BERITA TERKINI
Putu Mayang, Takjil Khas Betawi yang Dikaitkan dengan Cerita Rakyat Jampang Mayangsari

Putu Mayang, Takjil Khas Betawi yang Dikaitkan dengan Cerita Rakyat Jampang Mayangsari

Putu mayang dikenal sebagai salah satu jajanan tradisional khas Betawi. Selain kerap hadir sebagai kuliner legendaris, makanan ini juga dikaitkan dengan cerita rakyat Betawi berjudul Jampang Mayangsari.

Dalam kisah tersebut, kata “mayang” digambarkan sebagai sesuatu yang berombak, bergelung-gelung, dan indah. Gambaran itu disebut menjadi inspirasi bentuk putu mayang yang berombak serta bergelung-gelung, menyerupai selendang yang berkibaran tertiup angin. Penampilannya pun kerap dibuat berwarna-warni.

Secara lebih spesifik, putu mayang memiliki bentuk menyerupai untaian benang. Selain dikaitkan dengan cerita rakyat, jajanan ini juga disebut menjadi cerminan sejarah dan mitos yang berkembang secara turun-temurun.

Berdasarkan tutur lisan, putu mayang juga dikaitkan dengan kue asal India, yakni kue mayam. Hal ini disinyalir berhubungan dengan posisi Batavia pada masa Hindia Belanda sebagai pelabuhan dan pusat perdagangan. Interaksi sosial di wilayah tersebut disebut turut mendorong masyarakat Betawi membuat kue yang serupa dengan kue mayam.

Versi lain menyebut putu mayang terinspirasi dari kebiasaan masyarakat Tionghoa yang gemar mengonsumsi mi. Bentuk putu mayang yang bergelombang kerap dianggap mirip dengan mi, selain juga diasosiasikan dengan selendang tertiup angin dan untaian benang.

Dalam tradisi masyarakat Betawi, putu mayang biasanya dihidangkan sebagai takjil saat Ramadan atau camilan setelah salat Tarawih. Di luar Ramadan, jajanan ini juga dapat dinikmati kapan saja.

Putu mayang asli Betawi memiliki ciri khas warna putih seperti beras, dengan gumpalan adonan yang tipis dan kecil. Meski demikian, putu mayang juga kerap dibuat dalam warna-warna mencolok, seperti hijau, merah muda, kuning, atau warna lain sesuai selera pembuatnya.

Dari sisi bahan, putu mayang dibuat menggunakan tepung beras, tepung tapioka, garam, santan, serta pewarna makanan. Penyajiannya umumnya dilengkapi sirup gula merah yang dibuat dari campuran gula merah, gula pasir, santan encer, garam, dan daun pandan.