Gerobak berisi getuk berwarna-warni menjadi pemandangan tak biasa di tengah kemeriahan ajang lari JRF. Kudapan khas Magelang yang disajikan di atas daun pisang dengan taburan kelapa parut itu dibagikan kepada pelari dan pengunjung. Kehadirannya bahkan menarik perhatian hingga dijuluki “Gerobak Getuk Kalcer”, merujuk pada penampilan penjualnya yang bergaya seperti pelari.
Di balik pembagian getuk tersebut, tersimpan cerita tentang Rute Getuk—sebuah pengalaman berlari yang mengajak peserta mengenal Magelang melalui suasana kota, keramahan masyarakat, serta tradisi kuliner lokal. Cerita itu ditampilkan dalam video berdurasi 2 menit 22 detik yang memperlihatkan perjalanan para pelari menyusuri kota.
“Mengusung semangat Run Your Culture, Rute Getuk menawarkan pengalaman berlari yang tidak semata-mata berorientasi pada pencapaian personal best (PB). Para peserta diajak menikmati perjalanan, menyusuri sudut-sudut kota, berinteraksi dengan warga, melihat pemandangan, sekaligus mencicipi getuk yang telah lama menjadi bagian dari identitas kuliner Magelang,” tulis Puma Indonesia dalam keterangannya, Rabu (4/11).
Menelusuri tradisi getuk lintas generasi
Salah satu kisah yang diangkat dalam Rute Getuk datang dari keluarga Getuk Sri Rahayu. Keluarga ini telah membuat dan menjual getuk sejak 1940-an. Sri Rahayu, pemilik usaha tersebut, merupakan generasi ketiga sekaligus cucu Ali Mohtar, warga Dusun Karet yang dikenal sebagai pencipta getuk khas Magelang.
Resep dan tradisi pembuatan getuk diwariskan dari generasi ke generasi. Setiap hari, keluarga tersebut menempuh perjalanan sejauh 4,6 kilometer dari Desa Karet menuju Pasar Rejowinangun untuk membawa getuk kepada pembeli.
Perjalanan yang berlangsung selama puluhan tahun itu menjadi bagian dari pengalaman yang ingin diperkenalkan kepada para pelari. Peserta tidak hanya diajak mengenal Magelang melalui lokasi yang dilewati, tetapi juga melalui kisah masyarakat yang mempertahankan tradisi dan tumbuh bersama kota tersebut.
Pengalaman pelari: dari performa ke perjalanan
Bagi Michelle Lovelyn, yang mulai berlari pada 2017 setelah diajak seorang teman, pengalaman ini mengingatkannya pada hal-hal sederhana yang membuatnya menyukai olahraga lari. Menurutnya, kepuasan berlari tidak selalu berasal dari keberhasilan melampaui batas kemampuan atau mencatat waktu terbaik. Menikmati perjalanan tanpa terlalu memikirkan performa juga memberikan kesenangan tersendiri.
Kisah keluarga Getuk Sri Rahayu menjadi salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Michelle. Ia mengagumi ketekunan keluarga tersebut dalam mempertahankan tradisi membuat dan menjual getuk selama puluhan tahun. Membayangkan perjalanan yang dahulu ditempuh menggunakan sepeda atau kuda, dengan medan yang memiliki elevasi cukup menantang, membuatnya melihat rute tersebut dari perspektif berbeda.
Sementara itu, Irvin Iskandar mengingat Magelang melalui suasana kota yang tenang, udara pagi yang sejuk, serta keramahan warga. Kontur jalan yang terdiri atas tanjakan dan turunan memberi tantangan tersendiri sekaligus membuat pengalaman berlari terasa lebih dinamis. Pemandangan dan tempat-tempat khas yang dilewati juga memberinya kesempatan menikmati Magelang dari sudut pandang berbeda dari rutinitas lari yang biasa dijalaninya.
Pengalaman lain dirasakan M. Doni Maulana, yang mulai berlari pada 2022 dan konsisten menekuninya sejak 2023. Menurut Doni, kesederhanaan olahraga lari membuat aktivitas ini mudah menjadi bagian dari gaya hidup. Namun, perjalanan di Magelang memberinya pengalaman berbeda karena menyusuri kota sambil mengenal budaya dan kuliner setempat membuat lari menjadi cara untuk menjelajah sekaligus menemukan cerita yang bisa terlewat jika hanya berfokus pada kecepatan atau jarak tempuh.
Menghubungkan olahraga dengan budaya lokal
Pengalaman Michelle, Irvin, dan Doni memperlihatkan bahwa Rute Getuk menghadirkan perspektif berbeda tentang olahraga lari. Aktivitas ini tidak hanya menjadi sarana menjaga kebugaran atau mengejar catatan waktu, tetapi juga membuka kesempatan untuk mengenal karakter suatu daerah melalui cerita, suasana kota, dan tradisi kuliner yang menyertainya.