Bepergian tidak hanya soal mendatangi tempat baru, tetapi juga berinteraksi dengan budaya setempat, termasuk lewat makanan. Meski begitu, tidak semua orang nyaman mencoba kuliner lokal saat liburan. Sejumlah orang justru memilih bertahan pada menu yang sudah familiar, dan psikologi mencoba menjelaskan kecenderungan tersebut.
Menurut ulasan yang dilansir dari Geediting, ada tujuh perilaku yang kerap ditemukan pada orang yang jarang mencoba makanan lokal ketika bepergian. Berikut rangkumannya.
1. Takut pada hal yang tidak diketahui
Sebagian pelancong menghindari makanan baru karena rasa takut terhadap sesuatu yang belum dikenalnya. Sikap ini dapat berangkat dari naluri dasar untuk bertahan hidup: memilih yang aman dan sudah teruji. Berpegang pada makanan familiar dianggap mengurangi risiko tidak cocok dengan rasa, atau mengalami reaksi yang tidak diinginkan.
2. Kebutuhan untuk mengendalikan
Ada pula orang yang merasa lebih tenang ketika bisa mengontrol pilihan makanannya. Mereka bahkan dapat menghabiskan waktu untuk mencari restoran yang menyajikan menu yang sudah dikenal, alih-alih mencoba hidangan khas setempat. Kebutuhan untuk mengendalikan ini bisa tampak dalam kebiasaan memilih makanan yang familiar atau menjalankan rencana dan rutinitas yang ketat.
3. Pengaruh pola asuh
Preferensi makanan kerap terbentuk sejak kecil. Mereka yang dibesarkan dalam keluarga yang tidak mendorong mencoba makanan baru, bisa membawa kebiasaan itu hingga dewasa. Saat bepergian, pola tersebut muncul kembali lewat pilihan pada menu yang sudah akrab.
4. Peka terhadap rasa dan bau
Tidak semua orang memiliki sensitivitas yang sama terhadap rasa dan aroma. Mereka yang lebih peka dapat menjadi lebih selektif dan cenderung menghindari makanan dengan rasa atau bau kuat—yang sering dijumpai pada masakan lokal di berbagai tempat. Dalam situasi ini, kepekaan indra dapat mengalahkan rasa ingin tahu.
5. Nyaman dengan keakraban
Di tengah lingkungan baru, bahasa berbeda, dan situasi yang asing, makanan yang familiar bisa memberi rasa nyaman. Karena itu, memilih menu yang dikenal tidak selalu berarti menolak budaya setempat, melainkan mencari sensasi “normal” atau rasa seperti di rumah ketika berada jauh dari keseharian.
6. Takut ketinggalan
Meski terdengar bertentangan, terlalu banyak pilihan makanan di tempat baru bisa memicu tekanan untuk memilih yang paling tepat. Kondisi ini dapat berujung pada kelumpuhan keputusan: takut salah memilih dan melewatkan opsi yang lebih baik, sehingga akhirnya kembali pada pilihan yang sudah dikenal. Barry Schwartz dalam gagasan “The Paradox of Choice” membahas bagaimana banyaknya pilihan dapat memicu kecemasan dan stres.
7. Pembatasan makanan
Pantangan makanan juga menjadi alasan penting. Alergi, intoleransi, atau keyakinan pribadi dapat membatasi ruang gerak seseorang dalam memilih makanan saat bepergian. Dalam kondisi ini, menjaga kendali atas asupan menjadi bagian dari upaya melindungi kesehatan dan kesejahteraan.
Pada akhirnya, kebiasaan tidak mencoba kuliner lokal saat liburan tidak selalu berarti seseorang menolak pengalaman budaya. Ada berbagai faktor psikologis dan kondisi personal yang dapat memengaruhi pilihan tersebut, termasuk rasa aman, kebutuhan kontrol, hingga pembatasan makanan.

