BERITA TERKINI
Program Makan Bergizi Gratis Prioritaskan Ibu Hamil, Menyusui, dan Balita untuk Tekan Stunting

Program Makan Bergizi Gratis Prioritaskan Ibu Hamil, Menyusui, dan Balita untuk Tekan Stunting

Upaya menurunkan angka stunting di Indonesia dinilai perlu lebih terarah pada fase paling krusial dalam siklus kehidupan, yakni masa kehamilan hingga awal kehidupan anak. Karena itu, intervensi gizi pada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita—dikenal sebagai kelompok 3B—dipandang strategis untuk memastikan generasi mendatang tumbuh sehat dan berkualitas.

Dalam kerangka tersebut, program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang memprioritaskan kelompok 3B disebut menempatkan fokus pada periode emas 1.000 hari pertama kehidupan (HPK), yang menjadi penentu utama tumbuh kembang anak. Intervensi gizi yang dilakukan konsisten sejak masa kehamilan hingga awal kehidupan anak diyakini dapat menekan risiko stunting secara signifikan, sekaligus menjadi investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia.

Pemerintah melalui Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengandalkan MBG kategori 3B sebagai strategi untuk mengatasi stunting sejak dini. Program ini juga disebut menjadi bagian dari komitmen Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam pembangunan sumber daya manusia, terutama melalui pemenuhan gizi pada periode 1.000 HPK.

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji, mengatakan MBG 3B sejalan dengan target penurunan prevalensi stunting nasional sebesar 18,8% pada 2026. Ia menekankan empat prioritas untuk mendukung keberhasilan program, yakni penguatan kapasitas kader dan penyuluh KB sebagai garda terdepan, peningkatan akurasi data berbasis by name by address, penguatan kepemimpinan lapangan, serta optimalisasi komunikasi publik melalui media sosial.

Wihaji juga menilai keberhasilan MBG 3B bergantung pada sinergi lintas sektor, termasuk kolaborasi dengan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan pemerintah daerah. Pendekatan multisektor tersebut melibatkan puskesmas, posyandu, pemerintah desa, hingga sektor pendidikan agar edukasi dan intervensi gizi berjalan berkelanjutan.

Dari sisi pelaksanaan, menu MBG untuk kelompok 3B disusun sesuai kebutuhan gizi. Sekretaris Deputi Bidang Sistem dan Tata Kelola Badan Gizi Nasional (BGN), Ermia Sofiyessi, menjelaskan bahwa menu MBG kategori 3B terdiri atas makanan siap santap dan paket sehat. Frekuensi serta waktu pengiriman paket MBG telah diatur dalam petunjuk teknis yang tercantum pada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 115 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Program MBG.

Ermia menjelaskan, MBG siap santap untuk ibu hamil dan menyusui merupakan makanan lengkap yang mengandung karbohidrat, protein, serat, dan lemak sesuai angka kecukupan gizi (AKG) yang ditentukan ahli gizi. Sementara paket MBG sehat berisi minuman khusus untuk ibu hamil atau menyusui yang dilengkapi telur dan buah.

Adapun untuk balita non-PAUD usia 0–2 tahun, paket MBG siap santap juga berupa makanan lengkap sesuai AKG. Paket MBG sehat untuk kelompok ini terdiri atas makanan pendamping ASI (MPASI) dan buah, dengan tekstur yang disesuaikan dengan kebutuhan bayi di bawah usia dua tahun.

Dalam pelaksanaannya, Ermia mendorong seluruh kepala SPPG untuk aktif mendata ibu hamil, menyusui, dan balita melalui koordinasi dengan puskesmas, posyandu, dan kelurahan. Setelah pendataan, SPPG dapat menyiapkan MBG sesuai standar gizi seimbang serta pemorsian berdasarkan kelompok usia.

Ermia menambahkan, penjadwalan distribusi MBG bagi kelompok 3B dilakukan berdasarkan kesepakatan dengan posyandu atau melalui pengaturan bersama kader. Mekanisme penyaluran dapat berupa pengantaran oleh kader ke rumah atau diambil sendiri oleh ibu hamil dan ibu menyusui, serta dapat disesuaikan dengan jadwal posyandu.

Untuk wilayah terpencil, BGN disebut telah mendesain skema distribusi yang telah diterapkan di sejumlah SPPG. Selain mendistribusikan MBG, peran kader dinilai penting dalam memberikan edukasi kepada penerima manfaat 3B.

Secara keseluruhan, prioritas MBG bagi kelompok 3B dipandang menunjukkan arah kebijakan yang menempatkan intervensi gizi pada titik paling menentukan dalam siklus kehidupan manusia. Program ini tidak hanya diposisikan sebagai bantuan pangan, tetapi juga sebagai upaya memastikan generasi tumbuh dengan gizi cukup sejak awal kehidupan.

Keberlanjutan program, penguatan kolaborasi lintas sektor, serta partisipasi aktif masyarakat disebut menjadi kunci agar manfaat MBG 3B dapat dirasakan lebih luas. Jika dijalankan konsisten, program ini dinilai dapat menjadi fondasi bagi lahirnya generasi Indonesia yang sehat, tangguh, dan berdaya saing.