Program Studi S1 Pendidikan Tata Boga Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta (FT UNJ) menggelar Festival Kuliner Betawi bertajuk “Ngulik Dapur Betawi: Rasa, Cerita, dan Kreasi” pada Kamis, 4 Juli 2025, di Aula Bung Hatta, Kampus UNJ, Jakarta. Kegiatan ini ditujukan untuk memperkenalkan kekayaan kuliner Betawi kepada generasi muda sekaligus mendorong pelestarian warisan budaya melalui kreasi makanan tradisional.
Festival tersebut merupakan proyek pembelajaran mahasiswa angkatan 2024. Suasana acara dikemas dengan nuansa Betawi, mulai dari penggunaan pakaian adat oleh peserta, dekorasi tradisional di ruangan, hingga iringan musik khas Betawi.
Dalam festival ini, mahasiswa menampilkan 31 jenis makanan dan minuman khas Betawi. Beberapa di antaranya Ketan Tetel, Urap Betawi, Gabus Pucung, Sayur Godog, Sambal Goang, Nasi Ulam, Kue Ongol-ongol, Kue Rangi, Pancong Gula, Sate Lembut, Gorengan Betawi, Sate Asam, Dodol, Bruluk, Kue Sengkulun, Pesmol Ikan Bandeng, Gado-gado, Kerak Telor, Kue Lupis, Putu Mayang, Pecak Gurame, Bubur Ase, Sayur Babanci, Sayur Kunci, Cincau, Nasi Uduk Minyak, Talam Ebi, Asinan Betawi, Selendang Mayang, dan Bir Pletok.
Ketua pelaksana kegiatan, Alifah Haya Maulida, menyampaikan apresiasi kepada peserta dan panitia. Ia menekankan bahwa festival bukan sekadar ajang menunjukkan keterampilan memasak, tetapi juga ruang untuk memahami sejarah serta cerita di balik setiap hidangan.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya memahami teknik memasak, tetapi juga mengenal nilai budaya dan cerita yang terkandung dalam setiap sajian,” ujar Alifah.
Dosen pengampu mata kuliah Pengolahan Makanan Nusantara, Cucu Cahyana, menyampaikan bahwa kuliner Betawi merupakan hasil akulturasi budaya Tionghoa, Melayu, dan Belanda. Ia menilai festival ini penting karena sejumlah makanan khas Betawi mulai jarang dikenal generasi muda.
“Banyak anak muda tidak mengenal makanan seperti sate asam atau kue sengkulun. Inilah alasan mengapa festival ini penting untuk diselenggarakan,” ungkapnya. Ia menambahkan, mahasiswa didorong mengemas kuliner tradisional dengan sentuhan modern agar lebih menarik dan relevan bagi masyarakat saat ini.
Dekan Fakultas Teknik UNJ, Prof. Neneng Siti Silfi Ambarwati, hadir sekaligus membuka acara secara resmi. Ia menyebut kegiatan ini sebagai bagian dari implementasi kurikulum Outcomes Based Education (OBE), yang menekankan pembelajaran tidak hanya berlangsung di kelas, tetapi juga melalui pengalaman langsung.
“Melalui kegiatan budaya seperti ini, mahasiswa belajar mengolah rasa, memahami identitas budaya, dan mengembangkan kreativitas dalam menyajikan makanan yang indah dan menggugah selera,” jelas Prof. Neneng.
Sejumlah mahasiswa peserta turut berbagi pengalaman proses memasak. Nurul Aini dan Nazrin Yulandia, yang menyajikan Sate Lembut, Gorengan Betawi (Gulai Betawi), dan Sate Asem, mengatakan pembuatan Sate Lembut menjadi tantangan tersendiri karena menuntut tekstur daging yang sangat halus serta ketelitian saat menggiling dan menyatukan bahan.
“Membuat Sate Lembut cukup menantang. Dagingnya harus sangat halus karena sesuai dengan namanya, dan proses pemanggangan juga harus dilakukan dengan suhu yang stabil agar tidak gosong,” ujar Nazrin.
Keduanya berharap Festival Kuliner Betawi dapat memperkaya pengetahuan mahasiswa mengenai kuliner tradisional. Selain mempelajari teknik memasak, mereka juga merasa memperoleh pemahaman tentang cerita dan nilai budaya yang melekat pada setiap sajian khas Betawi.

