Ramadan kerap dipahami sebagai bulan untuk memperkuat ibadah puasa dan meningkatkan kualitas beragama. Namun, perubahan pola makan selama Ramadan juga dapat dimanfaatkan sebagai titik awal membangun kebiasaan hidup sehat dalam keluarga, termasuk meningkatkan kesadaran gizi.
Salah satu langkah yang disarankan adalah menjadikan momen sahur dan berbuka puasa sebagai awal penerapan gizi seimbang. Keluarga dapat dikenalkan pada komposisi makan yang mencakup karbohidrat, protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral, disertai kebiasaan mengonsumsi sayur dan buah.
Dalam tulisan tersebut, diperkenalkan rumus sederhana pembagian porsi: setengah porsi untuk sayur dan buah, seperempat porsi untuk karbohidrat, serta seperempat porsi untuk protein. Dengan pendekatan ini, keluarga diharapkan tidak hanya merasa kenyang, tetapi juga memperoleh asupan nutrisi yang memadai.
Selain itu, perencanaan menu selama Ramadan dinilai penting untuk menghindari pola konsumsi yang kurang seimbang. Disebutkan bahwa sebagian keluarga kerap menyajikan takjil manis dan gorengan secara berlebihan saat berbuka puasa. Karena itu, disarankan untuk membatasi gorengan dan makanan manis.
Perencanaan juga dinilai relevan ketika menghadiri buka bersama, misalnya di hotel, yang biasanya menyediakan banyak pilihan pencuci mulut manis. Dalam konteks ini, protein berkualitas seperti telur, ikan, tahu, dan tempe dapat diprioritaskan. Sementara sumber karbohidrat disarankan dibuat bervariasi, seperti nasi merah, kentang, atau ubi.
Upaya membangun keluarga sadar gizi juga dapat diperkuat melalui edukasi. Bentuknya dapat berupa mengikuti penyuluhan gizi selama Ramadan secara daring, seminar, kegiatan komunitas, atau demo memasak sehat yang rendah gula dan minyak.
Di sisi lain, keluarga juga diingatkan untuk mencukupi kebutuhan cairan. Anjuran yang disampaikan adalah memperbanyak minum air putih saat berbuka dan sahur guna membantu mencegah dehidrasi.

