Popularitas kerap memengaruhi apa yang diinginkan konsumen—bahkan sebelum mereka benar-benar mengetahui kualitasnya. Hal ini terlihat dari pengalaman mencoba Mie Bangladesh, menu yang belakangan ramai dibicarakan. Semangkuk Indomie kuah Bangladesh seharga Rp13.000 itu dibeli setelah namanya terdengar di berbagai tempat dan memicu rasa penasaran. Makanan ini juga dikenal sebagai salah satu kuliner khas Medan, meski kisah asal-usulnya disebut memiliki beberapa versi.
Namun setelah dicicipi, kesan yang muncul justru biasa saja. Rasanya tidak buruk, tetapi juga tidak seistimewa bayangan yang terbentuk dari popularitasnya. Pengalaman tersebut memunculkan pertanyaan yang lebih luas: mengapa sesuatu yang sedang viral bisa membuat banyak orang ingin mencobanya, bahkan sebelum mengetahui seperti apa kualitas sebenarnya?
Dalam banyak situasi, keputusan membeli atau mencoba sesuatu tidak semata-mata didasarkan pada kebutuhan dan preferensi pribadi. Lingkungan sosial turut membentuk cara seseorang mengambil keputusan sebagai konsumen. Ketika sebuah produk atau makanan ramai dibicarakan, sebagian orang cenderung menganggapnya sebagai sesuatu yang “pantas dicoba” karena banyak orang lain terlihat menyukainya.
Fenomena ini dalam psikologi konsumen dikenal sebagai social proof, yakni kecenderungan seseorang menggunakan perilaku atau penilaian orang lain sebagai petunjuk saat menghadapi ketidakpastian. Ketika informasi yang dimiliki belum cukup, popularitas sering menjadi jalan pintas untuk memperkirakan kualitas. Ulasan yang dipenuhi komentar positif atau pembicaraan yang masif di media sosial dapat membuat sebuah produk tampak lebih meyakinkan.
Pembahasan mengenai pengaruh sosial terhadap perilaku konsumen juga diulas oleh Jennifer J. Argo (2020) dalam artikelnya A Contemporary Review of Three Types of Social Influence in Consumer Psychology. Dalam kajiannya, Argo menjelaskan bagaimana pengaruh sosial dapat membentuk pikiran, perasaan, dan perilaku konsumen.
Meski demikian, popularitas tidak selalu sejalan dengan kualitas. Produk yang ramai dibicarakan belum tentu menjadi yang paling memuaskan. Ada kalanya orang membeli karena penasaran, ingin mengikuti tren, atau sekadar ingin ikut terlibat dalam percakapan yang sedang berlangsung di sekitarnya.
Kecenderungan mengikuti pilihan yang sedang populer juga dikenal sebagai bandwagon effect. Dalam kondisi tertentu, seseorang mengikuti pilihan mayoritas bukan semata-mata karena benar-benar menyukainya, melainkan karena banyak orang lain telah memilih hal yang sama. Dampaknya, semakin populer sebuah produk, semakin besar pula peluang orang lain terdorong untuk mencoba—menciptakan siklus popularitas yang terus berulang.