjual produk di pasar petani dan etalase toko.
Perubahan lain yang menonjol adalah pergeseran fokus dari “alami dan organik” ke “keberlanjutan”. Armarjit Sahota, presiden dan pendiri Ecovia Intelligence, mengatakan pada Desember 2021 kepada Cosmetics Design Europe bahwa diskusi tengah berubah ke keberlanjutan, dengan semakin banyak bahan yang berkelanjutan. Menurutnya, para pionir kecantikan alami dan organik awalnya berfokus pada formula berbasis tanaman untuk dampak yang lebih rendah pada kesehatan manusia, namun kini memimpin inisiatif keberlanjutan yang lebih luas. “Ini bukan lagi tentang alam dan organik; ini tentang isu-isu hijau yang lebih luas,” ujarnya.
Kekhawatiran tersebut, menurut Kathryn Bishop dari The Future Laboratory, terkait pengalaman pandemi Covid-19 dan percepatan krisis iklim yang menyebabkan banjir, kekeringan, gagal panen, dan perpindahan penduduk di berbagai wilayah. Ia menekankan pentingnya simbiosis dengan alam dan menghormatinya. Dalam kondisi masyarakat yang selalu terhubung, kaitan antara kecantikan, perawatan diri, dan lingkungan semakin diutamakan. Konsumen disebut mencari produk yang mencerminkan kekhawatiran mereka—bagi orang lain dan planet ini—serta praktik yang menenangkan sekaligus menghubungkan pada realitas yang lebih besar.
Di tengah upaya “memulihkan keseimbangan”, adat istiadat kuno yang terinspirasi dari alam dan bahan alami kembali digali. Merek kesehatan Australia, Subtle Energies, misalnya, memadukan teknik Ayurveda India dengan aromaterapi. Produk perawatan kulitnya mengandung minyak esensial Palmarosa, Mogra, dan Frankincense, dalam minyak dasar jojoba dan ashwagandha. Pendiri merek, Farida Irani, menyebut minyak esensial sebagai “alat luar biasa” dari alam dan menggambarkannya sebagai “kekuatan hidup” yang dapat membantu orang hidup lebih sadar, untuk diri sendiri dan planet ini.
Bishop juga menyoroti bahwa praktik kuno perawatan tubuh, pikiran, kulit, dan rambut kerap selaras dengan musim dan peristiwa alam, merayakan Bumi serta flora dan fauna yang disediakan, dan menggunakannya dengan hormat. Namun kini, menurutnya, orang semakin memperhatikan jejak mereka di Bumi, baik jejak karbon maupun penggunaan sumber daya. Praktik dan bahan kecantikan yang sadar planet dinilai dapat membantu mengurangi dampak rutinitas perawatan diri atau kebersihan harian.
Contoh rutinitas sederhana yang kembali populer adalah gua sha, teknik pijat diri tradisional Tiongkok. Batu halus seukuran tangan—biasanya batu giok, kuarsa mawar, atau obsidian—ditekan dan digerakkan di wajah untuk meningkatkan sirkulasi. Gua sha telah digunakan selama berabad-abad untuk membantu penyembuhan, termasuk nyeri otot dan ketegangan, dan kemudian diadopsi industri kecantikan Barat. Pijat sekitar 15 menit pada dahi dan pipi dengan batu dingin disebut dapat membantu mengurangi ketegangan.
Penulis Hannah-Rose Yee, dalam majalah Stylist, menggambarkan kebiasaan neneknya yang rutin menggunakan gua sha setiap malam, serta kenangannya memegang alat tersebut yang terasa dingin dan berat. Ia menuturkan kini menjalankan ritual gua sha sendiri seminggu sekali dengan roller kuarsa mawar, dan berharap suatu hari mewarisi alat giok gua sha milik neneknya.
Selain itu, penerapan panas yang digunakan banyak budaya sepanjang zaman juga kembali dipertimbangkan. Dalam tradisi suku Aztec di Mesoamerika kuno, temazkal adalah pondok uap dari batuan vulkanik—bukan mandi air—yang digunakan setidaknya 700 tahun sebelum penjajah Spanyol datang. Temazcal berasal dari kata temāzcalli atau “rumah panas” dalam bahasa Nahuatl, umumnya berbentuk kubah dan menjadi simbol rahim ibu alam, yang melambangkan kelahiran kembali.
Ilmu pengetahuan modern disebut mendukung sebagian manfaat uap, seperti membantu membersihkan sistem pernapasan yang tersumbat dan menenangkan beberapa penyakit lain. Bangsa Maya kuno juga disebut kerap melakukan upacara temazcal untuk prajurit yang kembali dari pertempuran. Upacara ini menggabungkan nyanyian Mesoamerika, meditasi, serta batu panas yang disiram air berisi ramuan untuk menciptakan uap aromatik. Kini, sauna disebut terus menawarkan manfaat serupa.
Irani menyampaikan harapan bahwa kembalinya ritual kuno dapat membantu mengembalikan keseimbangan. Ia menilai gangguan terhadap elemen-elemen yang membentuk kehidupan telah memicu banyak masalah yang terlihat saat ini, dan bahwa membawa keseimbangan—untuk diri sendiri terlebih dahulu dan lingkungan sekitar—dapat menghasilkan perubahan positif dalam cara manusia hidup.

