Setidaknya 1.376 siswa sekolah di berbagai daerah diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG). Sejumlah orang tua mengaku trauma dan melarang anak mereka kembali menyantap makanan dari program tersebut. Di sisi lain, pakar gizi masyarakat menyarankan pelaksanaan MBG dihentikan sementara untuk evaluasi menyeluruh menyusul rentetan insiden di sejumlah wilayah.
Hasil investigasi dinas kesehatan di Bandung, Bogor, Tasikmalaya (Jawa Barat), serta Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) di Sumatra Selatan menemukan dugaan kontaminasi mikroorganisme pada sampel makanan dan/atau sarana pendukung pengolahan. Temuan itu mencakup bakteri Salmonella, E.coli, Bacillus cereus, Staphylococcus aureus, Bacillus subtilis, serta jamur Candida tropicalis.
Sejumlah orang tua menyampaikan kekhawatiran mereka. Fitri Febrianti, orang tua siswa di PALI, menilai program tersebut yang semula ia harapkan dapat meringankan beban justru membuat keluarganya cemas. “Saya pikir kalau dapat makan gratis bisa meringankan [beban], tapi ini bukannya meringankan malah [mau] membunuh. Tidak usah lagi makan gratis, daripada keracunan,” ujarnya. Irma Nurliana, orang tua di Kabupaten Tasikmalaya, menyatakan ia melarang anaknya mengonsumsi MBG karena trauma. “Kalau ada MBG jangan dikasih dulu, anak saya takut. Saya juga melarang, soalnya jadi trauma. Kasihan kalau anak keracunan,” katanya.
Sebelumnya, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menyatakan pemerintah akan bertanggung jawab membiayai ongkos pengobatan siswa korban keracunan MBG, termasuk memberikan kompensasi meski tidak untuk semua kasus.
Kasus di Tasikmalaya: 400 pelajar didata mengalami gejala
Di Kabupaten Tasikmalaya, Irma menceritakan anaknya, Syaina (kelas 2 SD), mengalami buang air besar berulang, mual, dan keluhan lain sejak tengah malam hingga subuh setelah menyantap MBG. Ia mengetahui banyak siswa mengalami gejala serupa melalui grup WhatsApp sekolah, lalu membawa anaknya ke puskesmas. Menurut Irma, dokter menyebut ada keracunan akibat bakteri.
Irma mengatakan menu MBG yang dimakan anaknya sehari sebelumnya di SDN Rajapolah antara lain ayam teriyaki, sayur waluh, tahu goreng, jagung, dan buah anggur. Ia juga menuturkan anaknya pernah menyebut beberapa menu terasa hambar, namun tetap dihabiskan karena mengikuti arahan guru.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tasikmalaya mencatat sedikitnya 400 pelajar dari jenjang TK, SD, Madrasah Ibtidaiyah, dan SMP mengalami keracunan setelah mengonsumsi MBG, dengan keluhan rata-rata sakit perut, mual, muntah, dan diare. Dinas Kesehatan setempat kemudian melakukan investigasi. Hasil pemeriksaan UPTD laboratorium Jawa Barat menemukan kandungan bakteri Bacillus subtilis pada lauk ayam teriyaki.
Kepala Bidang Pengawasan Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan Tempat Usaha di Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya, Epi Edwar Lutpi, tidak merinci mengapa bakteri tersebut dapat muncul dalam makanan. Ia menyebut pihaknya tidak berada di dapur saat penyajian, namun menilai kemungkinan ada ketidakcermatan pada distribusi dan waktu penyajian. Ia merekomendasikan proses memasak, distribusi, dan penyajian dilakukan bergelombang, tidak bersamaan. Operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat disebut dihentikan selama seminggu untuk evaluasi.
Kasus di PALI, Sumatra Selatan: temuan Staphylococcus aureus, Coliform, dan E.coli
Lima hari berselang, insiden dugaan keracunan MBG terjadi di Kabupaten PALI. Fitri Febrianti menceritakan anaknya, Nayla, mengeluh mual, pusing, dan sakit kepala setelah makan MBG pada Senin (05/05). Ia kemudian diminta segera membawa anaknya ke rumah sakit setelah menerima informasi adanya keluhan serupa pada banyak anak.
Di RS Bhayangkara Talang Ubi, Fitri menyaksikan banyak anak dengan gejala serupa. Nayla mendapat infus hingga dua botol dan dipasang selang oksigen karena sesak napas. Fitri mengatakan dokter menyebut Nayla “positif keracunan”. Anak tersebut tidak dirawat inap dan dipulangkan sekitar pukul 23.00 WIB, lalu beristirahat di rumah selama dua hari dan mengonsumsi obat dari dokter.
Fitri menyebut menu MBG yang dimakan anaknya antara lain ikan tongkol suwir, tempe goreng, dan buah. Dari pengakuan anaknya, ikan tongkol suwir “berlendir dan berbau”.
Dinas Kesehatan Provinsi Sumatra Selatan menyatakan total 173 anak dari jenjang PAUD hingga SMA mengalami gejala seperti mual, muntah, pusing, dan lemas usai menyantap MBG. Dari jumlah tersebut, sembilan anak dirawat inap. Dinas melakukan investigasi dan sidak ke dapur MBG di Talang Ubi pada Selasa (06/05).
Berdasarkan hasil laboratorium sampel makanan, dinas menyebut tempe goreng terkontaminasi bakteri Staphylococcus aureus melebihi nilai baku mutu. Selain itu, air bersih dari sumur bor dan PAM yang digunakan untuk mengolah makanan mengandung bakteri Coliform dan Escherichia coli (E.coli) melebihi nilai baku mutu.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Provinsi Sumsel, Deddy Irawan, menyampaikan kemungkinan cara penyimpanan bahan baku tidak maksimal. Ia menyebut mesin pendingin atau freezer kurang dingin dan tidak ada alat pemantau suhu. Ia juga menyoroti perlunya rak penyimpanan serta penerapan metode First In First Out (FIFO). Sesuai perintah bupati, operasional MBG di PALI sempat dihentikan sementara hingga ada perbaikan.
Kasus di Bandung: 585 siswa terdampak, temuan Bacillus cereus dan Candida tropicalis
Di Kota Bandung, Risti, siswi SMP Negeri 35, mengalami mual, diare, dan sakit perut setelah menyantap MBG. Ia menyebut menu yang dimakan berupa mix vegetables, kakap crispy, dan melon potong, tanpa mencium bau tak sedap saat mengonsumsi. Namun keesokan harinya ia merasakan keluhan, bahkan mengaku sakit perutnya masih terasa hingga dua sampai tiga minggu.
Ayah Risti, Rinto, membawa anaknya ke puskesmas dan dokter mendiagnosis keracunan makanan. Rinto mengatakan anaknya menyebut terakhir makan makaroni yang ada dalam sayuran MBG.
Dinas Kesehatan Kota Bandung mencatat 585 siswa SMP Negeri 35 mengalami muntah, mual, diare, sakit perut, hingga demam setelah menyantap MBG pada Selasa (29/04). Dinas melakukan pelacakan korban, inspeksi dapur MBG, dan uji sampel makanan. Hasilnya, ditemukan bakteri Bacillus cereus dan jamur Candida tropicalis pada sayuran dan buah melon.
Anhar Hadian, yang saat kejadian menjabat Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung, menyatakan pihaknya tidak dapat memastikan pada tahap mana kontaminasi terjadi, apakah sejak bahan masuk hingga penyajian. Namun, inspeksi kesehatan lingkungan menemukan sejumlah fasilitas yang berpotensi memicu kontaminasi, seperti penyimpanan wadah makanan (ompreng) yang terbuka dan tidak tertata serta proses pengeringan ompreng menggunakan lap kotor yang dipakai berulang.
Anhar menyimpulkan dapur MBG tersebut tidak memenuhi standar higienitas dan sanitasi sehingga dihentikan selama dua minggu sampai syarat yang direkomendasikan dipenuhi. Ia juga mengatakan dinas kesehatan tidak mengetahui secara rinci yayasan yang ditunjuk BGN sebagai pengelola SPPG. Untuk pencegahan, dinas memberikan pelatihan higienitas dan sanitasi kepada pekerja dapur MBG, mengawasi 26 dapur di Kota Bandung, dan menyebut baru 11 dapur yang telah dilatih. Dinas juga berencana menguji sampel makanan minimal sekali per bulan serta meminta perhatian pada “arsip makanan”, yakni satu set makanan yang disimpan di freezer paling lama 2x24 jam setiap kali memasak.
SPPG yang dikaitkan dengan insiden tidak merespons, satu mitra di Makassar jelaskan pola kerja
Upaya untuk menghubungi seluruh SPPG yang makanannya diklaim mengandung bakteri dan menyebabkan keracunan disebut tidak membuahkan tanggapan. Sementara itu, salah satu SPPG di Makassar, Sulawesi Selatan—Yayasan Yasika Centre Indonesia—menjelaskan pola kerja dapurnya, meski yayasan ini disebut bukan bagian dari SPPG yang diduga menyebabkan keracunan.
Ketua yayasan, Aditia, mengatakan mereka mulai menyediakan MBG pada 6 Januari 2025, serentak di 26 provinsi. Dalam sehari, yayasan itu menyiapkan 3.300 porsi untuk lima sekolah di Kecamatan Manggala, Makassar, dengan 47 pekerja yang mencakup kepala SPPI, ahli gizi, relawan memasak, mencuci, mengemas, pengemudi, hingga sekuriti. Jadwal kerja dibagi beberapa shift: memasak pukul 00.00–03.00, pengemasan pukul 03.00–07.00, dan distribusi pukul 07.00–09.00.
Aditia mengklaim menerapkan sistem Hazard Analysis Critical Control Points (HACCP) untuk mengidentifikasi dan mengendalikan bahaya dalam proses produksi makanan, namun ia tidak memaparkan detail penerapannya. Ia mengatakan bahan baku diperoleh dari pemasok yang bermitra dengan BGN, serta membuka kesempatan bagi warga sekitar untuk menjual bahan baku dengan penyesuaian ketersediaan.
Menurut Aditia, anggaran harian untuk 3.300 porsi sekitar Rp30 juta. Dalam kontrak, harga satu porsi tercantum Rp15.000, namun ia menyebut angka itu dibagi untuk kebutuhan operasional dan keuntungan SPPG. Ia menyatakan porsi makanan berkisar Rp8.000–Rp10.000, ongkos operasional Rp3.000, dan sisa Rp2.000 menjadi “hak yayasan”. Ia juga menyebut modal awal untuk membangun dapur dan membeli perlengkapan mencapai Rp2 miliar, termasuk Rp1,3 miliar untuk peralatan dapur dan makan. Ia menambahkan, agar diterima menjadi mitra, dapur harus memenuhi standar BGN, termasuk kapasitas dan kedekatan lokasi dengan sekolah sasaran.
Rentetan kasus: 13 insiden, total 1.376 siswa
Sejak uji coba hingga peluncuran program di berbagai daerah, tercatat 13 kasus dugaan keracunan. Kasus pertama disebut terjadi saat uji coba di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, awal Oktober 2024, dengan tujuh anak SD mengalami mual, sakit perut, dan muntah.
Setelah program diresmikan pada 6 Januari, insiden beruntun terjadi di beberapa wilayah: Sukoharjo (40 kasus), Nunukan (30), Empat Lawang (8), Pandeglang (40), Waingapu (29), Batang (60), Cianjur (165), Bombana (13), Karanganyar (3), Kota Bandung (585), PALI (173), dan Kota Bogor (223). Total keseluruhan yang disebut adalah 1.376 siswa mengalami dugaan keracunan.
Pakar gizi: “Tidak bisa ditolerir”, minta program dihentikan sementara
Dokter sekaligus ahli gizi masyarakat Tan Shot Yen menilai jumlah korban yang mencapai lebih dari seribu tidak dapat ditolerir karena menyangkut nyawa manusia. Ia menyarankan pelaksanaan MBG dihentikan sementara untuk evaluasi menyeluruh agar insiden tidak berulang.
Tan menjelaskan kontaminasi bakteri dan jamur dalam makanan berbahaya bagi semua usia. Ia memaparkan beberapa kemungkinan sumber kontaminasi: kesalahan memasak yang membuat makanan tidak matang, kondisi kesehatan dan perilaku higienitas pekerja dapur, bahan baku yang tidak segar dan penyimpanan yang tidak sesuai (termasuk kestabilan suhu lemari pendingin), kebersihan dapur dan peralatan yang dapat memicu kontaminasi silang, serta proses pengemasan dan pengantaran yang harus menjaga suhu makanan agar tetap di atas 60 derajat Celsius. Ia menyebut rentang 5–60 derajat sebagai “zona bahaya” karena memungkinkan bakteri dan jamur tumbuh.
Tan juga menyampaikan saran agar pemerintah menggandeng pengelola kantin sekolah untuk menyediakan MBG karena lokasinya dekat dan dapat dididik mengikuti aturan. Ia menyebut penyajian prasmanan bisa menjadi opsi sekaligus melatih ketertiban siswa. Selain itu, ia menyarankan keterlibatan orang tua, dinas kesehatan, dinas pendidikan, dan puskesmas untuk menampung masukan menu serta memantau pelaksanaan program.
Menurut Tan, program juga perlu tepat sasaran dan diprioritaskan untuk anak-anak di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal). Ia menekankan tolok ukur bukan hanya jumlah penerima, tetapi juga respons anak-anak dan dampaknya terhadap kesehatan.
Pemerintah menilai program berhasil 99,99%
BGN sebelumnya mengklaim hingga April 2025 sekitar 3,3 juta anak sekolah telah menerima MBG dan menargetkan 6 juta penerima pada Agustus. Presiden Prabowo Subianto menyebut keberhasilan program mencapai 99,99% meski ada kasus keracunan. Dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan awal Mei, Prabowo mengatakan korban keracunan berada “di bawah 200 orang” dari lebih dari tiga juta penerima dan menyebut persentasenya sekitar 0,005%.
Sampai berita ini diterbitkan, BGN disebut belum menanggapi pertanyaan yang dikirimkan sejak Senin (09/06).
Orang tua melarang anak konsumsi MBG
Di tengah evaluasi dan perdebatan soal kelanjutan program, sejumlah orang tua memilih langkah pencegahan sendiri. Irma mengaku telah berpesan kepada guru agar anaknya tidak diberi MBG dulu karena masih takut. Fitri juga memperingatkan anaknya untuk tidak lagi memakan MBG di sekolah; jika mendapat paket, ia meminta dibawa pulang dan akan mencicipinya terlebih dahulu di rumah. Sementara Rinto mengatakan ia melarang anaknya mengonsumsi MBG dan kini anaknya membawa bekal sendiri karena khawatir kejadian serupa terulang.

