SORONG — Anggota Komisi VII DPR RI dari Daerah Pemilihan Papua Barat Daya, Dr Rico Sia, M.Si bekerja sama dengan Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) menggelar pelatihan bertajuk “Masak Bersama Master (Masamo) Inovasi Kuliner Lokal Untuk Usaha” di Hotel Mariat, Sorong, Rabu (4/11/2026). Kegiatan ini ditujukan untuk membekali masyarakat agar bertumbuh menjadi pelaku usaha kreatif dan mandiri melalui keterampilan yang dimiliki.
Pembukaan kegiatan ditandai dengan penabuhan tifa sebanyak tujuh kali. Pelatihan yang diikuti 70 peserta itu dibuka oleh Rico Sia dan disaksikan Direktur Seni Rupa dan Seni Pertunjukkan Kemenekraf, Dr Dadam Mahdar, M.Hum, serta Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Papua Barat Daya, Dr Yusdi Lamatenggo, S.Pi, MM.
Selain pelatihan kuliner, Rico Sia juga membuka kegiatan “Pengembangan Sumber Daya Lokal Untuk Usaha Kreatif Berbasis KRIYA” yang digelar di lokasi yang sama. Pelatihan kerajinan tangan tersebut menghadirkan narasumber Janti Julisien, S.Pi, dan diikuti puluhan peserta.
Kepada media, Rico Sia menyampaikan bahwa rangkaian pelatihan pada masa reses kali ini dilaksanakan di sembilan titik, mencakup Kota Sorong, Kabupaten Sorong, Kabupaten Raja Ampat, Kabupaten Tambrauw, dan Kabupaten Sorong Selatan. Ia juga menyebutkan adanya penyaluran sejumlah bantuan, antara lain bantuan perumahan BSPS, bantuan bedah rumah, dan kegiatan lainnya.
Rico Sia berharap pelatihan kuliner dan kriya tersebut memberi manfaat bagi peserta, sehingga mereka dapat berkembang menjadi pelaku usaha kreatif dan pada akhirnya menopang ekonomi keluarga.
Dalam sambutannya, Dadam Mahdar mengatakan Kemenekraf terus mendorong masyarakat agar tidak hanya menjual bahan baku lokal, melainkan mampu mengolahnya menjadi produk bernilai tambah. Menurutnya, langkah itu dapat meningkatkan nilai ekonomi dan manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat maupun pelaku usaha lainnya.
Dadam juga menyampaikan lima rantai pasok di Kementerian Ekonomi Kreatif yang perlu dipahami peserta, yakni kreasi, produksi, distribusi, dikonsumsi, dan dikonservasi.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Papua Barat Daya, Yusdi Lamatenggo, mengapresiasi kolaborasi Rico Sia dengan Kemenekraf dalam penyelenggaraan Masamo. Ia menilai kegiatan tersebut berkaitan erat dengan sektor pariwisata, mengingat Papua Barat Daya memiliki potensi wisata yang dinilai menjanjikan.
Yusdi menyinggung sejumlah destinasi, antara lain Raja Ampat yang disebut telah mendunia dan masuk dalam 10 Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP), serta potensi lain seperti Danau Uternya di Kabupaten Maybrat, kali kaca dan “seribu sungai lainnya” di Sorong Selatan, serta destinasi di Kabupaten Sorong dan Tambrauw yang disebut menarik perhatian wisatawan asing.
Ia menekankan bahwa pariwisata tidak lepas dari kuliner dan menyebut kuliner sebagai identitas destinasi wisata. Yusdi menilai Papua Barat Daya belum memiliki kuliner khas yang benar-benar menjadi ikon daerah. Ia mencontohkan oleh-oleh yang kerap dibawa dari Sorong berupa abon gulung, namun produk tersebut juga dapat ditemukan di daerah lain.
Menurut Yusdi, diperlukan produk kuliner yang unik dan khas Papua Barat Daya tanpa meninggalkan cita rasa asli, namun dikemas dengan inovasi dan kreativitas agar menjadi penanda (trademark) daerah. Ia juga menyampaikan bahwa pihaknya telah mendaftarkan hak kekayaan intelektual (HAKI) sekitar 100 UMKM ke Kementerian Hukum.
Dalam pelatihan Masamo, narasumber Yuliani mempraktikkan pembuatan kue berbahan dasar sagu. Peserta terlihat antusias mengikuti proses hingga kue sagu kacang yang dipraktikkan siap dicicipi. Pada pelatihan KRIYA, peserta juga menyimak materi yang disampaikan narasumber Janti Julisen.
Untuk menyemarakkan suasana, Rico Sia menyelingi kegiatan dengan memberikan pertanyaan kepada peserta dengan hadiah Rp200.000. Rangkaian pelatihan ditutup dengan penyerahan cinderamata dan sesi foto bersama.