Distribusi ribuan porsi makanan bergizi gratis (MBG) untuk siswa dan posyandu di Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat, sempat terancam tidak tepat waktu setelah pengiriman bahan baku terlambat akibat kemacetan di Jalan Gatot Subroto, Rabu (24/9) sore.
Kepala Satuan Pelaksana Pemenuhan Gizi (SPPG) Bendungan Hilir, Denny Abdullah Nugraha, mengatakan bahan baku yang seharusnya tiba pada sore hari baru diterima sekitar pukul 21.00 WIB. Keterlambatan itu menimbulkan kekhawatiran karena dapur SPPG Benhil harus menyiapkan 3.419 porsi setiap hari.
Meski bahan baku datang larut, puluhan relawan dapur segera bekerja untuk mengejar waktu. Mereka lembur hingga malam untuk memotong sayuran, mengolah lauk, dan memastikan paket makanan siap disalurkan keesokan harinya ke enam sekolah dan satu posyandu.
Denny menyebut kendala terbesar biasanya terjadi pada pengolahan sayuran seperti wortel dan buncis yang jumlahnya sangat banyak dan harus diproses cepat. Ia menilai kekompakan tim menjadi faktor penentu agar seluruh pekerjaan tetap selesai sesuai kebutuhan.
SPPG Bendungan Hilir menjalankan operasional dengan 49 personel, yang terdiri dari 47 relawan, satu ahli gizi, dan satu akuntan. Sejak program MBG dimulai pada 15 September, dapur ini melayani siswa SDN Benhil 01, 05, 09, dan 12, SMPN 40, SMKN 19, serta Posyandu Nusa Indah 1 untuk 150 balita dan ibu hamil.
Menurut Denny, antisipasi dan koordinasi diperlukan untuk menghadapi situasi darurat, dengan tetap menjaga keamanan makanan. Ia menekankan pentingnya memastikan makanan aman dan bermanfaat, serta mencegah kejadian seperti keracunan.
Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) menyatakan komitmen untuk memperluas jangkauan program MBG ke daerah lain. Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, mengatakan kolaborasi dengan platform digital diharapkan dapat mempercepat distribusi makanan, dengan Kemkomdigi berperan sebagai penghubung agar sinergi tersebut berdampak nyata bagi masyarakat.

