Novel Toko Jajanan Ajaib Zenitendo 2 karya Reiko Hiroshima kembali menghadirkan konsep “toko ajaib” dengan pendekatan berbeda. Alih-alih menjual benda-benda sihir, Zenitendo menawarkan aneka jajanan dengan nama unik yang dikemas sebagai pemicu peristiwa-peristiwa magis bagi para pembelinya.
Sekuel ini melanjutkan daya tarik buku pertama yang disebut berhasil menarik perhatian pembaca luas dan meraih status best seller. Dalam perkembangannya, kisah Zenitendo juga disebut telah diadaptasi menjadi anime, serta direncanakan untuk diadaptasi menjadi drama Korea yang dibintangi Ra Mi-ran dan Lee Re.
Di Indonesia, buku pertama dan kedua telah diluncurkan dan diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia pada 12 November 2023.
Profil penulis
Reiko Hiroshima dikenal sebagai novelis asal Jepang yang menulis serial Toko Jajanan Ajaib Zenitendo. Dalam data yang tersedia, ia disebut lahir pada 18 Januari 1981. Informasi lain mengenai dirinya tidak banyak dipaparkan, namun dua buku fantasinya dinilai memiliki tema yang unik.
Sinopsis: toko yang hanya menerima “pembeli terpilih”
Seperti buku pertama, Toko Jajanan Ajaib Zenitendo 2 berpusat pada Nyonya Beniko, pemilik toko yang jajanan-jajanannya dikisahkan mampu mengabulkan keinginan manusia. Namun, tidak semua orang bisa berbelanja di sana. Hanya mereka yang “terpilih” oleh Nyonya Beniko dan toko Zenitendo yang dapat membeli jajanan magis tersebut.
Novel ini menyajikan enam kisah dengan porsi tersendiri. Enam tokoh itu hadir dengan latar dan motivasi yang berbeda: seorang pencuri kelas teri berusia 46 tahun yang ingin menjadi pencuri ulung, seseorang yang ingin mengobati orang sakit, tokoh yang ingin menjadi dukun, tokoh yang ingin mahir bermain musik, tokoh yang ingin membalas dendam, serta tokoh yang hanya ingin punya teman mengobrol karena kesepian.
Meski jajanan Zenitendo menjanjikan jalan menuju keinginan, cerita tidak selalu berakhir sesuai harapan. Para pembeli diwajibkan mematuhi aturan Nyonya Beniko. Jika melanggar, nasib buruk disebut akan menghampiri. Konflik pun berkembang dari kelemahan manusia seperti ketamakan dan iri hati, serta pilihan para tokoh dalam menyikapi aturan yang tampak sederhana.
Enam jajanan yang menjadi pusat cerita
Nama-nama jajanan tetap menjadi ciri khas serial ini. Dalam buku kedua, kisah berfokus pada enam jajanan: roti gulung pencuri, tas dokter permen soda, kerupuk beras dewa rubah, camilan musik, kartu balas dendam, dan teh jamuan tamu. Jajanan-jajanan tersebut diberikan berdasarkan permintaan atau keinginan terpendam para tokoh, lalu menjadi pemantik rangkaian peristiwa ketika mereka mencoba mewujudkan impian masing-masing.
Salah satu kisah yang diperkenalkan sejak awal adalah tokoh Hidemoto, pencuri yang disebut telah melakukan aksi pencurian sejak muda dan bertekad menjadi pencuri setelah berhasil mencuri kue jeli. Cerita-cerita lain bergerak dengan fokus pada kehidupan pribadi para tokohnya.
Gaya penceritaan dan elemen pendukung
Dalam ulasan yang tersedia, novel ini dinilai menggunakan gaya bahasa yang ringan, mengalir, dan tidak bertele-tele. Diksi yang sederhana membuat cerita mudah diikuti oleh berbagai kalangan, terutama pembaca anak dan remaja. Karakter Nyonya Beniko juga digambarkan memiliki kesan misterius dan dirancang cukup kuat agar tetap menonjol di tengah enam tokoh pembeli.
Salah satu kutipan yang disertakan menggambarkan cara penulis memperkenalkan sosok Nyonya Beniko: “Bayangan itu rupanya seorang wanita bertubuh besar. Tingginya kira-kira dua kepala lebih tinggi daripada Hidemoto. Ia mengenakan kimono ungu kemerahan, rambutnya dihiasi banyak jepitan. Meskipun rambutnya sudah beruban, wajahnya masih terlihat muda. Bibirnya yang merah menyunggingkan senyum misterius dan penuh makna.”
Novel ini juga memuat ilustrasi yang disebut mendukung visualisasi cerita, termasuk pada bagian judul bab. Selain itu, unsur budaya Jepang hadir melalui penamaan tertentu, misalnya “soda Tengu” yang dikaitkan dengan mitologi Jepang.
Kelebihan dan kekurangan
Sejumlah kelebihan yang disorot mencakup alur yang langsung membawa pembaca ke inti cerita, penokohan yang disertai latar belakang, serta pesan moral yang menyinggung sisi realistis kehidupan manusia. Penamaan jajanan yang unik dan keberadaan ilustrasi juga dinilai memperkuat nuansa “ajaib” Zenitendo.
Sementara itu, kekurangan yang dicatat adalah genre dan premisnya dianggap lebih cocok untuk pembaca usia 13 tahun ke bawah, serta cerita dinilai belum banyak mengungkap misteri asal-usul toko Zenitendo.
Pesan moral
Pesan yang paling ditekankan dalam novel ini adalah dampak ketamakan dan iri hati yang dapat merusak masa depan. Melalui enam kisah pembeli Zenitendo, cerita mengingatkan bahwa keinginan manusia perlu diimbangi dengan sikap bijak dan kepatuhan pada konsekuensi dari pilihan yang diambil.
Dengan pendekatan fantasi yang ringan dan berisi cerita-cerita terpisah, Toko Jajanan Ajaib Zenitendo 2 diposisikan sebagai bacaan yang hangat sekaligus menyimpan peringatan tentang sifat manusia.

