Penelitian yang dipaparkan dalam The 5th International Conference on Public Health 2024 menemukan bahwa 82 persen anak sekolah dasar memiliki pola makan yang tidak sehat, terutama saat mengonsumsi makanan di sekolah. Di banyak sekolah, anak-anak terpapar jajanan tinggi gula, garam, dan lemak, serta minuman dengan kandungan pemanis tinggi. Kondisi ini membuat anak kian akrab dengan makanan instan—rasa gurih dari makanan kemasan atau manis pekat dari minuman botol—dibanding rasa alami sayur dan buah.
Padahal, masa sekolah dasar kerap disebut sebagai periode penting pertumbuhan. Paparan makanan tidak sehat dinilai dapat meningkatkan risiko obesitas, kekurangan gizi, gangguan metabolisme, hingga masalah kesehatan jangka panjang. Karena itu, pembiasaan makan sehat sejak dini menjadi salah satu perhatian, termasuk melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang akan dimulai pada awal 2025.
MBG dirancang sebagai upaya memperbaiki kualitas gizi anak-anak Indonesia. Program ini ditujukan tidak hanya untuk mengatasi persoalan gizi kronis seperti kekurangan gizi, stunting, dan anemia, tetapi juga sebagai langkah strategis menghadapi pola makan anak yang semakin dipengaruhi jajanan tinggi gula, garam, dan lemak.
Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Sleman, Arsono Beduwaliyo, menjelaskan menu MBG harus memenuhi komponen gizi seimbang. “Di dalamnya harus ada karbohidrat seperti nasi misalnya, kemudian harus ada protein yang kita dapat dari lauk seperti sayur, ikan, telur, maupun daging. Kemudian juga ada komponen sayur, komponen buah, kemudian juga ada komponen yang lainnya seperti susu,” kata Arsono.
Setiap siswa direncanakan mendapat satu kali makan bergizi gratis setiap hari di sekolah. Pemerintah berharap, melalui menu lengkap berisi karbohidrat, protein, sayur, buah, serta susu, anak-anak terbiasa melihat dan menikmati makanan sehat. Arsono menekankan MBG juga menjadi sarana pembelajaran. “Beberapa hal yang wajib di dalam menu MBG, karena ini juga salah satunya adalah pembelajaran buat anak-anaknya supaya mereka terbiasa melihat makanan yang sehat,” ujarnya.
Di SD Negeri 1 Sendangadi, Guru Kelas 4B Fitri menilai menu MBG yang diterima murid sudah mencakup unsur gizi utama. “Kalau menurut saya, yang jelas sudah ada protein, sudah ada karbohidratnya, seratnya dari sayuran dan buah, itu saya rasa sudah cukup,” kata Fitri.
Pengolahan hingga distribusi
Arsono menjelaskan, pelaksanaan MBG disiapkan melalui sistem pengolahan dan distribusi yang terstruktur. Pemilihan bahan baku dilakukan melalui proses ketat, sementara jeda antara makanan matang dan siap konsumsi diupayakan sesingkat mungkin.
“Proses pemilahan bahan baku dimulai sekitar pukul 5 sore. Kemudian bahan baku yang sudah diterima dan diuji kualitasnya itu mulai pemprosesan sekitar pukul 7 malam. Kemudian setelah dipotong-potong tidak langsung dimasak karena kita mencoba meminimalkan jarak antara matang dan siap konsumsi. Jadi, biasanya proses memasaknya sendiri dimulai sekitar pukul 3 dini hari dengan harapan pukul 4 ataupun setengah 5 lah kita mendapatkan makanan yang sudah siap saji dan siap porsi. Jam setengah 8, itu sudah bisa kita distribuskan ke sekolah dan harapannya juga akan segera dikonsumsi dalam batas waktu 0 sampai 4 jam,” ujar Arsono.
Menurutnya, makanan yang sudah matang diharapkan segera dikonsumsi di sekolah dan tidak dibawa pulang, sehingga distribusi harus cepat dan tepat waktu untuk menjaga kualitas rasa dan nilai gizi.
Untuk wilayah Yogyakarta, KPPG Sleman menargetkan 315 SPPG dan saat ini telah tercapai 145 SPPG. Sementara di Sleman, target 94 SPPG dengan capaian sekitar 66 SPPG. “Harapannya tahun ini dengan percepatan seluruh dapur dapat beroperasi. Tentunya dengan kualitas yang lebih bagus daripada pada saat awal-awal pemberlakuan MBG ini,” tutur Arsono.
Di sekolah, pendistribusian makanan melibatkan perangkat sekolah. Fitri menjelaskan pembagian biasanya dilakukan menjelang istirahat pertama dan dibantu guru untuk dibagikan ke kelas. “Untuk satu kelas itu ada sekitar rata-rata itu ada sekitar 25–28 siswa. Jadi, kemungkinan untuk waktu pelaksanaan MBG-nya sekitar 20 menit itu dengan cuci tangannya,” ujarnya.
Penjadwalan ini juga diharapkan dapat mengurangi dorongan anak membeli jajanan kurang sehat di luar sekolah setelah makan.
Respons siswa dan tantangan menu
Dutro, siswa kelas 4B SD Negeri 1 Sendangadi, mengatakan sebelum ada MBG ia biasa membawa uang jajan untuk membeli makanan di kantin atau pedagang sekitar sekolah. Setelah program berjalan, ia merasa tidak perlu mengeluarkan uang untuk makan dan sebagian uang jajannya bisa ditabung. “Jajan sehari kadang Rp5.000, kadang Rp8.000, kadang Rp10.000. Enak MBG karena nggak bayar dan dapat makan lengkap,” ujarnya.
Ia juga menyebut menu yang diterimanya lengkap. “Hari ini makan ayam, sayur, tahu, sama kelengkeng, sama susu, sama nasi. Rasanya enak. Paling suka kalo MBG dapat lauk ayam,” kata Dutro.
Namun, menyajikan menu sehat yang tetap sesuai selera anak menjadi tantangan. Fitri menyebut sebagian anak terbiasa dengan makanan cepat saji yang cenderung gurih. “Mungkin karena anak-anak terbiasa makanan yang fast food, itu kan biasanya gurih, jadi kadang anak-anak banyak requestnya. Biasanya setelah makan mereka tempelkan kertas berisi request menu yang mereka mau,” ujarnya.
Meski demikian, guru berupaya memberi pemahaman bahwa MBG adalah makanan bergizi dengan kadar gula dan garam yang diatur. “Kita harapkan MBG ini kan adalah makanan bergizi, jadi mungkin kadar gula dan garamnya pun dikurangi. Ya kita beri informasi dan motivasi ke anak-anak bahwa makanan yang disediakan adalah makakan yang memang bergizi yang kadar garam dan kadar gulanya sudah diatur,” kata Fitri.
Fitri menambahkan, kebiasaan jajan murid berkurang setelah MBG berjalan. Sekolah juga menerapkan pembatasan jajan di luar. “Jadi berkurang untuk jajannya. Kita itu memang jajannya dibatasi. Memang ada kantin, tetapi jadwal jajan di luar selain hari Senin dan hari Jum’at gerbang sekolah kami tutup. Jadi, jajannya khusus di kantin saja,” ujarnya.
Antusiasme anak terlihat dari kebiasaan mereka menunggu makanan datang. “Kalau misalnya telat datang 5 menit saja itu sudah ditanya ‘Bu MBG-nya kok belum datang?’ Terus mereka pasti penasaran, menu hari ini apa,” ucap Fitri. Ia berharap program berlanjut dengan variasi menu lebih beragam, tetap bergizi, dan bisa menyesuaikan selera anak.
Dari sisi pelaksana, Arsono menilai tantangan terbesar adalah menyelaraskan waktu pengantaran dengan kesiapan sekolah agar makanan segera dikonsumsi. “Tantangan yang terberat barangkali adalah kita berusaha mencari kombinasi yang pas... kita berupaya mencari titik temu yang pas antara pengantaran dengan kesiapan penerima manfaat untuk segera mengonsumsi masakan ini. Sebab, beda sekolah beda juga jam kegiatan belajarnya,” ujarnya.
Arsono berharap MBG berkontribusi pada terciptanya generasi yang lebih sehat di masa depan. “Harapan utamanya di 2045 kita akan mendapatkan generasi yang unggul, berkualitas, dan tentunya dengan cakupan gizi yang memadai,” katanya. Ia juga menilai program ini berdampak lebih luas, termasuk pada penyerapan tenaga kerja, perputaran ekonomi, dan ketahanan pangan.

